Siti Fatimah Ekspor Kain Gedog Asal Tuban Dari Jepang Hingga ke Belanda

“Motivasi saya bukan hanya uang tapi bagaimana melestarikan dari hulu ke hilir itu bisa berjalan terus. Tidak mati karena perubahan zaman. Saya adalah orang Tuban jadi saya merasa ikut memiliki budaya ini,” tulis Siti Fatimah Nasih (Pemilik usaha kain tenun Gedog).

Produk kerajinan tangan asal Indonesia sudah diakui kualitasnya di negara lain. Umumnya, produk kerajinan tangan asal Indonesia memiliki desain yang unik serta diproduksi seluruh dengan menggunakan tangan para pengrajin.

Siti Fatimah Nasih adalah salah satu pengrajin yang sudah merasakan manisnya mencicipi pasar luar negeri. Wanita kelahiran Tuban, 61 tahun silam tersebut berhasil menjual produk kerajinan tangan berupa kain tenun Gedog hingga ke mancanegara. Kepada indotrading.com, ia menceritakan bisnisnya ini dimulai sebelum tahun 2000-an.

Foto: Pemilik usaha kain Gedog Siti Fatimah Nasih/Dok: indotrading.com
Foto: Pemilik usaha kain Gedog Siti Fatimah Nasih/Dok: indotrading.com

“Tenun Gedog Tuban itu adalah salah satu kerajinan dan kebudayaan yang mengarah kepada busana di daerah Jawa Timur, Kabupaten Tuban tepatnya di Kecamatan Kerek atau kira-kira 15 Km dari kota Tuban,” ungkap Siti saat mulai bercerita, Senin (15/8/2016).

Baca juga: Jatuh Bangun Cik Mia Bangun Bisnis Penjualan Songket Terkenal di Jambi

Siti mengungkapkan awalnya ia melihat di daerahnya banyak terdapat petani kapas dan pengrajin benang yang belum banyak diberdayakan. Akhirnya ia dan anaknya yang kebetulan sedang mengambil pendidikan pasca sarjana mencoba membuat desain bisnis menarik dengan tujuan bisa memberdayakan para petani kapas dan pengrajin benang.

“Saya masuk ke bisnis ini sebetulnya dari awalnya bukan bisnis karena terpanggil saja hati kami. Waktu itu anak saya sedang mengambil S3 dia lagi survei apa sih yang bisa dibangkitkan di daerah Jawa Timur khususnya di daerah Tuban,” tambahnya.

Akhirnya desain bisnis mengarah ke kain tenun Gedog. Dari cara ini Siti tidak menyangka, bisnis yang awalnya hanya coba-coba kini berubah menjadi besar.

“Pas masuk ke daerah Kerek itu, kok banyak ibu-ibu yang sudah tua sedang membuat benang dari kapas asli yang ditanam sendiri oleh petani kemudian dijadikan benang dan terus dijadikan bahan tenun lewat alat tenun tradisional yang pakai tangan dan menimbulkan bunyi dok dok. Karena bunyi dok dok itulah akhirnya tenun ini diberi nama tenun Gedog,” cetusnya.

Memulai Tanpa Modal dan Menerapkan Pola Bisnis Terintegrasi

Siti Fatimah Nasih mulai berkomitmen untuk membesarkan bisnis kain tenun Gedog di Kecamatan Kerek, Tuban di tahun 2000. Ia mengaku tidak mengeluarkan sama sekali modal untuk memulai bisnisnya ini.

Hanya saja, ia menyerahkan beberapa perhiasan miliknya sebagai jaminan kepada para pengrajin kain tenun Gedog. Kain tenun Gedog yang dibuat oleh para pengrajin di Kecamatan Kerek, Tuban ia bawa untuk dipamerkan di beberapa tempat, seperti di Jakarta.

“Saat itu kami tidak bermodal uang karena kami tidak punya uang. Jadi perhiasan yang ada kita titipkan pada kawan lama. Dia pembuat tenun dan batik gedog dan kita dipercaya untuk membawa barangnya untuk diikutsertakan dalam pameran di Jakarta,” tuturnya.

Foto: Salah satu motif kain Gedog buatan Siti Fatimah Nasih/Dok: indotrading.com
Foto: Salah satu motif kain Gedog buatan Siti Fatimah Nasih/Dok: indotrading.com

Selain mengusung sebuah bisnis baru di daerahnya, Siti mencoba menjaga tradisi kain gedog agar tidak punah. Menurut Siti, jumlah pengrajin kain Gedog di Kecamatan Kerek setiap tahun semakin berkurang.

“Pada waktu itu batik atau tenun Gedog ini sudah hampir musnah,” tambahnya.

Siti mengungkapkan, ia sengaja mencetuskan bisnisnya ini untuk membangkitkan semangat para pembatik/penenun Gedog di wilayahnya. Ia kemudian mulai mempelajari bagaimana membuat pola bisnis kain tenun Gedog yang terintegrasi.

Baca juga: Home Decor: Peluang Usaha Baru yang Mesti Anda Coba

Prosesnya dimulai dari penanaman kapas sebagai bahan baku utama, penuaian kapas, pembuatan benang, pembuatan warna hingga pembuatan tenun yang siap pakai. Pola bisnis ini melibatkan langsung petani kapas hingga para pengrajin di Kecamatan Kerek.

“Sehingga kami berupaya keras untuk menjualkan, mengarahkan agar bisa produksi lebih baik dan ada nilai jual,” jelasnya.

Menggunakan Pewarna Alami dan Kapas Lokal

Kain tenun Gedog yang dibuat Siti Fatimah Nasih memiliki banyak keunikan. Salah satunya adalah seluruh bahan pewarna kain tenun Gedog berasal dari pewarna alami.

“Pewarnanya ini warna alami. Dari daun tom, dari akar mangga, pelepah mahoni dan lain-lain,” sebutnya.

Selain menggunakan pewarna alami, bahan dasar kain tenun Gedog juga berasal dari kapas lokal. Siti menjamin tidak ada bahan baku yang diimpor dari negara lain. Itulah sebabnya tekstur kain Gedog buatannya sangat halus. Menurut Siti hal ini tentu berbeda dengan kain tenun yang berbahan dasar sintesis yang memiliki tekstur lebih
kasar.

Baca juga: Rajin Ikut Pameran, Pengusaha Perhiasan Ini Bisa Hasilkan Omzet Rp 150 Juta

“Kalau tenun yang lain itu benangnya bisa darimana saja tapi kalau tenun Gedog ini dari tekstur sangat beda dan terbuat seratus persen dari kapas lokal dan tanpa bahan pewarna buatan. Semua warnanya alami. Sebenarnya banyak tenun yang menggunakan warna sintetis, tapi kalau tenun kami ini berupaya keras mempertahankan yang alami,” paparnya.

Foto: Salah satu motif kain Gedog buatan Siti Fatimah Nasih/Dok: indotrading.com
Foto: Salah satu motif kain Gedog buatan Siti Fatimah Nasih/Dok: indotrading.com

Sementara itu untuk motif kain Gedog, Siti menggunakan motif yang sudah dipakai oleh masyarakat di Kecamatan Kerek. Ia juga meminta kepada sang anak untuk membuat desain motif lain yang terkesan lebih modern. Lalu untuk alat tenunnya juga menggunakan alat tenun tradisional yang melibatkan tangan para pengrajin lokal.

“Kalau desain pakemnya mereka memang sudah ada. Tapi kebetulan anak saya bisa gambar ya dia juga ikut menggambar jadi ada inovasi,” katanya.

Dengan begitu, Siti mengaku secara langsung bisa memberdayakan perekonomian masyarakat lokal sekitar. Dengan pola bisnis terintegrasi, petani kapas dan para pengrajin kain Gedog di Kecamatan Kerek, Tuban kini tidak lagi khawatir bagaimana sulitnya mendapatkan uang.

Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Anne Avantie: Pengusaha Sukses yang Hanya Lulusan SMP

“Dulu petani dan pengrajin disana tidak menganggap hal ini bernilai bisnis. Kemudian datang lah kami yang berupaya menjadikan tenun Gedog ini lahan bisnis yang bisa membantu menghidupi mereka,” ucapnya.

Usung Nilai Heritage, Kain Gedog Tuban Dijual Hingga Jepang dan Belanda

Memiliki motif yang khas dan dibuat dengan bahan baku lokal adalah keunggulan yang ditawarkan kain Gedog buatan Siti Fatimah Nasih. Tidak heran bila kain tenun buatannya ini dilirik, dibeli dan dipesan hingga ke mancanegara.

“Kalau dari luar negeri Kebanyakan itu dari Jepang dan Belanda,” ungkap Siti.

Selain diekspor ke dua negara tersebut, kain tenun Gedog buatan Siti juga dibidik kolektor asal Jakarta. “Sementara dari dalam negeri itu kebanyakan kolektor yang berasal dari Jakarta,” sebutnya.

Siti mengaku tidak heran bila banyak kolektor mencari kain tenun Gedog buatannya. Selain dianggap hampir punah, kain Gedog atau biasa masyarakat dulu menyebut kain tenun khas Tuban ini memang memiliki nilai sejarah. Untuk itu, Siti meramu pembuatan kain Gedog dengan balutan kapas lokal dan pewarna alami serta ditenun menggunakan
alat tradisional.

Foto: Salah satu motif kain Gedog buatan Siti Fatimah Nasih/Dok: indotrading.com
Foto: Salah satu motif kain Gedog buatan Siti Fatimah Nasih/Dok: indotrading.com

Alhamdulilah dari sejak tahun 2000-an sampai sekarang laku terus. Sudah banyak orang yang tahu dan mereka merasa tertarik, bahkan ada orang asing yang mau membeli tenun Gedok ini. Jadi ya peluang pasar tenun Gedok terbuka lebar, karena kain tenun Gedog kan termasuk bahan haritage,” tuturnya.

Karena dibuat secara tradisional, kain Gedog buatan Siti dibanderol cukup mahal. Siti membanderol setiap potong kain Gedog seharga Rp 1,7 juta. Meski berharga mahal, permintaaan kain Gedog tidak pernah surut.

“Harganya hingga Rp 1,7 juta/potong. Yang membuat kain tenun mahal itu dari kesulitan menggambarnya (motif) sama pewarnaan aslinya,” ucapnya.

Tingginya minat calon pembeli terhadap kain Gedog berimbas pada pendapatan yang diterima Siti. Setiap bulan, Siti mengaku rutin mendapatkan omzet lebih dari Rp 50 juta.

“Setiap bulan ya kadang Rp 50 juta, bahkan lebih,” sebutnya.

Tak Pernah Takut Disaingi Kompetitor

Dengan semakin besarnya nama kain tenun Gedog, Siti mengungkapkan kini mulai bermunculan kompetitor produk serupa. Namun Siti menegaskan dirinya tidak khawatir disaingi oleh para kompetitornya. Ia justru mengaku senang karena kain tenun Gedog kini tidak lagi langka atau hampir punah.

Baca juga: Berbagi Resep Tips Sukses Ala Anne Avantie

“Saya tidak menganggap mereka itu kompetitor tapi motivator. Saya kadang nanya ke orang lain kiat sukses mereka. Nah dari situ saya jadikan bahan referensi untuk terus berinovasi dan menggali kreatifitas,” tuturnya.

Cukup dikenal dengan kain Gedog, Siti rutin mendapatkan undangan untuk mengikuti pameran baik di dalam maupun luar negeri. Agar masyarakat lebih mengenal kain Gedog, Siti juga telah membuat satu unit galeri di Tuban. Di dalam galeri tersebut, Anda dapat melihat-lihat sejarah dan ragam motif kain Gedog yang dibuat oleh Siti. Sedangkan cara lain yang dikembangkan Siti untuk memperluas jaringan pemasarannya adalah menyediakan informasi melalui media online seperti Facebook dan Instagram.

Foto: Salah satu motif kain Gedog buatan Siti Fatimah Nasih/Dok: indotrading.com
Foto: Salah satu motif kain Gedog buatan Siti Fatimah Nasih/Dok: indotrading.com

“Selain ikut pameran ya paling di rumah dan juga melalui media sosial,” ungkapnya.

Siti mengaku sedikit tidak percaya usaha yang telah dirintis sejak tahun 2000 itu kini kian membesar. Meski memiliki omzet yang cukup besar, motif sesungguhnya Siti menekuni bisnis ini semata-mata hanya untuk memberdayakan masyarakat desa dan menjaga agar kain Gedog tidak punah.

Baca juga: Kakak Adik Ini Raup Omzet Hingga Ratusan Juta Dari Bisnis Batik Adifta

“Motivasi saya bukan hanya uang tapi bagaimana melestarikan dari hulu ke hilir itu bisa berjalan terus. Tidak mati karena perubahan zaman. Saya adalah orang Tuban jadi saya merasa ikut memiliki budaya ini,” tandasnya.

Reporter: Kumi Laila      Penulis: Wiji Nurhayat

0 Comments Lihat semua →


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *