Sosok Inspiratif

Dari Pengepul Sampah Kayu, Made Kini Jadi Pengusaha Beromzet Rp 300 Juta/Bulan

“Semakin banyak kerajinan limbah pantai ini bisa terjual, maka lingkungan pun akan semakin bersih. Jadi ayo kita memanfaatkan hal-hal yang dianggap tidak berguna (limbah kayu bekas) menjadi barang yang berguna,” tulis pemilik Kioski Gallery, Made Sutamaya.

Sampah kayu masih dinilai sebelah mata oleh kebanyakan orang. Padahal bila dikreasikan dengan sedikit sentuhan dan seni, sampah kayu mampu menghasilkan uang hingga jutaan rupiah.

Baca juga: Thomas More Soeharto: Bos ProTeam yang Sukses Ekspor Bola ke 20 Negara

Hal ini yang dirasakan oleh Made Sutamaya (49). Pria asal Kuta, Bali ini berhasil memanfaatkan tumpukan sampah kayu bekas yang berserakan di pinggir pantai. Melalui usahanya yang bernama Kioski Gallery, Made sukses menyulap sampah kayu menjadi desain interior bernilai jutaan rupiah.

Kreasinya mulai diperhitungkan di jagad bisnis kerajinan yang ada di Indonesia. Made juga mampu bersaing dengan para pengusaha yang berpengalaman dengan menampilkan berbagai karya interior desain yang kreatif dan unik serta memiliki kesan mewah.

Foto: Berbagai macam interior desain Kioski Gallery milik Made Sutamaya/Dok: indotrading.com

Foto: Berbagai macam interior desain Kioski Gallery milik Made Sutamaya/Dok: indotrading.com

Pernah bekerja cukup lama di salah satu perusahaan mebel bikin Made makin percaya diri membangun bisnisnya. Akhirnya berbagai karya interior desain ia hasilkan dan berhasil ditawarkan kepada para pelanggannya di dalam negeri.

Bisnisnya semakin berkembang. Made juga telah berhasil membangun pasar di luar negeri. Produknya sudah diperjualbelikan di beberapa negara Uni Eropa, seperti Belanda dan Prancis hingga ke Afrika.

Baca juga: Nur Handiyah Sulap Sampah Kulit Kerang Jadi Barang Mewah Bernilai Jutaan Rupiah

Keberhasilan yang dia raih ternyata bukan didapat dengan cara yang mudah. Butuh waktu yang cukup lama bagi Made berjuang membangun bisnis Kioski Gallery hingga mendapati kesuksesan.

Mau tahu cerita lengkapnya? Berikut ini penuturan Made kepada indotrading.com, Selasa (25/10/2016).

“Usaha saya ini bergerak di bidang art untuk interior,” ungkap Made.

Foto: Berbagai macam interior desain Kioski Gallery milik Made Sutamaya/Dok: indotrading.com

Foto: Berbagai macam interior desain Kioski Gallery milik Made Sutamaya/Dok: indotrading.com

Made mengungkapkan ia mendirikan bisnisnya ini di tahun 2003. Sebelum membangun bisnis ini. Made memiliki pengalaman bekerja di perusahaan mebel selama 23 tahun. Pengalaman ini yang menjadi basic bagi Made untuk terjun langsung membangun serta mengolah bisnisnya secara mandiri.

“Ini berdiri dari tahun 2003 sebelum membangun usaha ini selama 23 tahun saya kerja di mebel. Ya saya memang punya mimpi ingin sekali menjadi pengusaha,” tegas Made.

Baca juga: Laku dibeli Kolektor Hingga Menteri, Gitar Bambu Adang Juga Sampai ke 12 Negara

Hanya Bermodal Sampah Kayu dan Paku

Made Sutamaya mengungkapkan, memulai bisnis Kioski Gallery terbilang susah-susah gampang. Maksudnya adalah bisnis ini dibangun tanpa modal besar. Menurut Made modal awal yang dia gunakan untuk membangun bisnis ini hanya tumpukan sampah kayu, paku dan palu.

“Modal awal saya itu cuma dua karung plastik, kayu pantai, sama paku dan palu,” ungkapnya.

Foto: Berbagai macam interior desain Kioski Gallery milik Made Sutamaya/Dok: indotrading.com

Foto: Berbagai macam interior desain Kioski Gallery milik Made Sutamaya/Dok: indotrading.com

Made yang hanya jebolan Sekolah Menengah Atas (SMA) ini menuturkan bila sampah kayu kerap ia dapatkan dari pinggir pantai. Made menjelaskan biasanya pada saat musim hujan, sampah kayu terbawa arus air menuju laut. Setelah itu, sampah kayu terombang-ambing ombak sampai akhirnya berserakan di pinggir pantai.

“Dengan bahan baku utamanya itu patahan kayu dan ranting pantai. Jadi ranting atau kayu dari hulu dihanyutkan oleh air hujan kemudian sampai ke pantai,” tambahnya.

Baca juga: Jualan Furniture Dari Kayu Bekas, Andra Raup Omzet Rp 12 Miliar/Tahun

Keahlian di bidang kerajinan tangan ditambah pengalamannya selama 23 tahun bekerja di perusahaan mebel menjadi modal tambahan bagi Made untuk membangun bisnis ini. Setelah itu, Made mengontrak sebuah rumah di kawasan Tegalalang, Bali sebagai workshop sekaligus gallery tempatnya bekerja.

“Awalnya saya ngontrak dulu di Tegalalang. Nah hasil dari ngontrak ini kita berhasil membeli tanah yang ada di Jalan Ngurah Rai itu tempat workshopnya,” sebutnya.

Sulap Sampah Kayu Menjadi Interior Desain

Foto: Berbagai macam interior desain Kioski Gallery milik Made Sutamaya/Dok: indotrading.com

Foto: Berbagai macam interior desain Kioski Gallery milik Made Sutamaya/Dok: indotrading.com

Potongan-potongan sampah kayu yang Made dapatkan dari pinggir pantai kemudian dibawa ke sebuah rumah di Tegalalang, Bali untuk diolah. Di sana, Made kemudian memilih jenis kayu yang masih layak pakai. Kayu-kayu tersebut kemudian dikeringkan dan lanjut ke tahapan perakitan.

“Saya rakit produk-produk saya ini,” ungkapnya.

Baca juga: Jadi Miliuner, 4 Pengusaha Ini Dulunya Pernah Hidup Susah

Setelah kayu-kayu tersebut dirakit, Made kemudian mendesain serta membentuk kayu menjadi berbagai macam model perkakas rumah yang bakal dijadikan interior desain. Misalnya meja, kursi, kaca, lampu dan lain-lain. Saat proses perakitan sendiri, Made biasanya menggunakan paku atau lem kayu.

Sementara itu, Made mengaku agak sedikit kesulitan saat ia membuat berbagai macam model perkakas rumah tangga yang dijadikan interior desain. Ia harus memperhatikan betul jenis sampah kayu yang ada, konsep, konstruksi sampai proses perakitan kayu.

Foto: Berbagai macam interior desain Kioski Gallery milik Made Sutamaya/Dok: indotrading.com

Foto: Berbagai macam interior desain Kioski Gallery milik Made Sutamaya/Dok: indotrading.com

“Pertama tergantung jenis barang yang akan kita buat termasuk perakitannya juga. Nah katakanlah seperti misalnya meja disana saya perlu membuat sebuah konsep opsi awal dari konsep. Bagaimana membuat sebuah konstruksi yang benar dan kuat. Nah kalau membuat burung, itu tidak perlu konstruksi ini hanya diperlukan satu imajinasi,” tuturnya.

Setelah selesai, proses terakhir adalah pernis. Seluruh meja, kursi, kaca dan lainnya akan dibuat mengkilat dengan menggunakan cairan tertentu. Sedangkan untuk persiadaan bahan baku berupa sampah kayu, Made tidak perlu khawatir. Sampah kayu sangat mudah ia jumpai di pinggir pantai. Kalaupun jumlahnya jarang, Made siap membeli kayu-kayu bekas dari orang yang menawarkan padanya.

Baca juga: Gitar Batik Buatan Guruh: Dipakai Gitaris Terkenal Sampai ‘Terbang’ ke 5 Negara

“Nah kalau bahan bakunya ini kan adanya di musim hujan, setiap enam bulan sekali. Makanya kami harus mikirin bagaimana caranya memiliki stok untuk di musim panas. Dengan cara mencari source yang baru karena kalau kita berpameran pertama bahan baku harus cukup, kedua produksi juga karyawan yang mengerjakan harus cukup, pemasaran juga harus oke kan, nah baru bisa seimbang. Tapi kalau ada salah satu yang timpang, itu tidak akan jalan,” jelasnya.

Dijual Hingga Jutaan Rupiah

Interior desain yang diproduksi oleh Made Sutamaya melalui Kioski Gallery seperti meja, kursi, kaca hingga lampu berdiri dijual dengan harga yang cukup terbilang mahal. Harganya berkisar antara ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Foto: Pemilik Kioski Gallery, Made Sutamaya/Dok: indotrading.com

Foto: Pemilik Kioski Gallery, Made Sutamaya/Dok: indotrading.com

“Produk yang Saya cipatakan itu lebih banyak kepada keperluan interior, seperti meja, kursi, all dekorasi, dan lain sebagainya. Macam-macam ya hingga Rp 6 juta,” katanya.

Menurut Made, meski dibuat dengan menggunakan kayu bekas, ia bisa memastikan konstruksi kayu tetap kuat. Bahkan berbagai macam produk desain interior yang dibuat Made dari kayu bekas ini diklaim awet sampai puluhan tahun.

Baca juga: Resep Cap Lang Singkirkan Kompetitor Hingga Kuasai Pasar Lokal dan Internasional

“Kalau ketahanan luar biasa ya. Karena kayunya sangat keras sekali. Filosofinya begini untuk mengawetkan ikan, kita menggunakan garam bukan? Nah sekarang kayu-kayu ini mereka terendam di air laut bertahun-tahun bahkan hingga puluhan tahun,” paparnya.

Menurut Made, kuatnya konstruksi kayu disebabkan proses kimiawi. Hal ini terjadi saat kayu terombang-ambing di laut. Air laut yang memiliki kadar garam cukup tinggi diyakini dapat membuat awet kayu.

Foto: Berbagai macam interior desain Kioski Gallery milik Made Sutamaya/Dok: indotrading.com

Foto: Berbagai macam interior desain Kioski Gallery milik Made Sutamaya/Dok: indotrading.com

“Seperti saya bilang kayu ini sudah dipatenkan secara alami oleh air garam di laut jadi ketahannya luar biasa bisa sampai 20-30 tahun,” ujarnya.

Disamping menyalurkan hobinya di bidang bisnis kerajinan tangan atau handmade, Made cukup senang menekuni bisnisnya ini. Ia dapat memanfaatkan sampah kayu bekas tidak terpakai yang berserakan di pantai. Selain itu aksinya juga mampu menekan jumlah sampah kayu yang ada di pinggir pantai.

Baca juga: Anniesa Hasibuan: Desainer Ternama yang Sempat Jualan Pulsa dan Hamburger

“Awalnya itu ya karena kita tinggal di pesisir pantai jadi ingin memanfaatkan itu. Saya juga tidak ingin ada sampah yang mencemari lingkungan. Akhirnya karena banyak potongan kayu dan ranting yang mengganggu lingkungan pantai, itulah awal ide tercetus mmebuat usaha yang mengguankan bahan limbah itu,” jelas pria kelahiran 10 Oktober 1967 ini.

Sudah Diekspor ke Eropa Hingga Afrika

Barang pajangan interior desain seperti meja, kursi, lampu berdiri hingga kaca rias yang dibuat oleh Made Sutamaya melalui bisnisnya Kioski Gallery kian tumbuh dan berkembang. Sejak dirilis di tahun 2003, bisnisnya terus berkembang dan penjualannya kini sudah menembus pasar internasional.

Foto: Berbagai macam interior desain Kioski Gallery milik Made Sutamaya/Dok: indotrading.com

Foto: Berbagai macam interior desain Kioski Gallery milik Made Sutamaya/Dok: indotrading.com

“Kita banyak ekspornya ke Eropa seperti Jerman, ada Belanda, Prancis, Italia, dan Afrika,” sebut Made.

Padahal ketika pertama kali ia menjual produknya harus dilalui dengan susah payah. Made mengaku tidak bisa hanya menunggu pembeli di sebuah workshop miliknya di Tegalalang, Bali. Mau tidak mau ia harus bergerak.

Baca juga: Tips Mimpi Sejuta Dolar Dari Merry Riana: Percaya Diri dan Punya Komitmen!

Jalan satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah dengan mengikuti berbagai event atau pameran. Pameran dianggap sebagai jalan alternatif mencari dan mendapati calon pembeli yang potensial.

“Ya awalnya sangat susah sekali, ya karena ini kita ciptakan awal dari 2003, ya awal-awal ya harus berpameran dulu. Makanya saya ajak para UKM yang lain untuk berpameran karena di pameran kita akan mendapatkan buyer lebih banyak, tidak seperti di toko,” tuturnya.

Foto: Berbagai macam interior desain Kioski Gallery milik Made Sutamaya/Dok: indotrading.com

Foto: Berbagai macam interior desain Kioski Gallery milik Made Sutamaya/Dok: indotrading.com

Setelah itu, Made bermanuver dengan menggunakan media online seperti Facebook untuk menjual barang dagangannya. Kedua cara tersebut kini menjadi tumpuan Made untuk meraup keuntungan dari bisnis ini.

“Beda dengan 20 tahun yang lalu sistemnya masih manual, tidak ada online dan semacamnya. Tapi zaman sekarang sudah banyak acara pameran, media online itu memudahkan kita untuk memasarkan produk kita dan mendapatkan buyer bahkan dari luar negeri,” ucapnya.

Baca juga: Perjuangan Merry Riana Jadi Miliarder: Pernah Jadi Penyebar Brosur Sampai Pelayan Hotel

Alhasil nama Made Sutamaya muai dikenal banyak orang lewat interior desain dengan menggunakan sampah kayu bekas. Ia mampu meraup omzet hingga Rp 300 juta per bulan.

“Ya lumayan, setiap bulan bisa tembus Rp 100 hingga Rp 300 juta per bulan,” tukasnya.

Selain memiliki omzet yang cukup besar, Made juga menyabet sejumlah penghargaan top.  salah satunya adalah Parama Karya Award 2015 dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). Made mengatakan penghargaan tersebut adalah buah hasil kerja keras dirinya  dibantu oleh 30 orang karyawan yang kebanyakan justru datang dari mereka yang telah putus sekolah.

Foto: Berbagai macam interior desain Kioski Gallery milik Made Sutamaya/Dok: indotrading.com

Foto: Pemilik Kioski Gallery, Made Sutamaya/Dok: indotrading.com

“Bahkan ibu-ibu pengangguran yang putus sekolah, mereka adalah yang saya bina dan sudah menjadi karyawan saya,” katanya.

Baca juga: Pernah Jualan Baju di Taman Puring, Bong Chandra Kini Sukses Jadi Bos Properti

Saat ini, Made juga telah memiliki mitra bisnis sebanyak 250 orang yang tersebar di Jawa Timur, Bali, Lombok dan Sumbawa. Bagi Made, semakin banyak mitra bisnis maka semakin baik terutama untuk memperluas jaringan pemasaran.

“Ya harus saya harus memiliki generasi jadi usaha saya diturunkan kepada anak saya, saya selalu mengajak anak-anak saya berpameran, dan mereka juga dilibatkan dalam pembuatan seni ini. Karena harapan saya jangan sampai usaha ini putus,” tutupnya.

Reporter: Kumi Laila   Penulis: Wiji Nurhayat

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top