Damn! I Love Indonesia: Bisnis Kaos Ala Daniel Mananta yang Sudah Merambah Korea hingga Amerika

“Kalau misalnya lo nggak memasukan unsur Tuhan di dalam bisnis lo, pasti akan selalu ada hambatannya. Jadi kita harus berserah. Bisnis kita harrus kita serahkan ke tangan Tuhan,” ujar Daniel Mananta, CEO Damn! I Love Indonesia.

Siapa yang tidak kenal Daniel Mananta? Jebolan VJ MTV tahun 2003 ini sudah malang melintang dalam industri dunia hiburan tanah air. Tak hanya sebagai bintang iklan, ia pun kerap diundang di berbagai acara sebagai MC (Master of Ceremonies).

Dibalik kepiawaiannya dalam dunia entertainment, Daniel ternyata juga punya bakat dalam dunia bisnis. Bakat bisnisnya ini tidak terlepas dari pengaruh sang ayah yang juga seorang pedagang. Daniel bahkan mengaku pernah bekerja dengan ayahnya sebelum menjadi artis tenar seperti sekarang.

Foto: Daniel Mananta, CEO Damn! I Love Indonesia/ Dok: indotrading.com
Foto: Daniel Mananta, CEO Damn! I Love Indonesia/ Dok: indotrading.com

“Gue juga sempet kerja bareng sama bokap gue karena bokap gue itu pedagang,” ucap Daniel saat ditemui indotrading.com Rabu, (23/11/2016).

Sebelum menjadi VJ MTV, Daniel mengenyam pendidikan di Australia, tepatnya di Edith Cowan University dengan mengambil jurusan Business Administration Finance dan International Businesss. Setelah lulus dan kembali ke tanah air, Daniel pun mengikuti ajang MTV VJ Hunt. Beruntung, dalam ajang itu ia terpilih sebagai VJ MTV.

Baca juga: 3 Pengusaha Ini Berhasil Raup Omzet Ratusan Juta/Bulan dengan Modal Bambu

“Sebelum jadi VJ, jujur gue anak kuliahan banget. Terus lulus kuliah di Edith Cowan University, Western Australia di double major untuk Business Administration Finance dan International Business,” ujar Daniel.

Sejak menjadi VJ MTV, wajah Daniel semakin sering menghiasi layar kaca. Ia pun sering diundang untuk mengisi berbagai acara. Tak hanya itu, Daniel juga kebanjiran tawaran untuk membintangi beberapa bintang iklan. Meski begitu, ia merasa jiwanya adalah jiwa pebisnis. Akhirnya, ia pun mulai berpikir untuk menggeluti bisnis di bidang pakaian.

Foto: Daniel Mananta, CEO Damn! I Love Indonesia/ Dok: indotrading.com
Foto: Daniel Mananta, CEO Damn! I Love Indonesia/ Dok: indotrading.com

“Jadi dari dulu, jalan hidup gue emang ke arah entrepreneurship. Ternyata Tuhan mempunyai rencana yang lain sehingga gue dicemplungin ke dunia entertainment. Tapi itu tidak membuat gue ngelupain entrepreneurship gue,” tutur Daniel.

Keputusan Daniel untuk menggeluti dunia bisnis di bidang pakaian ini memang tidak salah. Berkat bantuan dari rekan-rekan bisnisnya, yakni Martina Halim dan Win Satrya, Daniel akhirnya meluncurkan bisnis pakaian dengan brand Damn! I Love Indonesia.

Baca juga: Bisnis Kemasan PT Starindo Jaya Packaging: Lolos Uji ISO hingga Berhasil Ekspor ke Singapura

Kini, brand miliknya ini semakin dikenal masyarakat luas. Tak hanya itu, bahkan produk-produknya juga sudah diekspor ke berbagai negara seperti Jepang, Korea, hingga Amerika.

Bagaimana kisah Daniel Mananta membangun bisnisnya? Simak cerita Daniel kepada indotrading.com berikut ini.

Hasilkan Produk Bermutu yang Kental dengan Rasa Nasionalisme

Sekitar tahun 2008, Daniel memutuskan untuk mulai menggeluti bisnis di bidang fashion dengan membuat kaos yang bisa menggambarkan rasa nasionalisme. Daniel pun memasukkan unsur desain yang khas Indonesia serta menggunakan kata-kata sesuai brand yang diangkatnya, yaitu Damn! I Love Indonesia. Nama itu diambil dari singkatan namanya, yakni Daniel Mananta.

Foto: Daniel Mananta, CEO Damn! I Love Indonesia bersama Win Satrya dan Martina Halim/ Dok: indotrading.com
Foto: Daniel Mananta, CEO Damn! I Love Indonesia bersama Win Satrya dan Martina Halim/ Dok: indotrading.com

“DA-nya Daniel, MN-nya Mananta. Sebenarnya kalau yang melatarbelakangi misalnya I Love Indonesia-nya aja. Kebetulan Damn! Itu sendiri juga sebuah kata-kata yang anak muda tuh ngelihatnya bukan ngomong kasar atau jorok sih, tapi mungkin ada orang yang mikir itu kata-kata jorok. Jadi kayak ambigu banget kata-katanya dan itu sebuah kata negatif. Tapi kalau dipakai di satu tempat yang tepat, jadi positif. Jadi ketika bilang Damn! I Love Indonesia jadi kaya ada penekanan banget kalau kita terlalu cinta Indonesia,” terang Daniel.

Bagi seorang Daniel Mananta, sebuah bisnis haruslah memiliki nilai-nilai positif yang dipegang teguh. Tak hanya itu, nilai-nilai tersebut juga harus bisa memberikan dampak nyata yang positif bagi masyarakat luas.

Baca juga: Balon Angkasa: Pelopor Industri Balon Udara Promosi yang Laris Manis Hingga Singapura

“Gue bilang sih kalau gue, bisnis apapun, paling penting adalah ketika lo membuat sebuah bisnis yang ada pengaruhnya. Apa impact yang akan lo berikan dari bisnis lo tersebut,” kata Daniel.

Daniel juga membawa tujuan mulia dibalik bisnis kaosnya ini. Dengan memilih nama brand Damn! I Love Indonesia, Daniel Mananta berharap agar anak muda Indonesia semakin mencintai produk-produk dalam negeri. Tak hanya itu, Daniel juga ingin agar anak-anak muda Indonesia bisa bangga menjadi bagian dari Indonesia ketika memakai produk buatannya.

Foto: Salah Satu Produk Damn! I Love Indonesia/ Dok: Damn! I Love Indonesia
Foto: Salah Satu Produk Damn! I Love Indonesia/ Dok: Damn! I Love Indonesia

Impact kita di Damn! I Love Indonesia adalah supaya anak muda mencintai produk Indonesia dan orang luar juga mencintai budaya Indonesia. Karena kalau misalnya kita memilki impact positif, orang-orang disekitar kita akan mendukung kita. Semakin mereka mendukung kita, semakin kita naik, profit pasti bakal dateng,” jelas Daniel.

Baca juga: Sukses Buat Pesawat Tanpa Awak, IPCD Jadi Langganan Mabes TNI hingga Kemenhan RI

Keputusan Daniel untuk terjun ke bisnis fashion sebenarnya bukan tanpa alasan. Kebetulan, ayah Daniel adalah seorang pedagang baju di sebuah pusat perbelanjaan di daerah Mangga Dua. Untuk itu, ia merasa mantap memilih berbisnis kaos karena sudah memiliki mentor yang berpengalaman di bidang tersebut.

banner-1-01

“Kalau saya sih, ayah saya memang jualan baju di Mangga Dua. Jadi, gue rasa kalau gue mau bisnis makanan, gue nggak punya mentornya di rumah,” kata Daniel.

Sejak awal berbisnis, Daniel sudah menentukan target pasar dengan jelas. Bisnis fashion yang digeluti selama 8 tahun terakhir ini menyasar target anak muda yang memiliki rasa cinta terhadap Indonesia.

Foto: Salah Satu Produk Damn! I Love Indonesia/ Dok: indotrading.com
Foto: Salah Satu Produk Damn! I Love Indonesia/ Dok: Damn! I Love Indonesia

“Kita target market-nya sudah jelas yaitu anak muda yang emang cinta Indonesia,” ujar Daniel.

Bisnis ini tidak hanya memiliki kelebihan dari sisi nilai bisnisnya yang mengangkat rasa nasionalisme Indonesia. Selain itu, Daniel juga benar-benar memperhatikan kualitas produknya. Untuk itu, produk-produk buatannya dipastikan selalu menggunakan bahan baku terbaik yang berkualitas tinggi.

Baca juga: Bisnis Karoseri PT Karya Tugas Anda: Jadi Langganan Pemerintah Hingga Ekspansi ke Asia Tenggara

“Bahan kita cotton semua, 100% cotton. Itu sih komitemen kita sama customer. Jadi ketika kita bilang 100% cotton kita nggak bohong. Kan suka ada tuh, yang bilang cotton, taunya bohong,” ujar Martina Halim, partner bisnis Daniel yang menjabat Director Damn! I Love Indonesia.

Hingga sekarang, Damn! I Love Indonesia sudah memproduksi berbagai jenis pakaian dan aksesoris seperti kaos, topi, jeans, kemeja, jaket, gantungan kunci, hingga stiker. Barang-barang ini dibanderol dengan harga yang cukup terjangkau, yakni antara Rp25.000 hingga Rp600.000.

Foto: Daniel Mananta, CEO Damn! I Love Indonesia bersama Win Satrya dan Martina Halim/ Dok: indotrading.com
Foto: Daniel Mananta, CEO Damn! I Love Indonesia bersama Win Satrya dan Martina Halim/ Dok: indotrading.com

“Dari harga 25 ribu untuk stiker dan gantunga kunci sampai 600 ribu misalnya jaket. Tapi rata-rata semuanya harga 200 ribuan sih. Atau dari range 195 ribuan hingga 200 ribuan,” jelas Martina.

Sejak dirintis 8 tahun yang lalu, Damn! I Love Indonesia mengalami perkembangan yang cukup dignifikan. Ini semua tak terlepas dari dari kerja keras Daniel Mananta bersama tim serta konsistensi dalam menjaga kualitas. Diawali dari sebuah gerai kecil, kini Damn! I Love Indonesia sudah berkembang menjadi 9 toko di seluruh Indonesia.

Baca juga: Meski Masih Muda, 4 Pengusaha Sepatu Ini Berhasil Ekspor Sepatu Hingga ke Eropa

“Kita dari awal yang hanya satu tembok kecil di FX dan kita sekarang sudah memiliki 9 toko di seluruh Indonesia. Perkembangan cukup pesat sih. Sekarang kita punya 9 outlet, 5 ada di Jakarta yaitu di Central Park, Kota Kasablanka, Pondok Indah Mall, Grand Indonesia, dan di bandara. Kalau di luar kota itu ada di Surabaya, Manado, dan Makassar, dan mau buka yang di Bandung,” ujar Daniel.

Foto: Damn! I Love Indonesia/ Dok: Damn! I Love Indonesia
Foto: Logo Damn! I Love Indonesia/ Dok: Damn! I Love Indonesia

Saat ditanya tentang modal membangun bisnisnya ini, Daniel mengaku modalnya ini diperoleh dari honornya sebagai MC. Lebih tepatnya, modal menjadi pembawa acara selama 3 kali.

“Modalnya 3x gue nge-MC. Rate tahun 2008 tapi. Kecil banget sih, actually. Emang modalnya masih kecil banget,” kata Daniel.

Baca juga: Pernah Dijual dari Rumah ke Rumah, Kini Susu UHT PT Ultrajaya Berhasil Diekspor Hingga Amerika

Jalankan Bisnis Partnership agar Semakin Solid

Awalnya, Daniel Mananta mengaku menjalankan bisnisnya ini hanya coba-coba. Tapi karena melihat peluang dan potensi bisnis yang besar, Daniel pun mulai serius untuk menjalankan bisnis clothing line-nya ini. Akhirnya, mencari partner bisnis yang cocok hingga akhirnya bertemu dengan Win serta Martina.

“Karena awalnya kita kaya main-main gitu. Meeting setiap minggu sambil makan dan waktu itu kita belum ada kantor. Nah pas ketemu Martina, dia kasih saran agar kita punya kantor dulu. Ketika Martina masuk, semua terorganisir. Nggak lama setelah itu, udah deh Martina jadi partner. Di situlah akhirnya kita bertiga muncul,” kata Daniel.

Foto: Daniel Mananta, CEO Damn! I Love Indonesia bersama Win Satrya dan Martina Halim/ Dok: indotrading.com
Foto: Daniel Mananta, CEO Damn! I Love Indonesia bersama Win Satrya dan Martina Halim/ Dok: indotrading.com

Setelah mempertimbangkan beberapa hal, Daniel memutuskan untuk merekrut Win dan Martina sebagai partner bisnisnya. Win dipercaya sebagai President Director sementara Martina dipercaya sebagai Director Damn! I Love Indonesia. Sistem bisnis dengan partner ini dianggap Daniel efektif karena bisa saling melengkapi kekurangan dan kelebihan masing-masing.

“Gue ngerasain banget kalau kita masing-masing ini mempunyai kekuatan dan kekurangan. Jadi itu yang membuat kita saling melengkapi. Kekuatan gue adalah gue ngerti banget big goal-nya, ada idealismenya dari sisi marketing, networking gue banyak, tapi gue orangnya nggak detail. Manajemen tuh gue low banget. Jadi, gue manage waktu gue aja ancur banget, apalagi kalau gue manage perusahaan. Nah di situ makannya ada Martina dan juga Win,” terang Daniel.

Baca juga: Mencicipi Lezatnya Peluang Bisnis Bumbu Instan Rempah Nusantara

Sejauh ini, Daniel sangat nyaman berbisnis dengan partnernya, Win dan Martina. Selain saling melengkapi, pembagian tugas kerja antara ketiganya pun sangat jelas. Sebagai anak desain, Win dipercaya untuk membuat desain-desain produk serta melakukan branding. Martina dipercaya untuk mengatur masalah operasional dan hal-hal yang berkaitan dengan penjualan. Sementara Daniel, diberi tanggung jawab untuk image dan marketing Damn! I Love Indonesia.

“Win dari segi brand, dia yang ngejagain banget brand -ya karena dia dulu anak desain. Jadi dia sangat tahu banget yang namanya branding dan yang lain-lain. Jadi dia brand guardian-nya. Kalau Martina sendiri, dia lebih operasionalnya karena dia sangat mikirin sales. Kalau gue sangat mikirin image. Jadi itu melengkapi banget kadang-kadang ada yang direm, ada yang digas dan itu dari kita bertiga masing-masing punya power di bidang masing-masing sehingga Damn! I Love Indonesia bisa berkembang lebih besar lagi,” tutur Daniel.

Foto: Win Satrya, President Director Damn! I Love Indonesia/ Dok: indotrading.com
Foto: Win Satrya, President Director Damn! I Love Indonesia/ Dok: indotrading.com

Menurut Daniel, memilih partner dalam berbisnis memang tidak mudah. Untuk itu, ia harus melakukan uji coba serta mempertimbangkan beberapa hal sebelum memutuskan merekrut partner bisnis. Ia percaya partner bisnis yang tepat adalah orang yang bisa memperlakukan orang lain dengan baik serta memiliki hati yang baik.

“Pertama lihat partner-nya dulu, dia memiliki hati yang baik atau yang jahat cara menilainya itu yang pasti dari hal yang kecil aja pas kita ajak makan. Pas kita ajak ngobrol apakah dia bilang terima kasih ke pelayannya. Atau nggak ketika kita menghadapi masalah misalnya sebelum sebagai partner atau sebagai teman hangout dulu aja. Attitude-nya kalau keliatannya niat dia baik gitu, apapun yang kita hadapin kita pasti akan balik lagi ke kebaikan itu. Nggak diculasin istilahnya,” ujar Daniel.

Baca juga: M. Affandi: Bos Kapal Andalan TNI AL yang Dulunya Teknisi Kapal

Dengan melakukan strategi itu, Daniel akhirnya bisa menemukan partner bisnis yang cocok. Setelah Win dan Martina bergabung, bisnisnya pun semakin berkembang dan timnya semakin solid.

Foto: Martina Halim, Director Damn! I Love Indonesia/ Dok: indotrading.com
Foto: Martina Halim, Director Damn! I Love Indonesia/ Dok: indotrading.com

Meski begitu, bukan berarti bisnis ini berjalan selalu mulus tanpa aral melintang. Saat awal-awal merintis bisnis, seringkali ada perbedaan pendapat antara Daniel dengan Win dan Martina. Namun berkat komitmen serta kesamaan visi misi, mereka pun bisa bertahan dan semakin solid.

“Kekurangan dari partnership saya rasa suka berantem. Tapi berantemnya kadang-kadang yang sulit untuk kita bedakan adalah kita berantem karena ego kita atau kita berantem karena untuk perusahaan,” ucap Daniel.

Baca juga: 8 Pekerjaan yang Menempa Orang Biasa Jadi Kaya Raya

Diekspor ke Korea Hingga Amerika

Sejak awal diluncurkan, produk-produk Damn! I Love Indonesia sudah berhasil menarik perhatian banyak orang. Tak hanya laris manis diserbu pemburu lokal, produk ini pun sudah mulai dikenal dunia internasional. Bahkan, produk-produk Damn! I Love Indonesia ini sudah berhasil diekspor ke Korea Selatan hingga Amerika.

“Sudah diekspor ke Korea Selatan, Jepang, Amerika, Kuala Lumpur, sama Australia. Kebanyakan dari mereka belinya secara online sih,” ujar Daniel.

Foto: Salah Satu Produk Damn! I Love Indonesia/ Dok: Damn! I Love Indonesia
Foto: Salah Satu Produk Damn! I Love Indonesia/ Dok: Damn! I Love Indonesia

Hingga sekarang, Damn! I Love Indonesia terus berinovasi menciptakan desain-desain baru yang sesuai dengan tren. Salah satu inovasi yang mereka lakukan adalah dengan menciptakan kaos yang memiliki detail patch.

Baca juga: Rompi Anti Peluru Buatan PT Farin Industri Nusantara Laris Manis di Asia Hingga Amerika

“Kita selalau research and development. Kita sering ikutin trend show juga. Kita suka ngecek yang lagi ngetren itu apa. Terakhir, inovasi yang kita lakukan itu adalah kaos yang biasanya patch. Itu juga sesuatu yang beda banget,” ujar Daniel.

Tak hanya berhenti di situ, Daniel juga berencana untuk menggabungkan konsep Augmented Reality dengan Damn! I Love Indonesia. Namun, mereka juga tak lupa untuk terus menjaga kualitas produk agar konsumen senantiasa puas.

Foto: Salah Satu Produk Damn! I Love Indonesia/ Dok: Damn! I Love Indonesia
Foto: Salah Satu Produk Damn! I Love Indonesia/ Dok: Damn! I Love Indonesia

“Kita juga lagi nyari di bagian teknologi itu lagi ada apa. Jadi kita selalu brainstorming untuk mengikuti tren apa yang lagi hits. Tapi bukan sekadar ikut-ikutan tren, kita harus bisa menyuntikkan patriotisme ini ke tren tersebut. Nah, kita juga sedang berusaha melakukan inovasi yang ada hubungannya dengan Augmented Reality,” papar Daniel.

Terakhir, Daniel berpesan bahwa untuk membuat bisnis, selalu ingat untuk memikirkan dampaknya. Produk yang bisa memberikan dampak positif bagi banyak orang akan senantias berkembang.

“Kalau dari aku itu sih yang soal impact itu. Usahakan setiap kali kita membuat bisnis, impactnya itu positif dan bisa didukung oleh orang-orang sekitar,” pungkasnya.

 

Reporter: Kumi Laila        Penulis: Erlin Dyah Pratiwi

0 Comments Lihat semua →


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *