Para Pengusaha Ini Akhirnya Sukses Dengan Modal Nekat dan Berani Ambil Resiko

Mendapatkan kesuksesan adalah mimpi bagi setiap orang. Hanya saja untuk meraih sukses bukanlah perkara yang mudah. Diperlukan keberanian, kerja keras hingga usaha tidak gampang menyerah.

Hal ini juga dirasakan oleh banyak pelaku bisnis. Tidak sedikit dari mereka yang berhasil tetapi ada juga yang gagal. Sedangkan beberapa diantaranya justru mampu membesarkan bisnis yang mereka tekuni sejak awal.

Kali ini, indotrading.com akan mengulas kembali cerita para pebisnis sukses yang memiliki omzet puluhan hingga ratusan juta rupiah per bulannya. Uniknya, kesuksesan yang mereka raih didapat dari modal nekat dan keberanian mengambil resiko. Siapa saja mereka? berikut ini ulasannya, Rabu (14/9/2016).

1. Peter Thaveepolcharoen Owner Daddy Dough

Kisah inspiratif pertama datang dari pebisnis asal Thailand, Peter Thaveepolcharoen. Peter yang berusia 33 tahun kini menjadi salah satu produsen donat terbesar dan terkenal di Thailand.

Lewat brand buatannya Daddy Dough, Peter kini mampu menjual 15.000 donat per hari kepada masyarakat Thailand. Selain itu, Daddy Dough juga menjadi pemain penting bisnis donat di Thailand bersaing dengan Dunkin Donuts dan Mr. Doughnut.

Foto: pemilik Daddy Dough, Peter Thaveepolcharoen/Dok: indotrading.com
Foto: pemilik Daddy Dough, Peter Thaveepolcharoen/Dok: indotrading.com

Perjuangan Peter membangun Daddy Dough juga dilalui dengan cara yang tidak mudah. Peter harus menggelontorkan dana tidak kurang 5 juta Baht. Dana tersebut digunakan untuk membeli bahan baku yang sebagian besar diimpor dari Amerika Serikat (AS) dan Belgia. Kemudian dari dana itu juga, Peter mampu membangun 1 unit outlet donat.

Tidak hanya itu, saat membangun bisnis ini di tahun 2006, Peter berani mengambil langkah berani yaitu meninggalkan pekerjaannya (resign) sebagai karyawan di salah satu perusahaan software dan IT. Peter memang mengaku tidak nyaman saat bekerja sebagai tenaga marketing di perusahaan itu.

Foto: Berbagai variasi rasa topping Daddy Dough/Dok: indotrading.com
Foto: Berbagai variasi rasa topping Daddy Dough/Dok: indotrading.com

Setelah resign, Peter menceritakan keluh kesahnya kepada sang ayah. Sang ayah mendorong Peter untuk menentukan masa depannya sendiri. Namun dari ucapan sang ayah juga, ide membuka bisnis donat itu muncul.

“Lalu kemudian ayah saya mendorong saya untuk membuka usaha donat dimana pada waktu itu sekitar tahun 2006 bisnis donat ini belum begitu dikenal di sana (Thailand). Akhirnya setelah mendapatkan dukungan dari ayah saya, saya keluar dari perusahaan IT dan mencoba membangun bisnis donat,” tutur Peter.

Singkat cerita, kini dengan 40 variasi donat yang berhasil ia buat, Peter menjadi salah satu pebisnis muda di Thailand yang patut diperhitungkan. Dengan slogannya Daddy Dough, The Great Taste to Share, Peter mentargetkan mampu membawa Daddy Dough ke kancah dunia.

Baca selengkapnya: Resign Dari Perusahaan IT Kini Peter Sukses Jadi Bos Donat di Thailand

2. Marsya Anjani Helmi Owner Granuluv

Marsya Anjani Helmi tidak pernah mengira bila ia mampu menjadi pengusaha sukses di umurnya yang masih muda. Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, Marsya sukses melahirkan makanan ringan granola dengan brand Granuluv.

Granuluv yang kemudian membawa Marsya menjadi sosok penting pebisnis wanita dengan omzet Rp 30 juta per bulan. Siapa yang mengira, pertama kali sat ia membangun bisnis Granuluv yaitu di Februari 2016 modal yang dikeluarkan hanya Rp 2 juta. Modal itu juga didapat dari patungan uang dengan seorang temannya.

Marsya menceritakan bila ia memang telah lama jatuh hati sebagai konsumen setia granola. Dari sana, Marsya ditantang oleh temannya untuk membuat dan mengolah sendiri granola.

Foto: Pemilik usaha Granuluv, Marsya Anjani Helmi/Dok: indotrading.com
Foto: Pemilik usaha Granuluv, Marsya Anjani Helmi/Dok: indotrading.com

Granola adalah sejenis makanan ringan yang dibuat dengan bahan dasar gandum. Gandum tersebut lalu dipanaskan dengan menggunakan mesin oven dengan suhu tertentu hingga mengering. Setelah gandum dianggap sudah kering kemudian dicampur dengan biji-bijian yang kaya akan nutrisi seperti kacang almon atau bisa juga dicampur dengan buah- buahan kering yang kaya akan vitamin seperti kismis.

Singkat cerita, Marsya berhasil membuat dua rasa granola yaitu madu dan cokelat. Kemudian granola dikemas dengan menarik dan ia tawarkan kepada teman kantor hingga promosi lewat media sosial. Usahanya ini mendapatkan respon positif.

Jiwa bisnis Marsya muncul setelah ia berhasil mendapatkan keuntungan lebih dan mengetahui bila pasar granola di Indonesia cukup besar. Untuk menekuni bisnis Granuluv, Marsya berani ambil resiko yaitu dengan mengundurkan diri (resign) sebagai karyawan di salah satu perusahaan swasta.

“Dan hasilnya ternyata lumayan. Nah setelah melihat respon yang positif ini aku pun akhirnya memutuskan untuk keluar dari pekerjaan dan menekuni bisnis ini,” kata Marsya.

Foto: Berbagai macam produk Granuluv/Dok: indtrading.com
Foto: Berbagai macam produk Granuluv/Dok: indtrading.com

Pilihan resign diambil Marsya karena ia ingin fokus membangun bisnis Granuluv. Apalagi untuk membuat menu baru dan mengurus perizinan usaha dianggap Marsya cukup sulit dan menyita banyak waktu.

Kemudian dengan prinsip sehat dan aman dikonsumsi, Marsya harus bisa memastikan bila produksi Granuluv buatannya sudah sesuai dengan standar keamanan pangan yang ditetapkan oleh pemerintah. Oleh karena itu, resign dianggap sebagai pilihan yang tepat.

“Aku pun coba seriusin ini, aku browsing-browsing terkait granola akhirnya terbentuklah sebuah resep kalau granola aku ini mix dengan kacang-kacangan dan buah-buahan. Awalnya ya aku itu suka banget kerja kantoran. Cuma setelah dijalani ternyata aku nggak cocok dengan pekerjaan itu dan waktunya tidak efisien. Nah setelah menjalani usaha ini tenyata selain aku punya waktu sendiri, omzetnya lebih banyak dari gajiku, dan waktu juga sangat efisien. Lalu peluang untuk bisnis ini juga terbuka besar,” katanya.

Baca selengkapnya: Kreatif! Bermodal Rp 2 Juta, Marsya Raup Omzet Rp 30 Juta Dari Jualan Granuluv

3. Yuliana Lim Owner Chameo Couture

Sosok pebisnis selanjutnya adalah Yuliana Lim (36). Yuliana dikenal sebagai pebisnis tas rotan sintetis dengan brand Chameo Couture. Kini tas Chameo Couture melalang- buana hingga ke Amerika Serikat (AS), Paris (Prancis), Milan (Italia) dan Tokyo (Jepang).

Saat memulai bisnis ini di tahun 2007, dilalui Yuliana dengan cukup mudah. Namun cobaan muncul di tahun 2008 hingga Yuliana menderita banyak kerugian dan nyaris bangkrut.

