Business Tips

4 Perusahaan Paling Kontroversial di Dunia

Adakah sebuah perusahaan yang benar-benar sempurna tanpa pernah melakukan satupun kesalahan? Demi keuntungan, kadang hal-hal kontroversial tak dapat terhindarkan untuk dilakukan.

Setiap perusahaan memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, tak terkecuali perusahaan-perusahaan besar yang terlihat sempurna dan tanpa cacat sedikitpun dari luarnya. Namun, tahukah Anda bahwa di balik kesuksesan sebuah perusahaan besar, ada  kontroversi yang melingkupi perjalanan bisnisnya? Daftar perusahan berikut ini akan memberikan pelajaran kepada kita bahwa perjalanan bisnis tidak boleh hanya melibatkan ambisi untuk mendominasi. Prinsip-prinsip dan peraturan yang ada sebaiknya tetap dipatuhi, tidak lantas dilanggar demi meraih keuntungan semata. Berikut ulasannya:

  1. Microsoft: Monopoli Bisnis & Manipulasi API

microsoft

Kasus ini bermula ketika Microsoft diduga sengaja memasukkan search engine Internet Explorer ke dalam sistem operasi yang dimiliki oleh Microsoft Windows. Keadaan tersebut tentu membuat search engine lain seperti Opera dan Netscape kesulitan untuk mendapatkan pangsa pasar. Terlebih lagi bagi Netscape, hal ini menjadi pukulan telak bagi mereka karena merekalah yang tadinya menjadi search engine di dunia maya pada era 1990-an. Microsoft diduga dengan sengaja melakukan dominasi bisnis terhadap perusahaan lain melalui kasus ini.

Gates mengatakan pembelaannya bahwa keterkaitan antara Microsoft Windows dan Internet Explorer adalah konsekuensi dari inovasi dan kompetisi. Namun perilaku yang ditunjukkan oleh Microsoft di pasar IT menurut para ahli hukum justru menunjukkan sikap yang anti terhadap kompetisi. Microsoft bahkan diduga melakukan manipulasi terhadap API (Application Program Interface) yang mereka miliki untuk mendukung Internet Explorer mengalahkan search engine lainnya di dunia maya pada waktu itu.

Microsoft akhirnya dikenakan undang-undang Sherman Antitrust bagian 1 dan 2. Penuntutan ini dimulai oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat (setingkat dengan Kejaksaan Agung di Indonesia) pada 18 Mei 1998. Proses penuntutan ini juga melibatkan 20 negara bagian Amerika Serikat dan dipimpin oleh Joel I. Klein dalam proses penuntutan ini.

Semenjak 1983, Microsoft sudah menguasai pasar IT di Amerika Serikat, seiring dengan munculnya world wide web pada pertengahan tahun 1990-an, Microsoft ikut meramaikan persaingan untuk memperebutkan pasar di bidang search engine. Internet Explorer sendiri saat ini pamornya sudah menurun jauh dibandingkan dengan masa-masa jayanya di akhir 90-an dan awal 2000-an. Semenjak kemunculan Firefox pada 2004 dan Google Chrome pada 2008, bisnis search engine telah bergeser, bahkan berubah total.

Menurut data yang didapatkan oleh StatCounter pada bulan Juni 2015, hanya Jepang yang masih memakai Internet Explorer sebagai peramban utama mereka di dunia maya. Setelah berakhirnya era Microsoft XP, Internet Exlorer tidak lagi sepenuhnya aktif di sistem operasi milik Windows. Selain itu, implementasi Internet Explorer di Mac dan Unix telah dihentikan.

Microsoft juga pernah melakukan “pemaksaan” yang hampir sama dengan cara yang agak berbeda kepada konsumennya yakni dengan mengaktifkan automatic updates to Windows 10 kepada para pengguna Windows generasi sebelumnya. Para pengguna Windows 7 dan XP mengeluhkan banyaknya program mereka yang mengalami crash setelah meng-update sistem operasinya menjadi Windows 10. Microsoft juga sempat terjebak dalam kasus monopoli bisnis pada tahun 1998-2001.

Baca juga: 4 Tipe Orang yang Akan Membantu Anda Meraih Kesuksesan

 

  1. Google: Menghindari Pajak Secara Agresif

Google

Persoalan membayar pajak memang menjadi hal yang sangat sensitif bagi beberapa kalangan pebisnis, termasuk perusahaan besar seperti Google. Cukup banyak pengusaha yang berusaha untuk mengakali pajaknya dengan cara yang legal maupun ilegal. Pada bulan Oktober 2012 yang lalu, Google menolak untuk membayarkan pajak pendapatannya sebesar US$ 2 Milliar. Selain itu, Google juga memindahkan US$ 10 Milliar atau 80 persen keuntungannya yang belum kena pajak ke Bermuda.

Bagi kalangan konglomerat, praktik seperti ini memang sudah menjadi hal yang biasa dilakukan oleh para konglomerat bisnis. Mereka memindahkan uang  ke negara-negara yang memberlakukan peraturan bebas pajak pendapatan seperti Swiss, Luxemburg, Kepulauan Cayman, Isle of Man, Bermuda, Puerto Rico, British Virgin Island, Liechtenstein, Seychelles, St Kitts and Nevis, Costa Rica, dan lain sebagainya.

IRS (Internal Revenue Service), lembaga keuangan Amerika Serikat yang bertanggung jawab dalam hal pemungutan pajak, termasuk auditor keuangan Google melaporkan bahwa strategi Google agar tidak dikenakan pajak adalah dengan cara menyimpan pendapatan kena pajaknya ke Irlandia, kemudian dipindahkan ke Belanda, dan akhirnya disimpan di Bermuda. Irlandia dan Belanda juga masuk dalam kategori negara yang memberlakukan pajak yang sangat rendah kepada para pebisnis. Langkah yang dilakukan oleh Google untuk mengamankan keuntungannya tersebut terbilang strategi jitu.

Pada bulan Mei 2013, Margaret Hodge MP selaku Kepala United Kingdom Public Accounts Committee menuduh bahwa tindakan Google ini sebagai tindakan yang tidak etis. Kontroversi semakin mencapai puncak ketika Chairman Google yaitu Eric Schmidt mengklaim bahwa skema tersebut merupakan bentuk kapitalisme dan dia merasa bangga sekali bisa melakukannya.

Banyak kalangan yang sudah mengkritik keberadaan negara-negara offshore tax havens ini. Menurut beberapa kalangan, terutama para ekonom penganut paham Keynesian, adanya negara-negara offshore tax havens akan membuat ketimpangan sosial semakin tinggi.

Baca juga: 10 Ciri-Ciri Orang Sukses di tempat Kerja

 

  1. Standard Oil Company: Monopoli Bisnis Minyak dan Gas Bumi

standard oil companyTidak ada perusahaan yang memiliki reputasi monopoli terparah di dunia selain perusahaan yang didirikan oleh John D. Rockefeller ini. Perusahaan multinasional ini memang sudah resmi beralih fungsi sejak 1911 karena kasus monopoli yang menderanya. Namun setelah itu muncul puluhan anak-anak perusahaan Standard Oil Company seperti Chevron, Exxon, dan beberapa perusahaan migas berukuran menengah yang diakuisisi oleh British Petroleum yang menguasai hampir 90% kilang minyak di Amerika Serikat hingga saat ini.

Lalu, bagaimana cara Standard Oil Company melakukannya? Di tahun 1880, Standard Oil Company menggunakan pangsa pasarnya yang besar untuk mengintegrasikan kapasitas penyulingan, eksplorasi minyak, distribusi minyak mentah, dan kemudian membangun distribusi retail untuk menjual produknya. Perusahaan ini bahkan juga turut mendirikan pompa bensin di seluruh Amerika Serikat. Hampir satu dekade berikutnya, Standard Oil Company membeli seluruh perusahaan-perusahaan oil refining (penyulingan minyak) di seluruh Amerika Serikat.

Hal inilah yang membuat pihak aparat hukum menaruh kecurigaan terhadap sistem operasional bisnis Standard Oil Company. Tak lama setelah kecurigaan muncul, hasil investigasi menunjukkan fakta bahwa Standard Oil Company memang dengan sengaja melakukan monopoli dan ingin menghilangkan kompetisi antarperusahaan migas di Amerika Serikat. Perusahaan ini dikenakan Sherman Antitrust Act karena telah melanggar ketentuan hukum tentang persaingan dagang.

Seorang wartawan yang juga merupakan pendiri majalah Forbes yaitu B.C. Forbes mengatakan bahwa pada masa itu, Standard Oil Company memiliki teknologi penyulingan minyak yang tak tertandingi dan secara konsisten mampu menghasilkan produk-produk kerosin yang berkualitas.

Terkait motif perusahaan Standard Oil Company melakukan monopoli bisnis, semuanya tergantung pada pemegang kendali perusahaan tersebut, yakni John D. Rockefeller. Hampir tidak ada yang menyangkal bahwa John D. Rockefeller merupakan orang yang kontroversial, disamping sebagai salah satu orang paling kaya dalam sejarah dunia di awal abad ke-20. Kutipan-kutipan John D. Rockefeller seperti ini “the way to make money is to buy when blood is running in the streets” atau “I always tried to turn every disaster into an opportunity” menjadi salah satu ciri bahwa John D. Rockefeller adalah seorang yang bisa menghalalkan banyak cara untuk mendapatkan keuntungan ketika bencana terjadi.

Ida Tarbell merupakan wartawan perempuan pertama yang membukukan dan merekam dengan detail keganasan Standard Oil Company dalam melakukan monopoli bisnis di Amerika Serikat mulai akhir abad 19 hingga awal abad ke 20. Bukunya yang berjudul The History of the Standard Oil Company menjadi salah satu rujukan Departemen Kehakiman Amerika Serikat dalam melakukan penuntutan terhadap perusahaan migas multinasional tersebut.

 

  1. Gazprom vs Greenpeace= Bisnis Triliunan Kubik Gas Alam vs Konservasi Lingkungan Hidup

gazpom

Masih di lingkungan perusahaan migas, kali ini perusahaan kontroversial yang muncul adalah perusahaan yang mengelola gas alam milik Rusia. Gazprom menjadi buah bibir media massa internasional ketika mereka berencana untuk mendirikan Shtokman Field yang berada di kawasan Laut Barents. Sekadar informasi, Shtokman Field yang berada di kawasan Laut Arctic, tepatnya di sebelah utara Rusia, Norwegia, dan Swedia adalah ladang gas alam terbesar di dunia, yakni sebesar 3,8 trilliun meter kubik dan lebih dari 37 juta ton gas kondensat.

Greenpeace adalah organisasi yang paling gencar dalam melakukan perlawanan terhadap proses drilling yang dilakukan Gazprom di Laut Arctic. Walaupun sudah mendapatkan kecaman dari banyak pihak, pemerintah Rusia yang menjadi penggerak Gazprom tetap mengoperasikan Shtokman Field. Ada dua kejadian yang kian memanaskan hubungan antara Gazprom dan Greenpeace. Pertama, dikibarkannya spanduk oleh pihak Greenpeace yang bertuliskan “Gazprom Don’t Foul The Arctic” pada laga Liga Champions antara Basel vs Schalke 4 pada Oktober 2013 yang lalu. Gazprom merupakan sponsor utama dari klub Sepak Bola asal Jerman yakni Schalke 04 yang bermain di laga itu. Karena pertandingan itu merupakan laga di tingkat Eropa yang dilihat banyak sekali media kemudian berita dengan cepat menyebar bahwa Greenpeace sedang melakukan upaya perlawanan yang tidak main-main terhadap Gazprom.

Kejadian kontroversial kedua ialah ketika 30 aktivis Greenpeace ditangkap oleh pemerintah Rusia karena nekat masuk ke wilayah pengeboran gas milik Rusia di Laut Arctic untuk melakukan protes. Seorang petugas keamanan dari pihak Rusia bahkan sempat menodongkan pisau kepada seorang aktivis Greenpeace yang mencoba mendekati kapalnya. Usaha yang dilakukan oleh Greenpeace ini tentu saja ditujukan kepada Gazprom karena Gazprom adalah satu-satunya perusahaan migas terbesar yang dimiliki oleh Rusia. Perseteruan antara Gazprom dan Greenpeace dalam membela kepentingannya masing-masing kemungkinan besar akan tetap berlanjut di tahun-tahun yang akan datang mengingat Greenpeace selalu dikonotasikan sebagai representasi pihak Western World. (leo/editor: erlin)

Baca juga: 8 Alasan Mengapa Entrepreneur Lebih Banyak Membutuhkan Relasi Bisnis daripada Teman

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
WordPress Image Lightbox Plugin