Inspiration

Belajar Menjadi Pengusaha Sukses Ala Bos Rendang Nenek

Ivan Diryana (41) bersama sang istri, Intan Rahmatillah (33) telah sukses menjalankan bisnis Rendang Nenek. Mereka berdua mulai berbisnis Rendang Nenek di tahun 2011 dan hanya bermodal Rp 1 juta.

Tetapi siapa sangka, kini Ivan yang mantan karyawan di Garuda Maintenance Facility (GMF-AeroAsia) telah memiliki omzet jutaan rupiah. Bahkan di periode Ramadan hingga Lebaran tahun ini, ia memprediksi omzet penjualan Rendang Nenek bakal melonjak hingga Rp 300 juta. Pencapaian ini lebih besar dibandingkan pencapaian tahun lalu yang hanya Rp 100 juta.

Tidak hanya itu, Ivan kini memiliki karyawan hingga 10 orang. Kapasitas produksi juga diperbesar dengan dukungan peralatan yang modern.

Dari segi pemasaran, produk Rendang Nenek sudah mencakup Aceh dan Papua meski pasar yang paling besar adalah Jabodetabek dan Bandung. Di sisi yang lain, produk Rendang Nenek juga sudah Go International seperti ke Brunei Darusallam, Jepang, Prancis, Jerman dan negara-negara Eropa lainnya.

Baca juga: Ivan Diryana: Mantan Teknisi ‘Peracik’ Bisnis Rendang Nenek

Hal ini menambah keyakinan Ivan bila bisnis Rendang Nenek bakal terus berkembang ke depan. Ivan memliki target, produk Rendang Nenek bisa menguasai pasar domestik dan dikenal masyarakat Indonesia.

Ivan Diryana pendiri Rendang Nenek/Dok: Pribadi

Ivan Diryana pendiri Rendang Nenek/Dok: Pribadi

Kesuksesan yang diraihnya saat ini tidak membuat Ivan besar kepala alias sombong. Ivan tidak ragu memberikan tips dan trik secara cuma-cuma bagaimana menjadi seorang pengusaha yang sukses.

“Harus konsisten,” tegas Ivan saat bercerita kepada indotrading.com, Jumat (24/6/2016).

Ivan kemudian bercerita, sebelum ia mendirikan usaha Rendang Nenek, ada bisnis lain yang dijalankan. Tetapi bisnis itu selalu gagal karena diakuinya tidak konsisten. Namun setelah menekuni bisa Rendang Nenek, ia mencoba fokus hanya untuk mengembangkan Rendang Nenek.

Alhamdulillah istri saya yang membuat usaha ini bisa konsisten, berjalan dari hari ke hari,” jelasnya.

Selain konsisten memulai sebuah bisnis sebaiknya jangan berharap terlalu banyak bagaimana mendapatkan profit. Yang harus dipikirkan adalah bagaimana bisnis ini bisa terus beroperasi pada tahun pertama dan seterusnya.

“Tetap konsisten jangan pindah-pindah usaha sebelum benar-benar tidak bisa diusahakan lagi atau sebelum usaha kita mampu berdiri sendiri. Tetap berusaha melakukan perbaikan demi perbaikan, membangun sistem yang lebih baik lagi. Profit Insya Allah akan datang mengikuti,” paparnya.

Kemudian hal lain yang perlu diperhatikan pelaku usaha adalah pemasaran (marketing), keuangan (finance), karyawan (human resource) hingga penggunaan IT. Dari keempat hal tersebut, yang ditekankan Ivan adalah sisi pemasaran (marketing).

Dalam melakukan pemasaran menurut Ivan harus dengan perhitungan yang matang. Pelajari dengan baik segmen pasar, target pasar hingga posisi kita di dalam pasar itu. Diakui Ivan pelaku usaha kecil menengah (UKM) di Indonesia masih melakukan pemasaran secara asal-asalan.

“Pemasaran bukan hanya masalah promosi saja tapi bagaimana menciptakan nilai yang memiliki daya saing. Oleh karena itu pelajari teori-teori pemasaran karena itu akan bermanfaat dalam membantu mengembangkan usaha kita,” tekannya.

Bantuan pemerintah seperti permodalan dan kebijakan lain yang pro kepada pelaku usaha UKM juga penting. Pemerintah harus melihat peran pelaku UKM di Indonesia tidak sebelah mata. UKM terbukti bisa bertahan saat krisis ekonomi dan mampu mendorong ekonomi Indonesia untuk bangkit kembali.

“Jadi jika ingin ekonomi Indonesia maju, pemerintah harus memajukan UKM. Saat ini memang pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mendorong UKM, namun yang saya rasakan masih belum efektif dan masih belum tepat sasaran, lebih banyak upaya menghabiskan anggaran tahunan ketimbang benar-benar membantu UKM,” kritik Ivan.

Baca juga: Pendiri Wardah: Membangun Bisnis Tidak Dengan Cara Instan

Terakhir, ada pesan khusus yang disampaikan Ivan. Pesan ini dinilainya penting dan menjadi acuan hidupnya terutama dalam berbisnis.

“Jangan memaksakan diri, jika belum waktunya jangan dipaksakan. Ini berkaitan dengan gaya hidup. Kalau belum waktunya memiliki barang mahal, jangan dipaksakan. Kalau memang belum waktunya berlibur keluar negeri, ya jangan dipaksain. Nggak perlu sampai nyicil demi iPhone terbaru kalau memang nabung saja masih susah. Orang Indonesia itu banyak yang hidup demi gaya, nggak apa-apa nyicil asal gaya. Jangan, gaya itu hanya persepsi saja yang dibuat oleh orang-orang pemasaran dan lingkungan kita,” tutup Ivan.

 

Penulis   : Wiji Nurhayat

Editor     : Wiji Nurhayat

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top