Kisahnya dimulai saat Yuliana mendapatkan pasokan tas anyaman rotan dari para pengrajin di Yogyakarta. Tas-tas tersebut kemudian dijual kembali di Jakarta. Awalnya kerjasama ini berjalan mulus, tetapi lama-lama Yuliana mengaku ada yang tidak beres.

Foto: Pemilik Chameo Couture, Yuliana Lim/Dok: indotrading.com
Foto: Pemilik Chameo Couture, Yuliana Lim/Dok: indotrading.com

Jarak yang jauh antara Jakarta dan Yogyakarta kerap menimbulkan masalah terutama soal mis komunikasi yang menyebabkan lemahnya kontrol produksi. Hasilnya, kualitas tas anyaman rotan sintetis yang dihasilkan tidak sesuai dengan keinginan Yuliana. Sejak kejadian tersebut, usaha yang dijalani wanita kelahiran Sukabumi 27 Juli 1980 bangkrut. Barang yang dipesan tidak terjual dan ia merugi hingga ratusan juta rupiah.

“Itu hampir satu tahun (2007-2008) berjalan seperti itu terus, hingga saya mengalami kerugian ratusan juta. Pada waktu itu saya nangis banget ya, soalnya itu kan uang modal awal saya,” tambahnya.

Kerugian yang dialami Yuliana justru menjadi pelajaran terutama dalam mengelola bisnis yang lebih profesional. Apalagi kecintaannya pada dunia fashion membuat ia setia dankembali menekuni usahanya ini tentunya dengan pola bisnis yang berbeda.

Kemudian ia tidak lagi bekerjasama dengan para pengrajin di Yogyakarta. Ia lalu memindahkan kegiatan produksi tas Chameo Couture ke Jakarta. Setelah itu, ia mencari penjahit serta pengrajin yang mau bekerja langsung dengan dirinya. Satu unit mesin jahit juga dibeli dan dengan modal seadanya Yuliana bertekad membangun kembali bisnisnya itu.

Foto: Pemilik Chameo Couture, Yuliana Lim/Dok: indotrading.com
Foto: Pemilik Chameo Couture, Yuliana Lim/Dok: indotrading.com

Akhirnya usaha Chameo Couture kembali berjalan. Yuliana mampu memproduksi jenis tas dengan kualitas premium dan harga yang cukup mahal yaitu antara Rp 920 ribu sampai Rp 2.640 ribu. Selain diekspor ke berbagai negara, tas-tas buatannya kini juga banyak dinikmati oleh istri-istri pejabat.

“Target market kita sih sebenarnya wanita usia start 21-60 tahun. Kalau customer datang dari berbagai kalangan yang pasti customer saya mencintai barang Indonesia. Yang sudah menggunakan brand saya ini dari kalangan pejabat diantaranya istri Gubernur Pak Ahok bahkan dia meminta untuk dibuatkan costum design. Ada Ibu Jusuf Kalla, Ibu Ani Yudhoyono, Ibunya pak Jokowi pun pakai tas ini,” ujarnya.

Baca selengkapnya: Pernah Bangkrut, Yuliana Lim Raup Untung Dari Tas Rotan Sintetis

4. Yadi Aryadi Owner Amazon Pet Shop

Kisah selanjutnya datang dari Yadi Aryadi. Pria asal Tasikmalaya kelahiran 23 Maret 1984 itu dikenal sebagai pemilik usaha Amazon Pet Group dengan omzet per bulan mencapai miliaran rupiah.

Yadi awalnya adalah bukan siapa-siapa. Ia hanyalah seorang pria lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Di tahun 2005, ia kemudian memilih hijrah ke Jakarta dengan tujuan mengubah nasibnya jauh lebih baik.

Datang ke Jakarta hanya bermodal sertifikat lulusan SMP. Yadi sama sekali tidak memiliki skill (kemampuan) dan pengalaman bekerja. Namun niat untuk mengubah kehidupannya lebih baik menguatkan tekatnya untuk hidup dan tinggal di Jakarta.

Hingga akhirnya ia bertemu teman kakaknya yang bekerja di sebuah pet shop (kios pemeliharaan hewan) ternama di Bilangan Blok M, Jakarta Selatan. Lalu ia pun diterima sebagai staf di bagian grooming hewan.

Foto: Pemilik usaha Amazon Pet Group Yadi Aryadi/Dok: Pribadi
Foto: Pemilik usaha Amazon Pet Group Yadi Aryadi/Dok: Pribadi

Namun hanya butuh waktu sekitar 2 tahun bagi Yadi bekerja di pet shop. Berbekal kemampuan grooming hewan peliharaan, Yadi cukup berani memilih mengundurkan diri (resign) dan membuka sendiri usaha jasa membersihkan hewan peliharaan.

Menjalani usaha baru, Yadi tetap menawarkan jasa membersihkan hewan seperti memandikan, memotong kuku, hingga mencukur rambut kucing dan anjing peliharaan. Ia tidak ragu untuk menawarkan jasanya dari satu rumah ke rumah lain. Terkadang ia juga menelepon orang-orang yang pernah membeli hewan peliharaan dari perusahaan tempatnya dulu bekerja. Ternyata usaha kerja kerasnya disambut positif masyarakat terutama yang berada di sekitar daerah Bekasi.

Kerja keras dan tidak gampang menyerah yang dilakukan Yadi Aryadi dalam menekuni usaha grooming hewan mulai memberikan hasil positif. Yadi dilirik dan diajak bekerjasama oleh salah satu pemilik modal.

Yadi mencoba meyakinkan pemodal tersebut dengan memberikan semacam proposal sebagai gambaran rencana bisnis yang bakal dia jalani. Yadi mengungkapkan butuh waktu sekitar satu bulan agar pemodal itu luluh dan mau bekerjasama.

Foto: Salah satu outlet Amazon Pet Group milik Yadi Aryadi/Dok: Pribadi
Foto: Salah satu outlet Amazon Pet Group milik Yadi Aryadi/Dok: Pribadi

Akhirnya dengan skema bagi hasil yang telah disepakati, dana Rp 100 juta kemudian digelontorkan oleh pemodal. Dengan dana tersebut, Yadi mampu menyewa satu kios di Jalan Kalimalang, Bekasi hingga membeli segala jenis makanan, perlengkapan asesoris dan kandang hewan. Usahanya diberi nama Amazon Pet Group.

Singkat cerita, Amazon Pet Group rintisan Yadi Aryadi ternyata berkembang dengan cepat. Pelayanan yang maksimal, tepat waktu hingga menjual pernah-pernik hewan peliharaan berkualitas memberikan kepuasan dari para pelanggan setia.

Setelah mendirikan usaha di Kalimalang, Bekasi, pada tahun 2009 Yadi memperluas lokasi dengan menambah satu cabang lainnya di daerah Pondok Gede, Jakarta Timur. Kemudian setiap tahun Yadi rutin berekspansi dengan mendirikan outlet baru. Hingga saat ini total ada 15 cabang outlet dengan nama Garden Pet Shop.

Lewat 15 cabang pet shop yang digerakan oleh 100 orang karyawan ini, Yadi mampu meraup omzet hingga Rp 2 miliar/bulan. Dalam menjalankan bisnisnya, Amazon Pet Shop dan Garden Pet Shop menjual berbagai makanan, asesoris, hingga obat-obatan hewan terutama untuk kucing dan anjing. Selain itu, outlet juga menawarkan berbagai jasa membersihkan hewan seperti memandikan, memotong kuku, hingga mencukur rambut. Layanan lain yang ditawarkan adalah berupa jasa penitipan hewan hingga klinik untuk memeriksa kesehatan hewan.

“Per bulannya omzet gabungan semua (semua cabang yang berjumlah 15) itu Rp 1-2 miliar,” sebut Yadi.

Baca selengkapnya: Yadi Aryadi Si Miliarder Pet Shop yang Hanya Lulusan SMP

Penulis: Wiji Nurhayat    Editor: Wiji Nurhayat

0 Comments Lihat semua →


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *