Inspiration

Ini Dia Pengusaha Sukses dengan Modal Minim Beromzet hingga Ratusan Juta

Kesuksesan adalah impian bagi setiap pelaku usaha. Tetapi bagaimana jadinya bila kesuksesan yang diraih didapat dengan hanya mengeluarkan modal kecil saat membangun usaha?

Beberapa pelaku usaha mengungkapkan kesuksesan tidak selamanya diraih dengan mengeluarkan modal yang besar. Sebagian besar kesuksesan justru didapat oleh mereka yang memiliki modal terbatas atau tidak sama sekali mengeluarkan modal.

Modal memang merupakan salah satu faktor utama saat Anda mendirikan usaha. Tetapi modal saja tidak cukup menjadi faktor penting bagaimana usaha itu bisa bergerak.  Selain modal, tentunya Anda harus mampu membangun jaringan bisnis, melihat potensi pasar hingga mengerahkan segala macam strategi pemasaran untuk menarik customer.

Nah, berikut ini indotrading.com sajikan beberapa pengusaha yang sukses dengan hanya memiliki modal seadanya tetapi mampu meraup omzet puluhan hingga ratusan juta, seperti dikutip, Rabu (3/8/2016).

Fenny Angela (Pemilik Bisnis Perhiasan Aeroculata)

Muda, cantik dan mempunyai wawasan bisnis yang luas adalah gambaran dari seorang Fenny Angela (23). Wanita kelahiran Surabaya, 14 Oktober 1993 itu kini menjadi salah satu pengusaha perhiasan sukses. Bahkan produk perhiasan yang dibuat Fenny sudah melalang buana hingga ke mancanegara.

Fenny Angela, lahir dan besar di Surabaya. Perempuan lulusan Arsitektur, Universitas Petra Surabaya ini memang mempunyai passion di bidang fashion industry sejak kecil. Tahun 2011 ketika Fenny masih duduk di bangku kuliah, ia belajar tentang jewelry design secara otodidak. Dan di tahun yang sama pula, Fenny meluncurkan brand Aeroculata.

Foto: Fenny Angela (Pemilik Aeroculata)/Dok: Pribadi

Foto: Fenny Angela (Pemilik Aeroculata)/Dok: Pribadi

Modal yang dikeluarkan Fenny membangun Aeroculata saat itu hanya berkisar Rp 1 juta. Dana itu terutama digunakan untuk membangun website hingga operasional perdana. Sementara dana yang diperlukan untuk kebutuhan pemenuhan pemesanan perhiasan didapat dari customer yang memesan. Hal itu karena sistem yang digunakan Fenny adalah pre order alias customer membayar terlebih dahulu kemudian produk itu jadi.

Menurut Fenny, Aeroculata didirikan karena hampir semua wanita pasti menyukai aneka aksesori dan perhiasan seperti bros, anting, gelang, kalung, dan cincin. Dengan permintaan yang terus tumbuh setiap tahunnya, Ia optimis bisnis perhiasan Aeroculata bakal terbuka lebih lebar.

Foto: Produk perhiasan Aeroculata/Dok: Pribadi

Foto: Produk perhiasan Aeroculata/Dok: Pribadi

Produk Aeroculata mulai dari cincin, kalung, gelang, anting atau giwang, boutonniere, card wallet, dan lainnya dibanderol mulai Rp 199.000 hingga Rp 499.000/pcs. Benar saja, lewat kerja keras ditambah strategi pemasaran yang tepat, Fenny mampu meraih omzet puluhan juta rupiah. Setiap bulan, Fenny rutin mengantongi omzet rata-rata Rp 20 juta/bulan dari penjualan perhiasan melalui online shop. Tetapi bila mengikuti pameran, omzetnya bertambah rata-rata Rp 40 juta.

Tidak hanya itu, produk perhiasannya juga melalang buana ke negara lain sebut saja Singapura, Malaysia, Jepang, Australia, hingga ke Amerika Serikat. Fenny mengatakan kesuksesan yang diraihnya didapat karena strategi pemasaran yang tepat.

Bisnis Aeroculata memang fokus untuk menyediakan jasa perhiasan handmade custom atau dengan kata lain pilihan ukuran, warna, hingga model dan tulisan di dalam perhiasan sesuai permintaan customer. Kemudian dalam memasarkan produknya, Fenny mengandalkan online shop hingga endorse ke beberapa artis dan fashion investor terkenal.

“Karena saya menekuni bidang fashion jadi saya menekuni sesuatu yang belum banyak dilihat orang. Kemudian jalani bisnis tersebut! Ingat kegagalan itu bikin kita berhenti. Bila kita gagal kita harus ingat dimana kita mulai, dimana saat itu ada semangat dan kemauan kita dalam memulai bisnis,” tegas Fenny.

Baca artikel selengkapnya: ‘Si Cantik’ Fenny Angela, Pebisnis Perhiasan Lokal Hingga Go Internasional

Yukka Harlanda (Pemilik Sepatu Merek Brodo)

Berusia sangat muda tidak menghambat Yukka Harlanda (28) untuk membuka sebuah bisnis. Berawal dari kesulitan mencari sepatu dengan ukuran yang sesuai kakinya, Yukka memberanikan diri terjun lebih dalam di bisnis jual beli sepatu kulit dengan brand Brodo Footwear.

Dengan modal hanya Rp 7 juta, Yukka mulai hunting alias memburu sepatu yang bisa dipesan sesuai dengan ukuran kaki si pemesan. Akhirnya Yukka tiba di salah satu pusat produksi sepatu terbesar di Bandung yaitu Cibaduyut. Di tempat tersebut, Yukka mulai bertanya-tanya bagaimana cara membuat sepatu, memesan hingga jenis dan bahan baku sepatu kepada para perajin.

Foto: Yukka Harlanda/Dok: Pribadi

Foto: Yukka Harlanda/Dok: Pribadi

Dengan modal itu, Yukka juga memberanikan diri untuk memesan beberapa lusin sepatu dengan jenis yang dianggapnya laku di pasaran untuk dijual kembali. Kemudian ia ditawari oleh para perajin di Cibaduyut untuk membeli lebih banyak sepatu karena harga yang ditawarkan lebih miring. Akhirnya Yukka setuju.

Setelah itu Yukka mencoba menjual kembali produk sepatu yang didapat dari para perajin di Cibaduyut. Semuanya laku terjual dan mendapatkan apresiasi dari para pembeli. Yukka terus mengembangkan usahanya hingga memberikan label Brodo Footwear bagi setiap produk sepatu kulit yang dijualnya di tahun 2011.

Untuk menarik perhatian para pembeli, Brodo Footwear menetapkan pemasaran digital sebagai strategi penjualan utama. Dengan cara itu Brodo kini menjadi pemain bisnis sepatu kulit yang sukses memanfaatkan pemasaran digital hingga namanya dikenal oleh kalangan luas.

Selain di online shop, pemasaran Brodo saat ini juga dilakukan dengan offline seperti melalui dua toko di Jakarta yaitu masing-masing di Kemang dan Kuningan City. Sedangkan 4 outlet lainnya tersebar di 4 kota berbeda yaitu di Bekasi, Bandung, Surabaya, dan Makassar.

Foto: Brodo Footwear/Dok: indotrading.com

Foto: Brodo Footwear/Dok: indotrading.com

Alasan lainnya Brodo bisa tumbuh dan berkembang karena produk Brodo segmented ata hanya khusus bagi laki-laki. Brodo juga menyasar kelas menengah ke atas. Namun tidak menutup kemungkinan kalangan menengah ke bawah juga dapat membeli sepatu kulit Brodo. Yukka menjelaskan, rata-rata harga sepatu Brodo dibanderol antara Rp 250 ribu hingga jutaan rupiah.

Dengan cara tersebut, Brodo benar-benar tumbuh menjadi sebuah brand sepatu premium kualitas lokal. Omzet yang didapat Yukka ditafsir mencapai puluhan juta rupiah setiap bulannya.

“Masih besar bisnis clothing dan binsis strategi digital. Jadi just have fun. Jangan ikut-ikutan (orang lain) dan percaya sama filosofi diri sendiri,” tegas Yukka.

Baca artikel selengkapnya: Yukka Harlanda, Pebisnis Sepatu Kulit Tajir Bermodal Rp 7 Juta

Pardianto (Pemilik Toko Argo Boyo)

Kulit sapi masih menjadi bahan baku andalan para pengrajin kulit untuk diolah menjadi barang kerajinan tangan seperti tas hingga sepatu. Lalu bagaimana jadinya bila tas dan sepatu dibuat dari bahan baku kulit buaya? Cara ini dilakukan Pardianto (51). Pria kelahiran 10 Februari 1965 dan telah lama tinggal di Papua itu adalah salah satu pengusaha sukses dengan hasil produk kerajinan tangan berbahan dasar kulit buaya.

Bisnis ini dimulai karena Pardianto menyukai berbagai produk dari kulit, seperti sepatu, ikat pinggang, dan dompet, sejak tahun 1991. Berselang delapan tahun kemudian, ia memutuskan terjun sebagai pengusaha kerajinan kulit buaya itu. Ia beralasan menggunakan kulit buaya sebagai bahan baku pembuatan produk kerajinan tangan adalah sesuatu yang unik dan langka.

Foto: Pardianto, pengrajin kulit buaya/Dok: indotrading.com

Foto: Pardianto, pengrajin kulit buaya/Dok: indotrading.com

Dengan berbekal modal seadanya, Pardianto kemudian memberanikan diri untuk membuka usaha handmade skala kecil atau industri rumahan di Timika, Papua. Pegawai yang membantunya pun saat itu hanya berjumlah 5 orang. Uniknya kulit buaya didapat dari masyarakat sekitar. Ia memberikan harga kulit buaya sebesar Rp 30.000 per inci. Seekor buaya ukuran besar bisa mencapai 20 inci kulit dan dalam 1-3 hari bisa mendapat pasokan sekitar 200 inci. Kulit mentah itu berbentuk kasar, bersisik hitam, dan masih banyak daging yang menempel.

Melalui industri rumahan yang dimilikinya, kulit tersebut disamak atau dihaluskan dengan cara manual tanpa bantuan mesin modern. Ketika dirasa sudah halus dan layak pakai atau sesuai standar dijadikan sebagai bahan dasar kain.

Berbagai produk kerajinan tangan berbasis kulit buaya sudah ia hasilkan. Sebut saja tas golf, tas wanita, sabuk, trolley bag, dompet hingga tas komando untuk keperluan militer tentara. Sedangkan ia juga memberikan desain khusus yang membuat produknya berbeda dari produk lain yang sejenis.

Foto: Hasil kerajinan kulit buaya/Dok: indotrading.com

Foto: Hasil kerajinan kulit buaya/Dok: indotrading.com

Melalui online shop dan Toko Argo Boyo yang berlokasi di Timika tepatnya di Jalan Apel No. 4 SP 2, Papua Pardianto menjual produk-produk yang dihasilkan dari kulit buaya. Harga yang ditawarkan juga cukup murah dibandingkan produk kulit buaya yang memiliki brand dan dijual di toko lainnya. Produk Pardianto dibanderol mulai ratusan ribu hingga puluhan jutaan rupiah. Seperti dompet dan ikat pinggang kisaran Rp 300.000, sepatu Rp 1,8 juta-Rp 2 juta, dan tas wanita Rp 2 juta-Rp 2,5 juta. Dari ketiga barang tersebut Pardianto mengakui, tas wanita dan dompetlah yang paling laku di pasaran.

Pembeli produk Pardianto tidak hanya terbatas di Papua saja, pembeli juga datang dari Sumatera, Jawa, Kalimantan hingga Sulawesi. Penjualan setiap bulan produk Pardianto meroket. Rata-rata ia meraup omzet hingga Rp 400 juta per bulan. Hal itu karena harga barang yang dijual dirasa murah dan juga langka karena berbahan baku kulit buaya.

“Ya karena motif buaya itu kan kulitnya selalu menonjol atau timbul jadi orang senang sama motifnya. Kan macam-macam motifnya, ada motif punggung, kepala, ekor dan kaki, sehingga terlihat unik. Itu alasan kenapa banyak peminatnya,” tegas Pardianto.

Baca artikel selengkapnya: Unik dan Langka, Pengusaha Ini Jualan Produk Kulit Beromzet Ratusan Juta

Sunny Kamengmau (Pemilik Tas Robita)

Sunny Kamengmau (41) adalah seorang pebisnis tas asal Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Merek tas yang diproduksinya cukup dikenal yaitu Tas Robita. Namun, dibalik kesuksesannya Sunny ternyata ia hanya memiliki latar belakang pendidikan lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Datang ke Bali berbekal ijazah tamatan SMP, Sunny akhirnya bekerja secara serabutan. Di usia yang masih muda itu, Sunny pernah bekerja sebagai operator cuci mobil dan buruh renovasi hotel. Hingga akhirnya ia menetap bekerja di Un’s Hotel sebagai security yang terletak di Jalan Benesari, Legian, Kuta.

Foto: Sunny Kamengmau dan produk Tas Robita/ Dok: Pribadi

Foto: Sunny Kamengmau dan produk Tas Robita/ Dok: Pribadi

Di sela-sela kesibukannya sebagai security, Sunny menyempatkan diri belajar bahasa asing seperti Bahasa Inggris dan Bahasa Jepang secara otodidak. Cara itu dilakukan untuk mempermudah dirinya melayani para tamu hotel yang mayoritas adalah wisatawan asing.

Tidak disangka, bekerja di Un’s Hotel memberikan keuntungan tersendiri bagi Sunny karena dari sini perjalanan bisnisnya dimulai. Sejak bekerja di Un’s Hotel, Sunny berkenalan dengan seorang warga negara Jepang pemilik usaha Real Point Inc. bernama Nobuyuki Kakizaki. Kemahiran berbahasa Jepang yang dimiliki Sunny membuat pertemanan mereka semakin dekat hingga Nobuyuki mengajak Sunny bekerja sama.

Nobuyuki sering mengajak Sunny untuk membeli barang-barang kerajinan tangan dan aksesoris di toko untuk dijual kembali ke Jepang. Para pelanggannya di Jepang memang sering tidak kebagian barang hingga harus menerapkan sistem Pre Order (PO).

Foto: Tas Robita yang sangat diminati pasar Jepang/Dok: Pribadi Kamengmau

Foto: Tas Robita yang sangat diminati pasar Jepang/Dok: Pribadi Kamengmau

Pria kelahiran Maxzmur, Alor (NTT) 12 September 1975 ini kemudian diajari bagaimana cara memilih barang berkualitas hingga cara mengirimnya ke Jepang. Itu semua dilakukan Sunny saat pagi atau siang hari karena malamnya ia tetap bekerja sebagai security di hotel. Hingga akhirnya, di awal tahun 2000 mereka berdua mulai memproduksi tas kulit. Namun tas kulit ini belum diberi merek.

Dari penjualan tas kulit itu, Sunny mendapatkan upah tambahan dari Nobuyuki. Sampai pada tahun 2003, Sunny dan partnernya membentuk CV Realisu dengan brand Tas Robita. Nama Robita dipilih karena partner bisnisnya yaitu Nobuyuki Kakizaki suka dengan karakter tokoh Nobita di film kartun Doraemon.

Singkat cerita bisnisnya semakin berkembang dan mengalami peningkatan cukup besar. Tercatat di tahun 2007, produksi tas mencapai 5.000 pcs setiap bulannya. Puncaknya terjadi di tahun 2009 dimana Sunny dan Nobuyuki telah memiliki karyawan hingga mencapai 300 orang.

Ketika ditanya soal modal awalnya berbisnis, Sunny Kamengmau mengaku bahwa ia sama sekali tidak mengeluarkan modal.

“Jadi awal modal nggak ada sama sekali. Saya waktu itu motor saja sewa. Kemudian kredit motor setahun kemudian. Bahkan partner saya itu tahun 2004, itu empat kali pengiriman tidak dibayar dan saya memiliki utang numpuk. Dia (Nobuyuki Kakizaki) kemudian mengeluarkan kredit di Jepang untuk menyelesaikan pembayaran itu,” kenang Sunny.

Foto: Tas Robita yang sangat diminati pasar Jepang/Dok: Pribadi Kamengmau

Foto: Tas Robita yang sangat diminati pasar Jepang/Dok: Pribadi Kamengmau

Meski sempat mengalami berbagai kendala, produk Tas Robita sangat diminati pasar Jepang. Menurut Sunny salah satu penyebab utama adalah karena orang Jepang sangat suka pada produk-produk asli buatan tangan (handmade).

Pemasaran di Jepang ditangani langsung oleh Nobuyuki. Strategi yang digunakan ialah dengan cara merekrut sales-sales handal yang ahli menjual produk. Kemudian Sunny juga rutin melakukan analisis market dan membangun konsep tas jenis apa yang paling disukai di pasar Jepang. Jadi setelah kembali ke tanah air, Sunny segera membuat produk tas yang sesuai dengan kebutuhan pasar di Jepang.

Sementara itu, harga jual Tas Robita di Jepang rata-rata dibanderol Rp 4-5 juta untuk ukuran besar dan Rp 2-3 juta untuk ukuran kecil. Sejak tahun 2006 hingga 2012 rata-rata penjualan Tas Robita di Jepang bisa mencapai Rp 25-30 miliar setiap tahun.

Selain memasarkan di Jepang, Sunny Kamengmau ternyata mempunyai ambisi lain. Setelah sukses menjual produk Tas Robita di Jepang, dia ingin meraup sukses berbisnis tas di dalam negeri.

Foto: Tas Robita yang sangat diminati pasar Jepang/Dok: Pribadi Kamengmau

Foto: Tas Robita yang sangat diminati pasar Jepang/Dok: Pribadi Kamengmau

Sunny mengatakan dirinya sudah mendirikan sebuah butik Robita di Seminyak, Bali. Niatnya mendirikan dua butik lagi di Nusa Dua dan Ubud. Sunny tetap akan memakai merek Robita, meski di Indonesia merek ini belum sepopuler Jepang. Dia mengatakan Nobuyuki Kakizaki dari Real Point Inc sudah memberikannya restu untuk tetap memakai merek itu sebelum meninggal.

“Saya ini kan memulai dari nol sama partner, saya setia sampai sekarang. Bahkan dalam keadaaan sesulit apapun saya tidak meninggalkan dia dan dia tidak meninggalkan saya. Sehingga saya tetap memiliki rasa optimis yang tinggi. Masa-masa sulit hingga sekarang sedang bangkit,” tegas Sunny.

Baca artikel selengkapnya: Sunny Kamengmau: Lulusan SMP yang Sukses ‘Invasi’ Tas Robita ke Pasar Jepang

Penulis: Wiji Nurhayat   Editor: Wiji Nurhayat

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

18 − fifteen =

To Top