Sosok Inspiratif

Belajar Strategi Marketing Dari Bos Mie Beromzet Puluhan Juta

“Jangan takut untuk membuka usaha tetapi ingat harus diperjuangkan. Orang tentu banyak pertimbangan untuk memulai usaha dan yang sudah Anda putuskan itu harus Anda geluti. Kemudian Anda harus fokus dan perjuangkan bisnis Anda,”

Bisnis kuliner di dalam negeri kian berkembang dan menjadi potensi yang menjanjikan untuk digeluti. Karena pangsa pasar yang besar, banyak pelaku usaha mencoba menjajal peruntungan di sektor ini dengan menawarkan menu yang menarik bagi pelanggan. Salah satu pelaku usaha yang turut berkecimpung di sektor ini adalah Dwi Setiawan dengan mendirikan usaha Mie Mister Hot.

Baca juga: Mengenal Moses Lo, CEO Xendit yang Dikira Orang Indonesia

Kepada indotrading.com, Dwi menceritakan awal mula ia membangun usaha tersebut. Sebelum menekuni usaha Mie Mister Hot, Dwi adalah seorang marketing yang bekerja di salah satu lembaga pendidikan swasta di Jakarta.

Foto: Menu Mie Mister Hot/Dok: Pribadi

Foto: Salah satu menu Mie Mister Hot/Dok: Pribadi

“Sebelum membangun usaha ini, saya berprofesi sebagai marketing selama 8 tahun. Tepatnya sebagai marketing development,” kata Dwi, Rabu (27/7/2016).

Bekerja sebagai marketing menuntut Dwi mampu memasarkan dan memperkenalkan lembaga pendidikan swasta tersebut. Tujuannya tidak lain agar lembaga pendidikan tersebut dikenal masyarakat sehingga banyak siswa baru yang masuk.

Meski mengaku nyaman bekerja sebagai marketing, Dwi mulai berpikir pindah haluan. Ia melirik sektor kuliner yang kian tumbuh dan berkembang juga diminati oleh masyarakat.

“Tetapi saya memperhatikan perkembangan bisnis kuliner bagus. Usaha kuliner nggak ada matinya dan bisa merambah kemana-mana,” tambahnya.

Foto: Pelanggan Mie Mister Hot/Dok: Pribadi

Foto: Pelanggan Mie Mister Hot/Dok: Pribadi

Singkat cerita, peluang untuk membuka usaha kuliner itu akhirnya benar-benar terwujud. Dwi yang tinggal di Solo menceritakan ia kerap bepergian seorang diri ke Cirebon untuk menemui seorang temannya. Di tengah perjalanan, Dwi kerap mampir untuk sekedar beristirahat sebentar dengan mampir ke warung mie yang berada di depan POM Bensin di kawasan Cirebon, Jawa Barat.

“Saya ini orang Solo jadi berkendara sendiri ke Solo-Cirebon. Tidak sengaja saya itu makan di warung mie saat mampir untuk break istirahat di depan Pom Bensin di Cirebon. Ada warung mie dan saya masuk kemudian pesan mie,” tuturnya.

Baca juga: Yukka Harlanda: Pebisnis Sepatu Kulit Tair Bermodal Rp 7 Juta

Ada yang unik saat ia memesan semangkok mie di warung tersebut. Sang penjual lantas menanyakan kepada Dwi tingkat kepedasan dari mie yang nantinya bakal dibuat. Saat itu Dwi mengaku merasa heran.

“Pada saat itu penjualnya bilang mau seberapa pedas mienya. Kalau begitu saya jawab sekian. Saya sebelum makan sudah tahu itu mie enak dan saya rasakan memang enak. Selain pedas, mie tersebut dibuat dengan bumbu sendiri yang dia buat,” kenangnya.

Memilih Resign dan Pilih Bangun Usaha Sendiri

Sejak saat itu, Dwi mulai melirik untuk membuat sebuah usaha yang sama namun dengan konsep berbeda. Tidak berpikir lama, Dwi kemudian memilih resign alias keluar dari dunia marketing yang ia geluti selama 8 tahun. Di tahun 2009, ia kemudian mendirikan usaha kuliner mie yang diberi nama Mie Mister Hot.

“Saya punya ide untuk membuat bisnis seperti ini dengan model kafe,” kata Dwi.

Dengan modal pas-pasan yaitu sebesar Rp 25 juta, akhirnya Dwi membangun usahanya di daerah Cibinong, Bogor. Modal tersebut didapat dari kantongnya sendiri dan pinjaman dari saudara dekatnya.

“Pertama kali buka modal Rp 25 juta. Itu gabungan dari modal saya sendiri ditambah Rp 7-8 juta itu saya ingat saya pinjam ke saudara,” tambahnya.

Membangun usaha baru memang diakui Dwi memerlukan investasi yang cukup besar. Sayangnya karena belum memiliki rekam jejak (track record), Dwi mengaku kesulitan mencari pinjaman modal dari perbankan.

“Saya akui untuk membuka usaha sangat sulit terutama mendapatkan pinjaman dari perbankan,” keluhnya.

Dengan modal yang terbatas, Dwi tetap melanjutkan bisnisnya. Pada saat beroperasi, Dwi dibantu oleh 2 karyawan yang bertugas sebagai koki masak dan asisten koki.

Foto: Menu Mie Mister Hot/Dok: Pribadi

Foto: Menu Mie Mister Hot/Dok: Pribadi

Di awal-awal beroperasi, Dwi sempat merasa putus asa karena omzet yang didapat cukup minim. Pendapatan saat itu tidak dapat menutupi biaya operasional yang dikeluarkan baik untuk keperluan bahan baku, tempat usaha maupun biaya gaji karyawan.

“Pertama buka omzet hanya Rp 300-400 ribu per hari,” katanya.

Tetapi Dwi tidak menyerah, ia tetap melanjutkan usahanya. Ia optimis omzet yang didapat akan terus meningkat. Bagi Dwi, operasional perdana Mie Mister Hot adalah tahap perkenalan dan upaya menjajaki pasar baru di tengah pesatnya industri kuliner di Kota Cibinong.

“Bisnis kuliner ini sudah saya jalankan selama 6 tahun. Pada saat 2 tahun itu dia (omzet) mulai stabil dan perkembangan kenaikan adalah setelah itu. Hal ini karena hampir 90% yang datang adalah pelanggan,” tegasnya.

Terapkan Strategi Multi Marketing

Mau bertahan dan terus mengembangkan usaha adalah filosofi yang dipegang teguh oleh Dwi Setiawan, pemilik kafe Mie Mister Hot. Dwi yang pernah bekerja sebagai Marketing Development selama 8 tahun di salah satu lembaga pendidikan swasta mulai menerapkan strategi multi marketing di usahanya. Berbagai strategi marketing bisnis ia terapkan agar usahanya bisa berkembang dan menaikkan omzet pendapatan.

Baca juga: Sunny Kamengmau: Lulusan SMP yang Sukses ‘Invasi’ Tas Robita ke Pasar Jepang

“Anda bisa membawa 5 orang yang datang tetapi hanya bayar 1 mangkok,” ujarnya.

Kemudian cara lainnya adalah dengan membagikan brosur, pemasaran dari mulut ke mulut hingga memberikan layanan pengiriman langsung. “Delivery order itu juga dikerjakan tim marketing kantor, kita sudah siapkan,” sebutnya.

Foto: Menu Mie Mister Hot/Dok: Pribadi

Foto: Salah satu menu Mie Mister Hot/Dok: Pribadi

Strategi marketing lain yang digunakan adalah dengan memperbanyak menu makanan di kafe Mie Mister Hot. Tidak hanya mie pedas dengan berbagai level yang ditawarkan Dwi, tetapi ada juga menu lainnya seperti nasi goreng, ayam penyet, roti bakar hingga minuman ringan. Harga yang ditawarkan juga cukup murah berkisar Rp 8.000 hingga Rp 15.000/porsi.

Setelah itu, Dwi juga mendesain restoran dengan gaya unik berbasis bambu. Pengunjung juga bisa memilih cara makan yaitu dengan lesehan atau menggunakan meja makan. “Bagi yang tidak duduk di kursi bisa selonjoran,” ucapnya.

Lalu Dwi menerapkan strategi lain yaitu bekerjasama dengan berbagai pihak baik lembaga pendidikan maupun perusahaan untuk bisa mensuplai produk makannya. Hingga menggunakan bahan baku alami tanpa bahan pengawet.

Foto: Kafe Mie Mister Hot di Cibinong/Dok: Pribadi

Foto: Kafe Mie Mister Hot di Cibinong/Dok: Pribadi

“Karena main pedas kami menggunakan bahan-bahan tradisonal. Misalnya Anda ingin Mie Mister Hot Level 6, kita pakai 15 cabai. Awalnya saya pernah menggunakan biang cabai tetapi banyak keluhan dari konsumen karena rasa mual di perut. Kemudian di SOP saya maka mulai saat itu kita murni menggunakan cabai. Ayam dan lain-lain bebas dari formalin. Sekarang saya selalu beli 2 kuintal atau 200 Kg cabai untuk seminggu, itu buat 1 outlet,” paparnya.

Tidak disangka, dengan berbagai jurus jitu marketing yang ia gunakan, omzet yang didapat meningkat cukup signifikan. Dwi saat ini mampu meraup omzet penjualan rata-rata Rp 2-3 juta/hari atau Rp 40-50 juta/bulan. “Semua ini berkat kerja keras dan tidak gampang menyerah,” tukasnya.

Kini Punya 9 Restoran

Berkat kerja keras dan strategi marketing jitu yang dilakukan Dwi Setiawan, usaha Mie Mister Hot berkembang cukup pesat. Dengan omzet rata-rata Rp 40-50 juta per bulan, Dwi kemudian memberanikan diri untuk membuka 1 kafe lainnya di Kota Pekalongan.

Baca juga: Mengenal Budi Yulianto, Pengusaha Sukses Asal Bangka Belitung Pemilik 29 Perusahaan

“Sekarang saya punya 2 outlet pertama di Cibinong dan kedua di Pekalongan. Jadi rata-rata omzet sekarang itu ya sekitar Rp 90 juta,” kata Dwi.

Seiring berjalannya waktu, di tahun 2014 Dwi mantap menawarkan program kemitraan usaha. Kini total sudah ada 9 gerai kafe Mie Mister Hot yang beroperasi. Masing-masing tersebar di Cibinong, Pekalongan, Bandung, Serang, Cikarang, Denpasar, dan Banjarmasin

Jika Anda berminat, ada paket investasi senilai Rp 40 juta yang ditawarkan Dwi. Mitra akan mendapat bahan baku bumbu sambal sebanyak 500 porsi, perlengkapan dan peralatan usaha, media promosi seperti spanduk, baleho, umbul-umbul, brosur, SOP, dan pelatihan karyawan. Paket tersebut sudah termasuk franchise fee sebesar Rp 25 juta selama lima tahun.

Nah khusus di bulan Agustus 2016 ini Dwi menawarkan program spesial. Anda cukup membayar Rp 20 juta untuk membuka kafe Mie Mister Hot sudah termasuk franchise fee dan perlengkapan lain-lain. “Kita juga back up marketing full selama 2 minggu,” tambahnya.

Foto: Salah satu gerai Mie Mister Hot/Dok: Pribadi

Foto: Salah satu gerai Mie Mister Hot/Dok: Pribadi

Setelah itu, hasil usaha mitra akan dievaluasi dan bisa dilanjutkan dengan memasok bahan baku bumbu pedas. Pusat mengutip biaya royalti 2% setiap bulan.

Mie Mister Hot menyediakan total 32 menu makanan dan 14 menu minuman. Menu andalannya mie dengan level kepedasaan level 6 hingga level 12. Harga jual makanan mulai dari Rp 8.000 hingga Rp 16.000 untuk mie, Rp 12.000 hingga Rp 15.000 untuk menu nasi plus ayam penyet. Sementara harga minuman mulai dari Rp 3.000 hingga Rp 10.000 per gelas.

Menjadi pengusaha sukses di bidang kuliner tidak melulu membuat Dwi besar kepala. Ia mengaku usaha yang digeluti sejak tahun 2009 itu memiliki banyak hambatan, terutama di sektor permodalan.

Baca juga: Thierry Detournay Si Kreator Sukses Cokelat Jawa Cita Rasa Belgia

“Oleh karena itu saya punya saran agar pemerintah mungkin bisa memberikan subsidi kepada pengusaha kecil karena usaha seperti ini kan membuka lapangan pekerjaan. Orang yang tidak punya agunan sulit mendapatkan pinjaman. Mungkin konteksnya lebih dipermudah peminjaman modal bagi usaha mikro,” paparnya.

Kemudian sebagai pengusaha, ia juga memberikan saran khusus kepada pengusaha lain agar bisa maju dan berkembang seperti dirinya.

“Jangan takut untuk membuka usaha tetapi ingat harus diperjuangkan. Orang tentu banyak pertimbangan untuk memulai usaha dan yang sudah Anda putuskan itu harus Anda geluti. Kemudian Anda harus fokus dan perjuangkan bisnis Anda,” tutupnya.

Penulis  : Wiji Nurhayat  Editor  : Wiji Nurhayat

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top