Fatchurohman Sulap Kain Batik Bekas Jadi Kolase Bernilai Jutaan Rupiah

“Bangunlah sebuah perusahaan dengan rasa suka dan hobi. Karena kalau kita merasa enjoy akan ada rasa kepemilkian yang tinggi dan keberlanjutan yang konsisten. Jika kita menjalankan usaha dengan tanpa rasa suka, hobi dan cinta pekerjaan itu maka satu bulan dua bulan juga akan berhenti,” tulis Head of Marketing Fatch Craft, Ilmi Abu Iza.

Bisnis kerajinan tangan kian digemari oleh berbagai lapisan masyarakat. Bahkan penjualan kerajinan tangan asal Indonesia yang memiliki nilai tambah tidak hanya laku di pasar dalam negeri, tetapi juga hingga ke berbagai negara.

Baca juga: Ambil Untung Berbisnis Resto Khas Malaysia Oldtown White Coffee

Masih soal kerajinan tangan, Anda mungkin mengenal dan tahu apa itu kolase. Ya, kolase adalah karya seni rupa dua dimensi yang menggunakan berbagai bahan kemudian ditempelkan pada permukaan gambar.  Di Indonesia, jumlah pengrajin kolase masih terbilang sedikit sementara pasarnya terbilang cukup besar.

Nah bagi kalian yang belum memiliki ide dan rencana membuka usaha, kolase adalah peluang bagus dan mungkin menjadi pilihan yang tepat bagi Anda. Lalu yang menjadi pertanyaan, bagaimana dengan modal, bahan baku dan cara pengerjaannya? Berikut ini adalah penjelasannya.

Foto: Salah satu desain kolase Fatch Craft/Dok: indotrading.com
Foto: Salah satu desain kolase dengan tema jemuran batik karya Fatch Craft/Dok: indotrading.com

“Ini kita inspirasinya dari kain batik yang sudah tidak terpakai, sudah rusak, sudah kusam. Itu kalau kita manfaatkan dan diolah akan menjadi nilai tambah. Makanya kita bereksperimen dari beberapa kain batik lawas kita kumpulkan terus kita olah menjadi kain kolase tenun,” ungkap Head of Marketing Fatch Craft, Ilmi Abu Iza kepada indotrading.com, Selasa (20/9/2016).

Fatch Craft adalah salah satu brand kolase yang dibangun oleh Fatchurohman. Ilmi menjelaskan meski bahan bakunya berasal dari kain batik bekas yang sudah tidak terpakai, mengerjakan kolase gampang-gampang susah. Dibutuhkan keterampilan dan keuletan terutama saat membuat pola, desain, background dari potongan kain batik bekas tersebut.

“Potongan-potongan itu bagaimana caranya kita buat kolase yang indah untuk sub tema yang sudah kita tentukan. Contohnya temanya itu menjemur di atas pemandangan jadi kita harus membuat latar pemandangan kemudian setelah itu kita mencari objek,” tuturnya.

Foto: Salah satu desain unik kolase Fatch Craft/Dok: indotrading.com
Foto: Salah satu desain unik kolase Fatch Craft/Dok: indotrading.com

Menurut Ilmi, diusahakan kolase yang dibuat harus sesuai antara tema dan backgound. Tujuannya agar kolase benar-benar terbentuk dan terkesan seperti lukisan hidup dengan penampakan dua dimensi.

Baca juga: Peluang Usaha yang Mesti Anda Coba: Berbisnis Waralaba Alfamart

“Setelah semuanya pas baru kita pres. Setelah itu kita melakukan proses pemotongan potongannya yang memerlukan kecermatan mata,” tambahnya.

Setelah kolase rampung, proses selanjutnya adalah memberikan jahitan tambahan. Setelah itu proses terakhir adalah memasukkan kolase ke dalam frame yang sudah ditentukan. Ukuran frame harus sedikit lebih besar dari kolase untuk meminimalisir kerusakan pada kolase yang sudah dibuat.

Foto: Salah satu desain kolase Fatch Craft/Dok: indotrading.com
Foto: Salah satu desain kolase enchin karya Fatch Craft/Dok: indotrading.com

“Nah setelah dipotong masuk dalam proses tenun. Sampai beres baru ada orang yang khusus framing. Setelah diframe baru siap dijual dan semua proses ini handmade. Ada mesin hanya untuk memotong itu pun mesin manual,” jelasnya.

Modal Rp 20 Juta Raup Omzet Rp 300 Juta/Bulan

Membuka bisnis kolase ternyata tidak membutuhkan modal yang cukup besar. Menurut penuturan Head of Marketing Fatch Craft, Ilmi Abu Iza saat pertama kali membangun bisnisnya ini di tahun 2006, pemilik Fatch Craft Fatchurohman menggelontorkan modal sebesar Rp 20 juta.

“Sekitar Rp 20 jutaan,” sebutnya.

Foto: Salah satu desain kolase Fatch Craft/Dok: indotrading.com
Foto: Salah satu desain kolase Fatch Craft/Dok: indotrading.com

Besaran modal tersebut dianggap Ilmi sebanding dengan keuntungan yang didapat dari bisnis ini. Ilmi menyatakan kebanyakan dari para pembeli kolase adalah kolektor dan pecinta seni. Mereka menawarkan harga yang cukup menggiurkan. Namun memang diakui Ilmi, perlu kerja keras dan keuletan dalam memperkenalkan kolase miliknya kepada para kolektor dan pecinta seni.

Baca juga: Intip Peluang Berbisnis Jamu dan Kosmetik Dari Bos Mustika Ratu

“Karena untuk membeli produk ini hanya pecinta seni dengan harga yang cukup tinggi. Boleh dibilang segmented market,” tambahnya.

Ilmi menjual kolase dengan brand Fatch Craft dengan harga yang cukup beragam.  Untuk satu panel berukuran sedang dijual dengan harga Rp 25 juta. Sedangkan yang berukuran besar kisaran harga rata-rata Rp 65 juta.

Foto: Salah satu desain kolase Fatch Craft/Dok: indotrading.com
Foto: Salah satu desain kolase Fatch Craft/Dok: indotrading.com

Fatch Craft juga menawarkan frame ukuran sedang dengan model kebaya  dengan kisaran harga Rp 325 ribu. Sedangkan frame berukuran besar dengan hiasan kolaste dijual dikisaran harga Rp 650 ribu.

Bila mengikuti event atau pameran, per bulan, Ilmi mengaku dapat meraup omzet hingga Rp 300 juta per bulan. Paling sedikit ia menerima omzet Rp 100 juta per bulannya.

“Peluangnya sangat bagus, kalau kita ikut pamerannya di pameran yang tepat kita akan meraup untung banyak. Jadi tidak asal ikut pameran. Waktu kita ikut pameran Inacraft saja kita bisa menjual hingga 13 kolaste Rp 300 juta lebih. Ini menunjuan ada pasarnya asalkan kita mengikuti pameran yang tepat dan jelas,” tukasnya.

Foto: Frame Book bermotif kolase batik karya Fatch Craft/Dok: indotrading.com
Foto: Frame Book bermotif kolase batik karya Fatch Craft/Dok: indotrading.com

Laku di Pasar Lokal Hingga Mancanegara

Penikmat kolase tidak hanya didominasi oleh para pembeli dari dalam negeri. Sebagai contoh, kolase Fatch Craft buatan Fatchurohman sudah dijual hingga ke pasar Qatar dan China.

Baca juga: Menangkap Peluang Berbisnis Kopi Spesial Dari Bos Maharaja Coffee

“Tapi kita juga sudah punya langganan di China dan dia selalu order setiap bulan ke kita,” ungkap Head of Marketing Fatch Craft, Ilmi Abu Iza.

Di dalam negeri sendiri, kolase Fatch Craft dibeli oleh para kolektor dan pecinta seni. Tidak hanya itu, banyak kalangan orang menengah atas juga membeli kolase buatan Fatchurohman itu.

Foto: Kolase batik karya Fatch Craft/Dok: indotrading.com
Foto: Kolase motif jemuran batik karya Fatch Craft/Dok: indotrading.com

“Target bidiknya lebih ke seniman, kolektor dan menengah ke atas. Seperti komisaris Bank Mega membeli kolaste kita, kemudian owner Rumah Makan Wong Solo, owner salah satu batik, Titiek Soeharto juga membeli. Rata-rata mereka datang dari kalangan menengah ke atas dan memang kebanyakan pembeli kolaste kita ini dari luar kota semua,” tuturnya.

Melalui Fatch Craft, Fatchurohman memproduksi berbagai jenis kolase berkualitas. Misalnya untuk kolase, Fatch Craft menawarkan tiga tema yaitu jemuran, kebaya, dan abstrak. Namun dari ketiga tema tersebut, kolase yang paling laku dan besar penjualannya adalah tema jemuran.

Baca juga: Home Decor: Peluang Usaha Baru yang Mesti Anda Coba

“Dan untuk tema kebaya kita ambil beberapa kebaya khas daerah lain. Salah satunya kebaya ncip, kebaya yang ada unsur China-nya. Tapi ke depannya mungkin kita akan mengganti tema seperti candi mungkin, yang pasti membawa unsur nusantara tanpa menghilangkan teknik pembuatannya yaitu kolase,” paparnya.

Foto: Kolase batik karya Fatch Craft/Dok: indotrading.com
Foto: Berbagai mini kolase batik dan background karya Fatch Craft/Dok: indotrading.com

Selain kolase, Fatch Craft juga menawarkan koleksi lainnya seperti mini kolase. Sama seperti kolase, mini kolase adalah kolase yang memiliki motif batik tenun, hanya saja ukurannya jauh lebih kecil.

“Ada buku, ada frame kebaya, ada frame dengan jenis kolaste lebih kecil. Mungkin ke depannya kita akan membuat posternya atau membuat baju yang bisa dipakai dengan gambar kolastenya,” singkatnya.

Peluang Pasar Besar Karena Kompetitor Sedikit

Anda dapat dengan mudah mengembangkan bisnis kolase di Indonesia. Pasalnya, pelaku usaha yang bermain di bisnis ini jumlahnya masih cukup sedikit.

Foto: Kolase batik karya Fatch Craft/Dok: indotrading.com
Foto: Mini kolase batik Jawa karya Fatch Craft/Dok: indotrading.com

“Sebenarnya saat ini kita belum memilki kompetitor jadi beberapa kali ada konsumen yang bilang ada bisnis semacam ini, tapi kita tidak sama persis seperti kita,” tegas Ilmi.

Kolase yang ditawarkan kepada konsumen juga harus berkelas. Seperti yang dilakukan oleh Fatch Craft dimana Fatchurohman menggunakan motif batik sebagai desain utama yang ditawarkan kepada customer.

“Kita masih single fighter. Jadi peluangnya cukup besar karena bagi orang untuk menduplikat karya ini sangat susah karena memilki tekniknya sendiri, tidak mudah untuk dilakukan begitu saja, perlu pembelajaran lama,” katanya.

Foto: Berbagai kolase batik karya Fatch Craft/Dok: indotrading.com
Foto: Berbagai kolase batik karya Fatch Craft/Dok: indotrading.com

Meskipun memiliki pembeli dari kalangan eksekutif, bisnis kolase harus dijalani dengan penuh kesabaran dan ulet. Diperlukan berbagai strategi bisnis yang tepat agar kolase bisa cepat laku dibeli oleh para kolektor. Selain itu, inovasi desain hingga tema diperlukan agar customer tidak merasa jenuh.

Baca juga: ‘Kemilau’ Bisnis Mutiara Tawarkan Omzet Hingga Ratusan Juta Rupiah

“Strategi marketing yang dlakukan baru melalui online dan pameran. Kita sedang merambah membuat website online. Selama konsumen mendapatkan hal yang baru dari desain-desain yang baru maka mereka tidak akan bosan,” tutupnya.

Reporter: Kumi Laila   Penulis: Wiji Nurhayat

0 Comments Lihat semua →


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *