Berita

Berbicara Tentang Ekonomi China

Industrialisasi China ada sejak akhir tahun 1970-an atau mendahului negara-negara lain dalam sejarah. Tapi dengan tuntutan upah yang tidak lagi murah ditambah dengan jumlah tenaga kerja yang menyusut, negara ini mulai berubah. Seperti mengalahkan pendapatan golongan kelas menengah di negara-negara Amerika Selatan, Afrika dan Asia sebelum akhirnya menjadi kaya.

Ini adalah sebuah cara berbeda bagaimana China menjawab tantangan. Berikut adalah cerita singkat bagaimana China yang memiliki luas hampir 1 benua itu menata kekuatan ekonominya, Senin (6/6/2016).

Ekonomi Terbesar

Anda mungkin tidak mengenal banyak tentang provinsi Guangdong sekarang. Provinsi yang berada di Selatan China itu dikenal memiliki banyak pabrik yang memproduksi barang yang dikenal dunia. Sebut saja merek produk seperti Apple atau celana jeans Levi’s. Selain itu, industri manufaktur China terus berkembang dan ditambah dengan kebijakan pro-bisnis yang telah mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah itu. Contoh saja di salah satu kota bagian Guangdong dengan teknologi modern atau sekelas dengan Amerika Serikat (AS) yaitu Shenzhen.

Tidak hanya itu, kota-kota yang lain juga berjuang terutama menjadi kawasan industri. Tantangan ke depan Guandong adalah mengembangkan lagi apa yang dimiliki dan nantinya diharapkan menjadi penopang utama pembangunan ekonomi China.

Wilayah yang Paling Cepat Berkembang

Selama bertahun-tahun, kondisi pedalaman Chongqing berbeda karena kontrol ketat negara. Ketika pemimpin partai Komunis, Bo Xilai dipenjara atas tuduhan korupsi pada 2013, masa depan kota ini suram. Tapi hari ini, Chongqing cukup dibanggakan sebagai kota dengan tingkat pertumbuhan ekonomi tercepat. Hal ini didukung dengan rendahnya biaya investasi pendirian pabrik.

Produsen utama mobil dan motor seperti Ford menjadi pemain industri otomotif yang muncul. Cara lain juga dilakukan Chongqing adalah untuk membuka dan mengembangkan dunia transportasi seperti kereta api dan angkutan sungai dengan menjalin hubungan dengan Eropa.

Wilayah Tertinggal

Shanxi memiliki sekitar seperempat dari produksi batubara China. Selain itu, beberapa perusahaan batubara milik perorangan dan swasta terbesar ada di wilayah itu. Sayangnya, pertumbuhan ekonomi Shanxi tidak bisa ditopang sepenuhnya dari penjualan batubara.

Oleh karena itu, Shanxi menemukan cara baru untuk mempercepat laju ekonominya. Yaitu dengan mengembangkan industri manufaktur berteknologi tinggi dan membangun industri pariwisata. Salah satu wisata pavorit adalah menyuling dan menyeduh minuman keras China, baijiu. Shanxi juga pernah menghadapi tahun sulit yaitu kelebihan kapasitas produksi sehingga terjadi pemutusan hubungan kerja.

Foto: Para pekerja tekstil di China/Wikipedia

Foto: Para pekerja tekstil di China/Wikipedia

Klub Triliun Dolar
Shandong-rumah untuk Tsingtao Beer dan pembuat alat Haier adalah provinsi baru dengan target pendapatan mencapai US$ 1 triliun pada akhir tahun. Anggota ketiga dari klub setelah Guangdong dan Jiangsu ini memiliki ladang ekonomi yang cukup lengkap seperti pertanian, perikanan, ladang minyak, dan industri manufaktur yang cukup berkembang. Namun di tempat ini, banyak pabrik yang berjuang untuk keluar dari belenggu upah murah dengan menaikkan harga produksi yang berisiko mematikan pelanggan global.

Penulis  : Wiji Nurhayat

Editor    : Wiji Nurhayat

Sumber : Bloomberg

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top