Sunny Kamengmau: Lulusan SMP yang Sukses ‘Invasi’ Tas Robita ke Pasar Jepang

Pendidikan tidak selalu menjadi tolok ukur kesuksesan seseorang. Begitu pula yang dialami oleh Sunny Kamengmau (41).

Sunny seorang pebisnis tas asal Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Merek tas yang diproduksinya cukup dikenal yaitu Tas Robita. Namun, dibalik kesuksesannya Sunny ternyata hanya memiliki latar belakang pendidikan lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

“Latar belakang saya datang dari Alor, NTT. Saat itu usia 18 tahun saya datang ke Bali berbekal tamatan SMP karena saya merasa tidak betah sekolah dan memutuskan untuk pergi merantau dan akhirnya saya sampai ke Bali,” ungkap Sunny kepada indotrading.com, Rabu (21/7/2016).

Datang ke Bali berbekal ijazah tamatan SMP, Sunny akhirnya bekerja secara serabutan. Di usia yang masih muda itu, Sunny pernah bekerja sebagai operator cuci mobil dan buruh renovasi hotel. Hingga akhirnya ia menetap bekerja di Un’s Hotel yang terletak di Jalan Benesari, Legian, Kuta.

“Akhir tahun 1994 kerja di sana Un’s Hotel sebagai tukang kebun. Setahun kemudian naik pangkat jadi security sampai tahun 2000,” kenang Sunny.

Di sela-sela kesibukannya sebagai security, Sunny menyempatkan diri belajar bahasa asing seperti Bahasa Inggris dan Bahasa Jepang secara otodidak. Cara itu dilakukan untuk mempermudah dirinya melayani para tamu hotel yang mayoritas adalah wisatawan asing.

“Kebanyakan yang datang tamu dari Eropa termasuk orang Jepang tetapi jumlahnya sedikit,” katanya.

Rubah Nasib dari Tas Robita

Tidak disangka, bekerja di Un’s Hotel memberikan keuntungan tersendiri bagi Sunny karena dari sini perjalanan bisnisnya dimulai. Sejak bekerja di Un’s Hotel, Sunny berkenalan dengan seorang warga negara Jepang pemilik usaha Real Point Inc. bernama Nobuyuki Kakizaki. Kemahiran berbahasa Jepang yang dimiliki Sunny membuat pertemanan mereka semakin dekat hingga Nobuyuki mengajak Sunny bekerja sama.

Foto: Sunny Kamengmau dan produk Tas Robita/ Dok: Pribadi

Nobuyuki sering mengajak Sunny untuk membeli barang-barang kerajinan tangan dan aksesoris di toko untuk dijual kembali ke Jepang. Para pelanggannya di Jepang memang sering tidak kebagian barang hingga harus menerapkan sistem Pre Order (PO).

Pria kelahiran Maxzmur, Alor (NTT) 12 September 1975 ini kemudian diajari bagaimana cara memilih barang berkualitas hingga cara mengirimnya ke Jepang. Itu semua dilakukan Sunny saat pagi atau siang hari karena malamnya ia tetap bekerja sebagai security di hotel. Hingga akhirnya, di awal tahun 2000 mereka berdua mulai memproduksi tas kulit. Namun tas kulit ini belum diberi merek.

“Pada tahun 2000 awal kami ada ide buat tas kulit. Cari ke tempat pengepul di daerah dekat bandara di Kampung Jawa,” ujar Sunny.

Dari kampung Jawa, akhirnya Sunny dan Nobuyuki mendapati satu orang perajin yang mampu membuat tas kulit. Sejak saat itu produksi tas mulai dilakukan meski masih coba-coba.

“Kami coba untuk buat sampel tas kulit. Akhirnya beberapa bulan ada respon yang pesan. Pertama kali yang pesan dari Jepang. Mungkin hanya belasan yang dijual dan sebulan omzetnya masih tidak tentu,” tambahnya.

Dari penjualan tas kulit itu, Sunny mendapatkan upah tambahan dari Nobuyuki. Sampai pada tahun 2003, Sunny dan partnernya membentuk CV Realisu dengan brand Tas Robita. Nama Robita dipilih karena partner bisnisnya yaitu Nobuyuki Kakizaki suka dengan karakter tokoh Nobita di film kartun Doraemon.

Singkat cerita bisnisnya semakin berkembang dan mengalami peningkatan cukup besar. Tercatat di tahun 2007, produksi tas mencapai 5.000 pcs setiap bulannya. Puncaknya terjadi di tahun 2009 dimana Sunny dan Nobuyuki telah memiliki karyawan hingga mencapai 300 orang.

“Akhirnya kami mulai bentuk Tas Robita tahun 2003. Saya bangun tempat produksi. Saat itu karyawan baru 20 orang. CV Realisu dari situ,” ungkap Sunny.

Asli Handmade Bikin Tas Robita Laku di Jepang  

Ketika ditanya soal modal awalnya berbisnis, Sunny Kamengmau mengaku bahwa ia sama sekali tidak mengeluarkan modal.

“Jadi awal modal nggak ada sama sekali. Saya waktu itu motor saja sewa. Kemudian kredit motor setahun kemudian. Bahkan partner saya itu tahun 2004, itu empat kali pengiriman tidak dibayar dan saya memiliki utang numpuk. Dia (Nobuyuki Kakizaki) kemudian mengeluarkan kredit di Jepang untuk menyelesaikan pembayaran itu,” kata Sunny.

Meski sempat mengalami berbagai kendala, produk Tas Robita sangat diminati pasar Jepang. Menurut Sunny salah satu penyebab utama adalah karena orang Jepang sangat suka pada produk-produk asli buatan tangan (handmade).

“Tas ini natural dalam bentuk anyaman. Di samping itu, warnanya juga dibilang antik ya bagi orang Jepang. Prosesnya juga handmade semua. Di Jepang handmade dihargai sangat mahal,” tambahnya.

Tas Robita yang sangat diminati pasar Jepang, Dok: Sunny Kamengmau
Foto: Tas Robita yang sangat diminati pasar Jepang/Dok: Sunny Kamengmau

Pemasaran di Jepang ditangani langsung oleh Nobuyuki. Strategi yang digunakan ialah dengan cara merekrut sales-sales handal yang ahli menjual produk. Kemudian Sunny juga rutin melakukan analisis market dan membangun konsep tas jenis apa yang paling disukai di pasar Jepang. Jadi setelah kembali ke tanah air, Sunny segera membuat produk tas yang sesuai dengan kebutuhan pasar di Jepang.

“Setiap saat saya pergi ke Jepang untuk meeting dan mencari tahu market maunya apa. Saya sudah tahu apa yang dicari pasar Jepang. Mulai dari produksi, kualitas, hingga bahan baku harus bagus karena standar kualitas yang ketat di Jepang,” ujar Sunny.

Di dalam produksi Tas Robita, Sunny menerapkan kebijakan yang cukup ketat. Produk tas yang dibuatnya harus sedemikian sempurna mulai dari jahitan, jenis kulit yang digunakan hingga tempelan manik-manik asesoris tas. Hal ini dilakukan Sunny agar masyarakat Jepang puas dengan kualitas yang ditawarkan Tas Robita.

Sementara itu, harga jual Tas Robita di Jepang rata-rata dibanderol Rp 4-5 juta untuk ukuran besar dan Rp 2-3 juta untuk ukuran kecil. Sejak tahun 2006 hingga 2012 rata-rata penjualan Tas Robita di Jepang bisa mencapai Rp 25-30 miliar setiap tahun.

Bangkit dari Masa-Masa Sulit

Setiap bisnis pasti pernah mengalami masa naik turun. Meski sudah mengekspor produk ke Jepang sejak tahun 2000, sejak dua tahun terakhir ini produksi Tas Robita mengalami penurunan. Masalah Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi salah satu kendalanya. Selain itu, partner-nya Nobuyuki Kakizaki meninggal dunia karena penyakit kanker paru-paru.

Partner saya dua tahun lalu (2014) meninggal. Dia adalah motivator saya. ini sudah meninggal 2014. Omzet juga turun karena beliau fokus di pengobatan. Produksi juga turun dari 3.500 pcs per bulan. Sekarang sejak dia (Nobuyuki Kakizaki) meninggal kemarin kita produksi 1.500 pcs per bulan,” tutur Sunny dengan nada sedih.

Meski begitu, anak kedua dari lima bersaudara ini tidak lantas putus asa. Sepeninggal Nobuyuki Kakizaki, Sunny mulai bekerjasama dengan istri Nobuyuki yang mengambil alih perusahaan di Jepang. Selain itu, Sunny juga mulai membuat produk yang lebih inovatif dan melakukan kontrol produksi yang sangat ketat terhadap produknya.

Tempat pembuatan Tas Robita, Dok: Sunny Kamengmau
Foto: Tempat pembuatan Tas Robita/Dok: Sunny Kamengmau

“Dari mulai pemilihan material sampai produksi dicek sama saya langsung karena saya mengetahui standar kualitas kontrol produk di Jepang. Saya mengajari staf cara-cara mengecek dengan teliti. Jadi sebelum barang dikirim, barang sudah di-checking. Dari mulai pemilihan sampai proses produksi saya kontrol semua,” tutur Sunny.

Tidak hanya itu, Tas Robita justru mendapatkan pesaing berat yaitu produk asal China di pasar Jepang. Tetapi justru dengan tawaran harga yang lebih mahal, Tas Robita mampu mengalahkan tas buatan China yang harganya lebih murah.

“Pasar kita berbeda karena ini handmade. Beda sekali dengan produk China yang berbasis pabrik,” sahutnya.

Tidak hanya bekerjasama dengan istri Nobuyuki Kakizaki, Sunny juga lebih memperluas pasar dengan bekerjasama dengan berbagai stakeholder agar bisa mendistribusikan ke ritel dan outlet di Jepang. Akhirnya ia mendapatkan rekan bisnis dari Jepang yang bisa memasukan produk tas buatannya di Toko Inoya, Jepang.

“Dengan Inoya saya langsung produksi 800 pcs,” sebutnya.

Kini Incar Pasar Indonesia

Sunny Kamengmau, pengusaha tas Jepang asal Indonesia ternyata mempunyai ambisi lain. Setelah sukses menjual produk Tas Robita di Jepang, dia ingin meraup sukses berbisnis tas di dalam negeri.

Sunny mengatakan dirinya sudah mendirikan sebuah butik Robita di Seminyak, Bali. Niatnya mendirikan dua butik lagi di Nusa Dua dan Ubud. Sunny tetap akan memakai merek Robita, meski di Indonesia merek ini belum sepopuler Jepang. Dia mengatakan Nobuyuki Kakizaki dari Real Point Inc sudah memberikannya restu untuk tetap memakai merek itu sebelum meninggal.

“Semenjak 2016 kita sudah launching di Bali (Seminyak) dengan kualitas yang sangat bagus dan aksesoris juga datang langsung dari Jepang,” sebutnya.

Tas Robita memiliki kualitas yang tinggi, Dok: Sunny Kamengmau
Foto: Tas Robita memiliki kualitas yang tinggi/Dok: Sunny Kamengmau

Dia juga mengatakan pengalaman membuat dan memasok tas Robita selama 16 tahun ke Jepang melahirkan kepercayaan diri untuk berjualan sendiri di Bali. Modal bisnis di Bali ini 100% dari dompet seorang Sunny. Menurut Sunny butiknya di Seminyak betul-betul didesain dengan kualitas tinggi. Dia berani merogoh lebih dari Rp 100 juta hanya untuk membangun interior seluas 30 meter persegi.

Pendirian butik atau toko di Bali ini adalah obsesi lain Sunny yang ingin mengembangkan usahanya, tak sekadar menjadi pemasok tapi juga menjual sendiri untuk pasar Indonesia. Dia menginginkan Bali adalah test market kalau sukses, dia akan membidik Jakarta.

“Target itu tentu ada,” katanya.

Sunny mengakui bahwa perjalanan bisnisnya memang tidak selalu mulus. Namun ketika ditanya mengenai tips sukses bisnisnya, Sunny mengatakan pentingnya memegang kepercayaan.

“Saya ini kan memulai dari nol sama partner, saya setia sampai sekarang. Bahkan dalam keadaaan sesulit apapun saya tidak meninggalkan dia dan dia tidak meninggalkan saya. Sehingga saya tetap memiliki rasa optimis yang tinggi. Masa-masa sulit hingga sekarang sedang bangkit,” kata Sunny.

Ia juga mengungkapkan bahwa pemerintah seharusnya dapat lebih mendukung industri-industri kecil di Indonesia. Adanya perubahan regulasi mengenai peraturan impor produk kulit juga diyakininya banyak merugikan para perajin kulit.

“Jadi harapan kami pemerintah harus membuat regulasi aturan yang benar-benar baik buat melindungi produk kulit di Indonesia ini. Jujur hingga saat ini kami dirugikan. Awal-awal kulit murah, tapi sejak tahun 2004 ke atas pemerintah memperbolehkan ekspor kulit lembaran yang tidak menjadi satu produk (berupa produk),” papar Sunny.

Selama berbisnis, Sunny juga memiliki pengalaman yang tak terlupakan. Produk Tas Robita miliknya pernah ditampilkan di halaman utama Yahoo Jepang selama 24 jam dengan cuma-cuma alias gratis. Padahal, biaya beriklan di halaman tersebut terbilang cukup mahal.

Penulis: Erlin Dyah Pratiwi, Editor: Wiji Nurhayat

0 Comments Lihat semua →


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *