Berita

Bisnis Cokelat Tidak Diminati Pasar Lokal? Inilah 4 Poin Analisis SWOT untuk Mengatasinya

analisa 4 swot bisnis cokelat

Tahukah Rekan Indopreneurs bahwa Indonesia merupakan negara penghasil kakao terbesar ke-3 di dunia? Mungkin hal ini bisa dikatakan sebuah prestasi, meskipun sebenarnya belum sepenuhnya membanggakan. Mengapa? Karena kakao yang telah diproduksi menjadi produk olahan lebih banyak diekspor ke luar negeri dibandingkan dengan dikonsumsi di dalam negeri. Menurut situs pemberitaan KONTAN pada tanggal 21 September 2015, jumlah ekspor produk olahan cokelat Indonesia pada tahun 2013 dan 2014 tercatat mencapai 196.300 ton dan 242.200 ton. Angka tersebut masih terbilang rendah jika dibandingkan jumlah produk olahan cokelat konsumsi dalam negeri yang hanya mencapai 0,25 kg per kapita per tahun, seperti yang dilansir Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia.

produk cokelat

Masih rendahnya jumlah pemain dalam industri bisnis cokelat dalam negeri membuat bisnis ini bisa menjadi peluang bisnis tersendiri bagi Rekan Indopreneurs. Bisa dikatakan bahwa menaklukkan pasar lokal melalui industri olahan cokelat tidaklah mudah, tergantung dari strategi apa yang digunakan untuk menaklukkan pasar lokal tersebut. Dari data yang dilansir oleh Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia, dinyatakan bahwa mayoritas pebisnis industri cokelat olahan dalam negeri lebih banyak menyasar pangsa ekspor di Eropa karena di sana tingkat konsumsi coklat mencapai 10 kg per kapita per tahun. Selanjutnya, simak ulasan yang telah dihimpun oleh redaksi Indotrading tentang bagaimana mengaplikasikan strategi berdasarkan analisis SWOT dalam bisnis olahan cokelat berikut ini.

     1. Strenght-Opportunities

 

analisa SWOT tentang bisnis cokelat

Strategi SO (Strenght-Opportunities) adalah strategi yang didasarkan pada peluang yang kuat menggunakan kekuatan internal perusahaan untuk mencapai peluang eksternal.

Dalam pendahuluan saya sudah menjelaskan kekuatan internal yang dimiliki Indonesia secara khusus untuk makanan yang terbuat dari olahan coklat. Sekarang, tinggal bagaimana menggali potensi pasar atau opportunities di luar negeri secara berkelanjutan. Menurut pengamatan di lapangan, pangsa pasar terbesar untuk produk olahan cokelat ialah kalangan kaum hawa, terutama para remaja-dewasa awal dan anak-anak. Jika kedua golongan pangsa pasar dianalisa secara mendalam, sebenarnya ada beberapa esensi yang bisa kita tarik kesimpulan.

Khusus untuk pangsa pasar anak-anak, produk olahan cokelat sudah cukup banyak yang komersil dan layak untuk dipasarkan secara internasional. Namun peluang pasar masih harus diperluas, terutama untuk anak-anak yang berusia dibawah 10 tahun. Mengapa demikian anak-anak yang masih berusia 10 tahun masih memiliki gigi susu, ada baiknya perusahaan olahan cokelat juga memikirkan bagaimana membuat olahan cokelat yang memperhatikan kesehatan gigi anak-anak. Selain itu khusus untuk anak-anak, bentuk dan cara pengemasan cokelat menjadi hal yang paling penting.

Berbeda halnya jika dilihat dari sudut pandang kaum remaja perempuan, biasanya mayoritas remaja perempuan Indonesia memakan cokelat hanya di momen-momen tertentu saja seperti di Hari Valentine. Jadi rekan Indopreneurs perlu untuk meningkatkan daya beli kaum hawa di luar momen Hari Valentine, misalnya dengan mengadakan acara kampanye mengenai cara menjaga kesehatan dengan mengkonsumsi cokelat. Hal ini perlu dikampanyekan karena masyarakat Indonesia masih jarang yang menyadari pentingnya memakan cokelat untuk menghilangkan stress dan tekanan emosional.

Baca juga : 5 Cara Mudah Membangun Bisnis Keluarga agar Bertahan Selamanya

     2. Strenght-Threats

analisa SWOT tentang bisnis cokelat

Strategi ST (Strenght-Treats) merupakan strategi untuk mengatasi ancaman eksternal dengan menggunakan kekuatan internal yang dimiliki.

Di poin sebelumnya sudah menjelaskan dengan panjang lebar kekuatan internal dan kesempatan bisnis cokelat dalam negeri, sekarang tinggal bagaimana bisa mengatasi ancaman dari sisi eksternal dengan menggunakan kekuatan internal yang dimiliki. Pertanyaan yang kemudian diajukan ialah apakah produk olahan cokelat dalam negeri mendapatkan kompetitor yang tangguh dari produk olahan cokelat luar negeri? Kalau kita berbelanja di mall-mall kota besar di Indonesia, sebenarnya produk cokelat buatan Indonesia dan impor persaingannya terbilang ketat. Produk olahan cokelat impor tingkat konsumsinya tidak jauh berbeda dengan produk olahan coklat lokal. Strategi yang bisa kita analisa bisa berkisar dari soal harga.

Ancaman utama dari produk olahan cokelat impor adalah kualitas cokelat yang mereka miliki. Rata-rata rasa cokelat impor memiliki ciri khas dibandingkan dengan olahan cokelat lokal. Untuk mengatasi hal ini produsen olahan cokelat lokal bisa melakukan berbagai inovasi untuk mengatasi ancaman dari kompetitor. Diantaranya adalah dengan membuat cokelat yang memiliki ciri khas Indonesia, misalnya membuat olahan cokelat dengan rasa durian. Sampai saat ini belum ada produsen cokelat yang berani menggabungkan olahan cokelat dengan rasa durian. 

     3. Weakness-Opportunities

poin SWOT terkait bisnis cokelat

Strategi WO (Weakness-Opportunities) adalah strategi memperbaiki kelemahan internal untuk mencapai peluang eksternal. WO menunjukkan potensi peluang yang bisa dicapai perusahaan jika mampu memperbaiki kelemahan internal.

Jika kita mau memperbaiki kesalahan kelemahan internal produsen olahan cokelat dalam negeri maka kesempatan untuk mendapatkan pangsa pasar eksternal (di luar negeri) akan terbuka lebih besar. Pernahkah Rekan Indopreneurs melihat ada sebuah perusahaan produsen cokelat dalam negeri yang menyediakan produk minuman cokelat hangat instan? Jika ada pabrik produsen cokelat yang berani untuk mengeluarkan produk minuman cokelat hangat instan, kemungkinan akan terjadi lompatan besar dalam pasar cokelat di Indonesia.

Tidaklah berlebihan jika dikatakan minuman cokelat hangat instan tersebut bisa menggeser dominasi pasar kopi instan yang sudah bertahan begitu lama. Kalau ada yang mengatakan bahwa cokelat hangat tidak ada bedanya dengan susu cokelat maka hal itu tidak sepenuhnya benar. Walaupun sama-sama dibuat dengan bahan dasar susu dan kakao, cokelat hangat dan susu cokelat memiliki perbedaan dari segi tekstur, rasa dan kekentalan. Jika perusahaan dalam negeri mampu membuat terobosan dan analisa terhadap kelemahan yang dimilikinya, olahan dalam bentuk cokelat hangat instan bisa menjadi booming di luar negeri.

Baca juga : 5 Pekerjaan Freelance yang Menjanjikan bagi Ibu Rumah Tangga

      4. Weakness-Threats

poin SWOT terkait bisnis cokelat

Strategi WT adalah strategi untuk memperbaiki kelemahan guna mengatasi ancaman setelah sulit menggunakan kekuatan serta menggapai peluang yang ada.

Analisis pada poin terakhir ini masih berkisar tentang kelemahan yang dimiliki oleh produsen cokelat dalam negeri dalam mengembangkan bisnisnya untuk bisa mengatasi ancaman dari sisi eksternal. Jika diatas saya sudah menjelaskan kelemahan produk olahan cokelat Indonesia yang tidak memiliki cokelat hangat instan maka pada poin terakhir ini saya akan menjelaskan mahalnya produk cokelat dalam negeri yang ada di Indonesia. Pertama, cokelat olahan yang disediakan untuk anak-anak di Indonesia harganya relatif terlalu mahal. Ketika seorang anak membeli cokelat, ia tidak menggunakan uangnya, tapi uang orang tuanya. Kalau dianalisa lebih jauh lagi, akan sangat sulit orang tua memberikan anaknya uang sebesar 20 ribu rupiah untuk sebatang cokelat merk tertentu. Hal ini kembali kepada paradigma dari orangtua kebanyakan yang menilai bahwa kebutuhan konsumsi anak-anak tidak akan semahal orang dewasa yang perlu membeli makanan demi sebuah lobby bisnis atau pembicaraan penting terkait pekerjaan. Jadi bisa ditarik secara esensi, industri olahan bisnis cokelat harus mampu memberikan urgensi kepada masyarakat khususnya kepada orang tua agar mereka membelikan anak-anaknya cokelat. (leo/editor: erlin).

To Top