Ekonomi & Bisnis

6 Ciri-Ciri Investasi yang Menggunakan Skema Ponzi Ini Harus Diwaspadai

 

Saat ini, begitu banyak pilihan investasi yang muncul karena kesadaran akan pentingnya investasi juga semakin meningkat. Namun, Rekan Indopreneurs juga perlu lebih hati-hati dalam memilih opsi investasi karena tak jarang ada perusahaan yang menggunakan Skema Ponzi. Apakah Rekan Indopreneurs sudah pernah mendengar tentang teknik Skema Ponzi?

 

Skema Ponzi diambil dari nama seorang lelaki Italia bernama M Carlos Ponzi. Ia menemukan sebuah gagasan investasi yang menjanjikan keuntungan 100% dalam waktu singkat. Kenyataannya, investasi yang dijanjikannya hanyalah penipuan belaka. Meskipun kebohongan skema ini sudah terbongkar, masih banyak orang yang menggunakan cara ini agar bisa mendapatkan uang dengan cepat. Lalu, apa saja ciri-ciri yang harus diwaspadai untuk mendeteksi bisnis dengan Skema Ponzi? Simak ulasannya berikut ini:

 

  1.    Menjanjikan Keuntungan Besar dalam Waktu Singkat

Gambar 518

Tak akan pernah ada seorang investor yang akan menolak saat ditawari keuntungan yang berlipat ganda bukan? Setiap investor, baik investor baru maupun kawakan, pasti mempunyai tujuan yang sama yaitu bagaimana caranya agar menjadi untung dan kaya. Iming-iming inilah yang sering menjadi senjata utama para fraud investor untuk menjaring mangsanya. Dengan sedikit bumbu dan kelihaian menyusun kata-kata, iming-iming ini akan mengaburkan sikap jeli Anda dalam meneliti perusahaan investasi tersebut. Sikap waspada dan hati-hati sangat diperlukan, terutama saat diprospek oleh marketing investasi.

Pada dasarnya, jarang sekali ada investasi yang bisa menjanjikan keuntungan yang besar dalam waktu singkat. Hal ini tentu tergantung dengan kondisi pasar saham dan perekonomian dunia yang sering sekali tidak stabil dan rentan terhadap perubahan. Investor yang tangguh adalah orang yang mampu bertahan di atas semua itu serta mampu untuk tetap bersabar dengan terus mengambil langkah-langkah strategis ketika nilai investasinya tengah menurun. Jadi, jangan mudah tergiur dengan janji-janji manis yang bisa jadi justru merugikan di masa depan!

Baca juga : Skema Ponzi: Definisi, Sejarah, dan Perkembangannya

  1.    Tidak Ada Informasi Jelas Mengenai Sumber Investasi

Gambar 519

Pada umumnya, Investasi yang menggunakan skema Ponzi hampir tidak memiliki produk untuk dijual karena sumber keuntungan mereka memang tidak tergantung pada hal itu. Kalaupun ada, produknya biasanya terkesan ‘asal jadi’ dengan harga selangit karena memang tidak dibuat untuk disebarluaskan ke masyarakat.  Telitilah mengenali produk sebuah perusahaan sebelum Anda menginvestasikan uang di dalamnya. Periksa kualitas, manfaat, dan hal-hal lain terkait strategi pemasarannya yang membuat produk tersebut memiliki kekuatan di tengah pesaingnya. Waspadai bila Anda menemukan kejanggalan dalam produk perusahaan investasi tersebut, dan agar lebih yakin, lakukan tes produk agar mendapat perbandingan antara penjelasan marketing investasi dan pengamatan langsung.

  1.    Perusahaan Tidak Terdaftar Secara Resmi di Bapepam

Gambar 520

Dengan bentuk penipuan yang sudah jelas terkuak, sebuah perusahaan yang menggunakan Skema Ponzi akan sangat kesulitan untuk mendaftarkan dirinya ke Bapapem (Badan Pengawas Pasar Modal). Tak adanya pembukuan keuangan yang jelas dan sah serta deskripsi produk yang buruk menjadi faktor yang sudah jelas akan mengikis perusahaan seperti ini untuk mendapatkan lisensi dari Bapepam. Bila sudah jelas tak terdaftar, silakan langsung batalkan rencana Anda berinvestasi di perusahaan tersebut.

 

  1.    Member Get Member dengan Dana Awal yang Tinggi

Gambar 521

Sejalan dengan tidak jelasnya deskripsi dan pemasaran produk, investasi berskema Ponzi akan menarik uang pendaftaran yang cukup banyak dari investor barunya. Mereka pun menyemangati para investor baru untuk mengajak sebanyak mungkin orang untuk bergabung dan ikut berinvestasi di perusahaan tersebut, dengan iming-iming fee/bonus investasi akan semakin besar bila bisa mengajak banyak orang untuk ikut berinvestasi dan membayar uang pendaftaran.

Inilah modus operandi invetasi berskema Ponzi. Uang member yang baru bergabung akan digunakan untuk membayar ‘hasil investasi’ member lama dan fee member yang merekutnya. Tak ada uang yang berfungsi sebagai modal dan digunakan untuk mengembangkan bisnis. Yang ada hanya mengembangkan jaringan dan mengumpulan uang untuk membayar ‘hasil investasi’ member lama dan ujungnya pasti akan selalu merugikan member baru.

Baca juga : Pahami Dulu 4 Risiko Ini Sebelum Berinvestasi Saham

  1.    Menjerat Investor Baru dengan berbagai Acara Mewah

Gambar 522

Para pelaku investasi Ponzi yang sudah mengetahui bagaimana bisnis ini bekerja biasanya hanya memiliki dua pilihan, berhenti atau melanjutkannya dengan sungguh-sungguh. Saat sudah mengetahui penipuan di balik cara kerja sistem ini, seorang investor yang terlanjur terjebak harus merelakan uang yang sudah dibayarkannya untuk menghentikan agar penipuan pada orang lain tidak berlanjut. Sebaliknya, ia pun juga bisa melanjutkannya dengan kembali menipu banyak orang agar menjadi investor, membayar uang pendaftaran, agar perekrut mendapat banyak imbalan.

Tentu saja hal ini tidaklah mudah. Oleh karenanya, agar orang-orang percaya dan mengikuti ajakannya, seorang perekrut akan menyebarkan foto-foto ‘keberhasilan’ dan ‘kekayaannya’ berkat investasi tersebut dan mengadakan acara-acara mewah yang mengesankan berlimpahnya uang yang dimiliki oleh perusahaan dan investornya. Melihat serangan bertubi-tubi seperti itu, kewaspadaan seseorang untuk meneliti sebuah investasi bisa saja mengendur, lalu dengan sukarela membayar uang pendaftaran yang cukup besar demi mendapatkan imbalan yang berkali-lipat lebihnya.

 

  1.   Menjebak Investor melalui Iklan di Internet

Gambar 523

Saat ini, siapapun dapat beriklan di internet hanya dengan bermodalkan uang beberapa ratus ribu. Dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan oleh dunia maya, secara tidak langsung kita juga telah membuka celah-celah kejahatan terselubung yang dapat merugikan investor. Perusahaan investasi yang berada di dunia maya perlu untuk diverifikasi, bahkan mulai hal-hal dasar seperti apakah mereka memiliki kantor atau tidak. Jika mereka tidak memiliki kantor dan hanya mengandalkan pemasaran secara online, sebaiknya Rekan Indopreneurs memilih opsi investasi lain yang lebih jelas. (leo/editor: erlin)

Demikian beberapa hal yang bisa Anda gunakan untuk mengidentifikasi sebuah investasi berskema Ponzi. Agar terhindar dari jeratan investasi ini, jangan mudah tergiur dan teruslah menjaga kewaspadaan dan ketelitian sebelum memutuskan beinvestasi di satu tempat. Namun, bila menemukan investasi yang menggunakan Skema Ponzi, sebaiknya segera laporkanlah hal tersebut ke pihak berwenang seperti OJK agar tidak ada lagi korban yang terjerat penipuan semacam ini. (ana&leo/editor: erlin)

To Top