Inspiration

Ivan Diryana: Mantan Teknisi ‘Peracik’ Bisnis Rendang Nenek

Bekerja di sebuah perusahaan besar dengan gaji yang cukup tinggi tidak sepenuhnya membuat orang merasa nyaman. Salah satunya dirasakan oleh Ivan Diryana (41).

Ivan paham betul bagaimana seharusnya dia mendapatkan gelimang hidup mewah dengan bekerja sebagai karyawan di Garuda Maintenance Facility (GMF-AeroAsia), anak  perusahaan maskapai penerbangan Garuda Indonesia. Meski mendapatkan gaji cukup tinggi, Ivan mengaku merasa tidak cocok dan akhirnya memilih keluar dari perusahaan itu.

Usai keluar, Ivan yang merupakan lulusan Magister di Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Teknik Industri kembali ke Bandung dan memulai hidup baru. Saat itu, keinginan kuatnya adalah membuka bisnis, namun tidak pernah kesampaian. Hingga ia lama menganggur dan akhirnya memutuskan untuk menjadi pengajar (dosen) di sebuah Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Bandung.

“Akhirnya saya memutuskan untuk mengajar dulu, menjadi dosen dan diterima sebagai dosen di sebuah PTS,” awal cerita Ivan kepada indotrading.com, Jumat (24/6/2016).

Ivan mengakui pendapatan yang diterimanya sebagai seorang dosen tidak begitu besar bila dibandingkan pendapatan yang ia terima dulu saat bekerja di GMF-AeroAsia. Namun bekerja sebagai dosen memiliki kebebasan seperti tidak ada jam kantor yang mengikat. Oleh karena itu kebebasan tersebut, bagi Ivan harus dimanfaatkan terutama untuk membangun bisnis yang ia cita-citakan.

“Sebagian dosen memilih proyek namun saya lebih suka berbisnis ketimbang mengerjakan proyek-proyek,” lanjutnya.

Baca juga: Dari Bisnis Cireng, Tiga Pemuda Ini Raup Omzet Hingga Miliaran 

Sayangnya ide bisnis belum juga muncul. Ivan terus berpikir bisnis apa yang kira-kira cocok dengan modal yang tentu tidak begitu besar. Akhirnya ide itu muncul juga dari hal yang tidak diduga saat ia berkunjung ke rumah nenek sang istri, Intan Rahmatillah (33).

“Suatu hari saya makan di rumah neneknya Intan. Di sana disajikan rendang yang unik, bentuknya kubus, warnanya coklat gelap nyaris hitam, dan kering tidak ada minyak atau bumbu yang berlimpah. Meskipun penampakannya tidak meyakinkan tapi ternyata ketika dimakan rendang tersebut sangat enak, berbeda dengan rendang-rendang yang biasa saya rasakan,” tutur Ivan menceritakan hal unik tersebut.

Ivan mulai menggali informasi tentang rendang daging buatan nenek sang istri yang ia makan. Keluarga Intan Rahmatillah (istri Ivan) adalah asli Padang, sehingga rendang daging adalah makanan khas keluarga sang istri.

“Kata neneknya Intan, rendang yang asli tuh seperti itu. Ketika pengalaman ini saya ceritakan ke ayah saya, beliau langsung meminta dibikinkan rendang buatan nenek istri saya. Singkat cerita akhirnya rendang buatan nenek bisa saya berikan kepada ayah saya, dan saat ayah saya makan beliau bilang bahwa rendang seperti ini susah dicari dan hanya ada di Padang,” papar Ivan.

Ivan Diryana pendiri Rendang Nenek/Dok: Pribadi

Ivan Diryana pendiri Rendang Nenek/Dok: Pribadi

Ayah Ivan adalah seorang dosen yang sering mengerjakan proyek di banyak daerah di Indonesia, termasuk Kota Padang. Maka ia tahu bagaimana rasa asli rendang daging buatan asli Padang.

Singkat cerita, ide untuk membangun sebuah usaha bisnis rendang daging mulai muncul. Ia dan istri (Intan Rahmatillah) kemudian meminta resep hingga bagaimana cara memasak rendang daging itu dari sang nenek.

“Setelah istri saya dinyatakan lulus oleh neneknya dalam mengolah rendang resep keluarga yang turun temurun, akhirnya kami meminta ijin untuk menjualnya dan diperbolehkan,” katanya sumringah.

Usaha kemudian dimulai di tahun 2011 dan dilanjutkan dengan memberikan label ‘Rendang Nenek’ pada produk rendang daging yang mereka hasilkan. Asal mula kata Rendang Nenek juga sederhana yaitu rendang daging yang diproduksinya saat ini adalah resep yang diberikan oleh nenek sang istri.

Modal awal yang dibutuhkan untuk membangun bisnis ini hanya Rp 1 juta. Ia mengatakan rendang daging yang diproduksinya memiliki keunikan dan citra rasa yang khas. Ivan kemudian memasarkan produknya tersebut secara online. Saat itu ia mengetes pasar dengan menggunakan media gratis melalui multiply. Kemasan pun masih menggunakan keler sehingga daya tahannya tidak bisa terlalu lama.

“Jadi kami cukup sering harus deg-degan saat mengirim produk melalui jasa pengiriman, khawatir terlambat dan keburu basi,” tambahnya.

Bisnis Berkembang dan Besar

Perubahan sistem produksi kemudian dilakukan dengan membeli sealer kelas rumah tangga. Sejak itu Rendang Nenek bisa bertahan hingga seminggu. Pemasaran melalui website pun sudah beralih dari yang gratisan kemudian mendirikan website dot com. “Saya yang sedikit tahu tentang pembuatan web mencoba membuat web rendangnenek.com seadanya dulu,” timpalnya.

Perlahan-lahan dengan menyisihkan sebagian keuntungan dan juga gaji mengajar sebagai dosen, akhirnya Ivan dapat membeli vacuum sealer kelas industri. Kemudian Ivan juga diberikan bantuan berupa pelatihan pengemasan oleh pemerintah melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan.

“Akhirnya produk kami bisa tahan hingga 6 bulan untuk rendang daging dan ayam, 1 bulan untuk varian lainnya,” jelasnya.

Salah satu produk Rendang Nenek

Salah satu produk Rendang Nenek

Hanya mengandalkan keuntungan omzet penjualan ditambah pendapatannya sebagai seorang dosen tanpa pinjaman perbankan, usaha ‘Rendang Nenek’ terus berkembang. Perlahan-lahan berbagai kebutuhan alat produksi dapat dibeli. Saat ini Ivan memiliki 2 vacuum sealer, 2 freezer dan 15 kompor dengan 2 burner (30 burner).

“Awalnya kami hanya menggunakan dapur, sebuah kompor dan kulkas pribadi untuk menyimpan daging, kini kami merombak ruangan bawah kami menjadi sebuah pabrik kecil dengan kapasitas memasak hingga 50 kg daging perhari. Alhamdulillah perlahan-lahan kami terus kembangkan usaha Rendang Nenek ini dengan terus menjaga kualitas produk dan kepercayaan pelanggan,” kata Irvan.

Dari sisi penjualan, produk Rendang Nenek sudah pernah dipasarkan ke Aceh dan Papua. Pasar terbesarnya saat ini adalah ke wilayah Jabodetabek dan Bandung. Selain itu, Rendang Nenek juga sudah menyasar ke pasar luar negeri seperti Brunei Darusallam, Jepang, Prancis, Jerman dan negara-negara Eropa lainnya. Mekanisme penjualan adalah
dengan menitipkan Rendang Nenek ke beberapa teman yang pulang ke Indonesia kemudian berangkat kembali ke negara-negara tersebut.

“Jumlahnya memang tidak banyak tapi ada kebahagiaan tersendiri karena orang mau membayar ongkos kirim yang cukup mahal demi membeli Rendang Nenek dan beberapa diantaranya jadi pelanggan setia,” cetusnya.

Dengan semakin pesat bisnis yang sudah dijalankannya itu, kini Ivan sudah bisa meraup keuntungan jutaan rupiah. Ia memperkirakan di periode Ramadan dan Lebaran tahun ini, omzetnya bisa mencapai Rp 300 juta atau naik 3 kali lipat dibandingkan pencapaian tahun lalu yang hanya Rp 100 juta.

Ivan juga kini memiliki 8-10 orang pegawai yang sengaja direkrut untuk memenuhi pesanan yang cukup banyak di periode Ramadan hingga Lebaran tahun ini. “Alhamdulillah kami dapat membantu mereka mendapatkan penghasilan tambahan, karena mencari pekerjaan itu sulit bagi mereka yang hanya tamatan SD atau SMP. Sementara suami mereka kebanyakan adalah buruh bangunan, tukang ojek atau sudah tiada,” ucapnya.

Saat ini, Ivan telah berhasil meluncurkan 7 produk rendang yaitu rendang daging, rendang hati sapi, rendang limpo, rendang paru sapi, rendang jamur, rendang jengkol, dan rendang ayam suwir. Harganya juga cukup terjangkau dari mulai Rp 35.000 hingga Rp 125.000 per porsinya.

Terabas Segala Hambatan

Menjalani bisnis Rendang Nenek hingga meraih sukses saat ini harus ditempuh Ivan dengan susah payah. Tidak heran, banyak hadangan maupun tantangan yang ia harus hadapi agar bisnis ini tetap berjalan.

Ivan mengatakan awalnya calon konsumen masih kebingungan dengan produk Rendang Nenek. Banyak dari calon pembeli yang belum paham adanya produk rendang kemasan. Kebanyakan beranggapan bahwa rendang hanya diperoleh di rumah makan Padang.

Kemudian hambatan lainnya adalah saat penjualan pertama kali produk Rendang Nenek dengan media online. Ivan mau tidak mau harus berani memberikan kepercayaan bila Rendang Nenek adalah produk makanan olahan yang aman dan halal untuk dikonsumsi.

Baca juga: Pengusaha Cireng Beromzet Miliaran Ini Beberkan Rahasia Sukses Dalam Berbisnis

Modal yang pas-pasan juga menjadi kendala Ivan dalam menjalankan bisnisnya. Ivan hanya mengandalkan keuntungan dari omzet penjualan Rendang Nenek dan pendapatannya sebagai seorang dosen. Belum lagi masalah distribusi produk dan yang tidak kalah pentingnya adalah harga daging sapi yang semakin mahal.

“Hal yang paling menyulitkan adalah harga daging sapi yang terus meningkat,” sebutnya.

Meski menghadapi banyak kesulitan dalam menjalankan bisnis, Ivan tetap optimis usahanya akan menjadi besar di masa yang akan datang. Ivan memiliki keinginan kuat, produknya bisa dipasarkan di seluruh wilayah Indonesia dan tentunya dikenal luas di mancanegara.

“Prioritas kami masih ke dalam negeri karena produk Rendang Nenek diterima oleh pasar lokal dengan sangat baik. Pasar lokal saja belum tergarap dengan baik, masih perlu banyak perbaikan-perbaikan. Dari permintaan pasar lokal saat bulan puasa saja kami masih keteteran memenuhinya akibat tingginya permintaan. Kami juga belum masuk
ke retailer-retailer atau belum memiliki banyak agen dengan daya juang tinggi,” tutup Ivan.

 

Penulis   : Wiji Nurhayat

Editor     : Wiji Nurhayat

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

To Top