Indonesia Memperkuat Akses Pasar Global Furnitur melalui Platform Industri Terpadu dari Hulu ke Hilir
Jakarta, 29 Januari 2026 — Industri mebel dan furnitur Indonesia memiliki peran strategis
dalam perekonomian nasional serta peluang ekspansi yang masih sangat luas. Data Badan
Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada 2025, ekspor mebel menempati peringkat
kedua subsektor kerajinan dengan kontribusi sekitar 12,2 persen. Namun, di tengah pasar
furnitur global bernilai ratusan miliar dolar AS per tahun, pangsa Indonesia masih berada di
bawah satu persen, mencerminkan besarnya ruang pertumbuhan yang belum tergarap.
Tantangan utama industri furnitur nasional bukan pada potensi produksi, melainkan pada
konektivitas rantai nilai—mulai dari material, teknologi manufaktur, hingga akses pasar. Akses
ke pasar utama seperti Amerika Serikat, Eropa, dan Asia Timur telah terbentuk, namun masih
memerlukan penguatan standardisasi, efisiensi, dan integrasi lintas sektor agar pelaku industri
nasional, termasuk UMKM, dapat terhubung lebih langsung dengan jaringan pasar global.
Di sisi domestik, pasar furnitur juga menunjukkan dinamika positif. Sepanjang kuartal pertama
2025, penjualan rumah berukuran kecil melonjak hingga 83,97 persen secara kuartalan,
menciptakan permintaan lanjutan yang besar terhadap furnitur dan interior. Pertumbuhan sektor
properti pun tidak lagi terpusat di Jakarta. Kota-kota sekunder seperti Pekanbaru (2,12 persen)
dan Pontianak (2,07 persen) mencatat pertumbuhan yang lebih kuat, membuka peluang
ekspansi pasar di luar pusat ekonomi tradisional dan memperluas basis permintaan nasional.
Kebijakan pemerintah melalui insentif PPN rumah serta kemudahan kepemilikan properti bagi
pembeli asing turut mendorong peningkatan transaksi hunian. Kondisi ini menegaskan peran
industri furnitur sebagai multiplier effect penting bagi sektor properti dan konstruksi, sekaligus
memperkuat urgensi integrasi antara sektor material, manufaktur, dan furnitur dalam menjawab
pasar domestik yang masih sangat luas.
Dalam konteks inilah pameran internasional berperan sebagai platform strategis untuk
memperluas akses pasar Asia Tenggara dan global. Pameran tidak lagi sekadar etalase produk,
melainkan instrumen yang mempertemukan pelaku industri nasional dengan pembeli
internasional, mitra teknologi, dan jaringan distribusi dalam satu ekosistem terhubung, serta
memperkuat posisi Indonesia sebagai basis produksi dan sourcing regional.
Menjawab kebutuhan tersebut, Amara Group dan Koelnmesse GmbH mengumumkan integrasi
strategis empat pameran dagang utama ke dalam satu platform industri terpadu dari hulu ke hilir. Mulai 2026, rangkaian pameran ini akan digelar secara co-located pada 23–27 September 2026 di NICE PIK 2 dan JIExpo Kemayoran, Jakarta, dan diperkenalkan sebagai Indonesia Materials, Manufacturing & Furniture Connect, dengan target menghadirkan sekitar 800 exhibitor, 15.000 pengunjung, serta partisipasi dari 20 negara, termasuk Australia, Canada, China, Denmark, Finland, France, Gabon, Germany, Hong Kong, Indonesia, India, Italy, Malaysia, Singapore, Slovenia, South Korea, Sri Lanka, Switzerland, Taiwan, Thailand, Turkey, Uni Emirat Arab, dan Amerika Serikat, mencerminkan skala dan daya tarik internasional platform ini.
“Konsep co-location dan penyelarasan lintas sektor ini merupakan tonggak penting dalam
pengembangan platform industri di Indonesia dan kawasan Asia-Pasifik,” ujar Mathias Küpper,
Managing Director dan Regional President Asia Pacific Koelnmesse Pte Ltd. “Dengan menyatukan material, manufaktur, dan furnitur dalam satu ekosistem terkoordinasi, Indonesia memperkuat efisiensi industrinya sekaligus meningkatkan daya saing sebagai pusat manufaktur regional.”
Sebagai bagian dari penyelarasan ini, Amara Group dan Koelnmesse GmbH secara bersama
mengelola IFFINA+, interzum jakarta dan International Hardware Fair Indonesia serta
bergabung bersama Wakeni dalam penyelenggaraan IFMAC WOODMAC, yang akan
diselenggarakan beriringan, sekaligus membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi pelaku
usaha nasional, termasuk sekitar 50 persen pelaku UMKM pada IFFINA.
“Penyelarasan ini menyatukan berbagai platform industri utama sesuai dengan cara industri
furnitur bekerja saat ini,” ujar Dedy Rochimat, Ketua ASMINDO, yang berperan sebagai mitra
strategis dan kolaborator industri dalam penyelenggaraan IFFINA+. “Inisiatif ini mendukung
pengembangan bisnis dan perluasan akses pasar melalui platform industri yang menyeluruh
dari hulu ke hilir.”
Ke depan, keberhasilan memperkuat pasar domestik sekaligus membuka akses global bagi
industri furnitur Indonesia bertumpu pada kolaborasi hexahelix antara pemerintah, dunia usaha,
akademisi, komunitas, media, dan investor. Sinergi ini menjadi fondasi penting dalam
membangun ekosistem industri yang tidak hanya kompetitif, tetapi juga relevan, adaptif, dan
berkelanjutan.
Lebih dari sekadar ajang pameran, inisiatif ini hadir sebagai ruang bertemunya ide, inovasi, dan
kolaborasi lintas sektor—mulai dari diskusi kurasi, business matching, hingga pertukaran
gagasan kreatif. Melalui ekosistem yang terintegrasi dari hulu ke hilir, industri furnitur Indonesia
diharapkan mampu melahirkan solusi desain dan manufaktur yang selaras dengan gaya hidup,
dinamika ruang, serta kebutuhan pasar global masa kini.






