Digital Marketing

8 Tips Psikologis Praktis dalam Dunia Marketing

Saat memutuskan untuk membeli suatu barang, biasanya seseorang akan melakukan pertimbangan lebih dulu. Tentu saja, pertimbangan tersebut tak dapat dielakkan dari sisi psikologis seseorang. 

Dalam membuat keputusan apapun, termasuk memilih barang, manusia selalu melakukan pemikiran dan pertimbangan sesuai dengan pola pikir dan kondisi psikologisnya. Dengan mencoba memahami pola pikir dan kondisi psikologis, Anda dapat melihat kecenderungan-kecenderungan yang ada. Mencoba menerapkan hal-hal tersebut dalam strategi pemasaran mungkin justru malah akan tepat sasaran. Setidaknya, ada delapan tips psikologis praktis yang dapat meningkatkan kemampuan pemasaran, berikut ulasannya:

  1. Otak Manusia Dirancang untuk Mengambil Keputusan secara Impulsif atau Terburu-buru

Gambar 674
Penelitian yang telah dilakukan oleh Chase, Gallup, dan Harris Interactive menunjukkan bahwa kebanyakan orang melakukan pembelian secara impulsif. Kapan terakhir kali Rekan Indopreneurs berbelanja di toko, toko online, pasar, atau supermarket? Apakah waktu itu Anda memilih produk dengan waktu yang cepat dan spontan?

Mayoritas orang akan melakukan pembelian dengan cepat. Sistem berpikir yang digunakan manusia ketika mencari sebuah produk ialah dengan menggunakan teknik berpikir heuristik. Jarang sekali seseorang melakukan pertimbangan yang lama saat membeli sebuah produk. Tidak mengherankan jika perusahaan-perusahaan yang menjual produk atau jasa akan menggunakan kalimat promosi seperti buy now, try it now, subscribe now, get it now dan lain sebagainya.

Menurut sebuah penelitian, otak manusia memiliki sedikit kemiripan dengan otak reptil, terutama di bagian neocortex. Bagian tersebutlah yang mengakibatkan manusia berperilaku obsesif-kompulsif layaknya seekor reptil. Sementara itu, kata “now merupakan kata yang dapat membuat orang tersugesti untuk segera membeli produk yang ditawarkan.

 

  1. Otak Manusia Lebih Mudah Memposes Gambar daripada Teks

Gambar 676
Perhatikanlah kemasan makanan, kemasan barang elektronik, hingga konten dan penataan halaman website. Hampir seluruhnya sangat mementingkan estetika dan penataan warna dan gambar seperti yang pernah diungkapkan oleh Steve Jobs bahwa hal tersebut hanya akan didapatkan oleh cita rasa dan seni. Sebagai contoh, gambar produk sepatu brand bro.do yang bisa menarik hati konsumen untuk memilikinya.

Membuat sesuatu yang simpel justru lebih sulit ketimbang membuat sesuatu yang rumit. Begitu pula dengan membuat konten pemasaran berbentuk gambar. Dengan meningkatkan kualitas gambar produk yang ditawarkan, penjualan pun akan meningkat.

 

  1. Pikiran Manusia Mengasosiasikan Warna Biru dengan Kepercayaan

Gambar 677
Jika masih bingung dengan warna yang paling tepat untuk kemasan produk atau halaman web, tidak akan ada salahnya untuk memilih warna biru. Banyak sekali situs terbaik di dunia menggunakan warna ini sebagai tema seperti Facebook, Twitter, Paypal, dan Windows 10 yang didominasi oleh warna biru. Di Indonesia, perusahaan besar yang menggunakan warna biru sebagai tema misalnya Bank BCA, Bank Mandiri, Kompas Gramedia, Metro TV, dan Bluebird. 

Ada sebuah alasan mengapa perusahaan besar di berbagai bidang industri rata-rata menggunakan warna biru sebagai temanya. Dalam cabang ilmu psikologi yang secara khusus mempelajari efek psikologis warna, warna biru juga dapat menstimulasi rasa kepercayaan yang dimiliki oleh seseorang. Asosiasi warna sangat dipengaruhi oleh pengalaman, budaya, dan konteks serta tidak berlaku secara universal.

Baca juga : 10 Taktik Pemasaran Tepat Sasaran yang Tak Menghabiskan Banyak Uang

 

  1. Otak Manusia akan Mempercayai Brand Ketika Kemasan Produk atau Website Menggunakan Kata yang Tepat

Gambar 678
Jeremy Smith, seorang ahli conversion optimization mengatakan bahwa kepercayaan merupakan inti dari proses jual-beli. Kata seperti apa yang bisa dipercaya oleh banyak orang?

  • Otentik: Kebenaran dan otoritas adalah hal yang penting. Sebuah iklan akan dipercayai dibuat oleh orang-orang terpercaya.
  • Terjamin: Iklan yang terpercaya bisa menggunakan testimoni pihak ketiga sebagai orang netral.
  • Bergaransi: Menurut penelitian yang dilakukan oleh KissMetrics, 60 persen orang akan membeli sebuah produk jika ada sebuah kata yang memiliki asosiasi dengan kata “garansi”.
  • Resmi: sebuah produk resmi mencerminkan pada sistem kerja yang berlandaskan pada proses dan standarisasi.
  1. Persetujuan Pertama akan Diikuti dengan Persetujuan-Persetujuan Lainnya

Gambar 679
Jika Anda bisa mendapatkan persetujuan pertama dari seorang konsumen untuk melakukan sign up pada alamat email-nya, kemungkinan besar ia akan mendapatkan persetujuan untuk kedua kalinya. Hal ini disebut sebagai foot in the door technique (FITD) dalam dunia pemasaran. Orang-orang marketing telah melakukan hal tersebut selama beberapa generasi. Jadi, mulailah untuk menanyakan hal-hal kecil hingga permintaan yang lebih besar di kemudian hari kepada konsumen Anda.

 

  1. Setiap Keputusan Tak Terlepas dari Sisi Emosional

Gambar 680
Seorang pengambil keputusan yang memiliki posisi penting selalu merasa independen, rasional, dan tidak terpengaruh oleh emosi. Dalam realitasnya, ilmu neurosains telah menunjukkannya bahwa setiap keputusan sangat tergantung dari peranan emosi yang dimiliki oleh seseorang. Jika emosi tidak terlibat di dalamnya, keputusan akan sangat sulit diambil.

Orang yang terlalu rasional terlalu banyak menimbang-nimbang. Dalam mengambil keputusan secara cepat, seseorang membutuhkan spontanitas. Spontanitas diproduksi melalui naluri atau insting yang hanya bisa dilakukan oleh otak kanan.

Setiap orang melakukan keputusan berdasarkan masukan-masukan fungsi kognitif yang berbeda-beda sehingga emosi juga memiliki peranan yang besar di dalamnya. Oleh karenanya, orang yang menggunakan emosinya untuk mengambil keputusan cenderung mendapatkan keputusan yang tepat.

 Baca juga : 3 Tipe Konsumen dalam Consumer Behaviour: Building Marketing Strategy

  1. Sesuatu yang Diberi Label akan Memiliki Kesan Sama Seperti Label Tersebut

Gambar 681
Dalam sebuah studi, sebuah kelompok pernah diberikan sebuah sugesti bahwa mereka harus terlibat lebih aktif dalam kampanye sementara kelompok lainnya tidak diberikan sugesti. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kelompok partisipan yang diberikan sugesti memiliki tingkat keaktifan kampanye 15% lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok partisipan yang tidak diberikan sugesti.

Studi tersebut menunjukkan bahwa orang-orang yang diberikan sugesti akan berperilaku sesuai dengan label yang diberikan kepada mereka. Saat memberikan label kepada sebuah produk, seolah-olah kita memberikan sugesti kepada pembeli agar pembeli percaya terhadap label pada produk tersebut. Jadi, pemberian label kepada produk juga akan menentukan dibeli atau tidaknya produk tersebut.

 

  1. Konsumen akan Mengambil Keputusan Berdasarkang Informasi Pertama yang Dilihat

Gambar 682
Menurut anchoring effect, rata-rata orang selalu mempertimbangkan informasi pertama yang mereka dapatkan ketika dihadapkan pada pengambilan keputusan. Setelah melihat produk yang ditawarkan secara sekilas, mayoritas konsumen akan melihat harga produk. Tampilkanlah harga yang sesuai dengan ekspektasi konsumen di toko atau website Anda. Dari mana kita bisa mengetahui harga yang diekspektasi oleh konsumen? Jawabannya adalah riset harga. (leo/editor: erlin)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top