Strategi Bisnis Damn! I Love Indonesia yang Wajib Dicontoh Pengusaha Muda

Daniel Mananta merupakan salah satu dari sekian banyak artis Indonesia yang mencoba peruntungan dalam dunia bisnis. Pria kelahiran Jakarta, 14 Agustus 1981 ini mulai menggeluti bisnis pakaian dengan brand Damn! I Love Indonesia sejak tahun 2008.

Melalui brand tersebut, Daniel ingin menularkan rasa nasionalisme pada generasi muda. Selain itu, ia juga ingin mengenalkan budaya Indonesia hingga ke mancanegara lewat produknya. Sejak awal diluncurkan, produknya telah mendapatkan banyak sambutan yang positif di masyarakat.

Foto: Daniel Mananta, CEO Damn! I Love Indonesia/ Dok: indotrading.com
Foto: Daniel Mananta, CEO Damn! I Love Indonesia/ Dok: indotrading.com

Impact kita di Damn! I Love Indonesia adalah supaya anak muda mencintai produk Indonesia dan orang luar juga mencintai budaya Indonesia. Karena kalau misalnya kita memilki impact positif, orang-orang disekitar kita akan mendukung kita. Semakin mereka mendukung kita, semakin kita naik, profit pasti bakal dateng,” jelas Daniel, CEO Damn! I Love Indonesia kepada indotrading.com Rabu, (23/11/2016).

Baca juga: Damn! I Love Indonesia: Bisnis Kaos Ala Daniel Mananta yang Sudah Merambah Korea hingga Amerika

Awalnya, Daniel mengaku hanya ingin coba-coba. Namun ia sadar bahwa bisnisnya ini memiliki potensi besar jika ditekuni dengan serius. Untuk itu, ia kemudian merekrut dua orang temannya sebagai partner bisnis, yaitu Win Satrya dan Martina Salim untuk mengembangkan Damn! I Love Indonesia.

Win ditunjuk sebagai President Director sementara Martina dipercaya untuk menjadi Director di Damn! I Love Indonesia. Dengan bantuan kedua orang ini, Damn! I Love Indonesia pun semakin berkembang. Awalnya hanya ada 1 toko yang beroperasi. Kini jumlah toko sudah semakin bertambah hingga 9 toko. Bahkan, produk-produk Damn! I Love Indonesia sudah diekspor hingga ke Amerika.

Foto: Salah Satu Produk Damn! I Love Indonesia/ Dok: Damn! I Love Indonesia
Foto: Salah Satu Produk Damn! I Love Indonesia/ Dok: Damn! I Love Indonesia

“Sudah diekspor ke Korea Selatan, Jepang, Amerika, Malaysia, sama Australia. Kebanyakan dari mereka belinya secara online sih,” ujar Daniel.

Lalu, apa rahasia sukses Damn! I Love Indonesia milik Daniel Mananta ini?

Baca juga: 3 Pengusaha Ini Berhasul Raup Omzet Ratusan Juta/Bulan Hanya dengan Modal Bambu

Maksimalkan Branding  karena Penting

Daniel, Win, dan Martina percaya bahwa branding merupakan hal penting yang tidak boleh disepelekan. Branding yang bagus akan membuat konsumen percaya dan tak ragu untuk menggunakan produk-produk mereka. Selama ini, strategi branding yang mereka lakukan misalnya dengan memanfaatkan acara-acara di televisi atau promosi lewat online seperti website dan media sosial.

“Kalau branding sebenarnya awalnya dari Daniel. Daniel yang maju ke tv-tv karena itu kan branding yang paling utama. Yang kedua, kita juga yang di belakang melakukan branding lewat online ,” ucap Win, President Director Damn! I Love Indonesia.

Foto: Daniel Mananta, CEO Damn! I Love Indonesia bersama Win Satrya dan Martina Halim/ Dok: indotrading.com
Foto: Daniel Mananta, CEO Damn! I Love Indonesia bersama Win Satrya dan Martina Halim/ Dok: indotrading.com

Meski begitu, branding bukan hanya bisa dilakukan lewat media promosi saja. Branding justru bisa dilakukan dengan cara-cara sederhana seperti melakukan beberapa perubahan secara berkala di toko.

“Banyak kelemahan yang kita lihat dari toko-toko Indonesia. Mereka buka tahun 90-an dan sampe sekarang tetap feel kayak gitu aja. Kalau kita, sebisa mungkin setiap lima tahun ngeliat tren apa nih di toko terus kita ganti konsepnya. Ternyata saat gue nanya ke retail-retail yang lain, brand luar itu setiap tahun suka ganti konsep tokonya,” kata Daniel.

Baca juga: Bisnis Kemasan PT Starindo Jaya Packing Lolos Uji Iso hingga Berhasil Ekspor ke Singapura

Menurut Daniel, branding bukan hanya sekadar image atau pencitraan sebuah produk. Lebih dari itu, branding bisa menonjolkan ciri khas suatu produk dan menunjukkan perbedaan produk-produk lain dengan produk tersebut.

“Sangat penting banget apa yang membedakan kita sama clothing-clothing lain. Kita harus terus kuatin kalau kita ini its all about urban patriotism. Dari branding orang baru ngerti. Dari branding mereka akhirnya bisa ‘oh yaudah deh support mereka’. Branding sendiri bisa menentukan seberapa produk itu cool atau kuno. Jadi, penting banget dan udah pasti sih branding itu vital banget dalam sebuah usaha,” tegas Daniel.

banner-1-01

Lakukan Strategi Marketing yang Maksimal Lewat Media Sosial

Selain strategi branding, strategi marketing juga tak kalah penting. Tak bisa dipungkiri bahwa marketing merupakan faktor krusial yang bisa menentukan untung ruginya sebuah bisnis. Menurut Martina, Director Damn! I Love Indonesia, strategi marketing sebaiknya disesuaikan dengan target marketing yang dituju.

Baca juga: Balon Angkasa Pelopor Industri Balon Udara Promosi yang Laris Manis hingga Singapura

“Sebenarnya target market kita dari umur 13 sampai 35 tahun, tapi kita menargetkannya itu dari umur 18-25 untuk produknya. Sekarang kan oang-orang nyebutnya zaman millenials. Awalnya kita ngomongin target dibawah 18 dengan desain pun bisa dipakai lebih dari millenials. Nah jadi kita harus fokuskan ke situ. Kita terus mengikuti tren pasar sama konsistensi. Konsisten dengan kita punya visi dan misi. Kita mau promosikan modern patriotism,” papar Martina.

Foto: Martina Halim, Director Damn! I Love Indonesia/ Dok: indotrading.com
Foto: Martina Halim, Director Damn! I Love Indonesia/ Dok: indotrading.com

Setelah target yang dituju jelas, baru dibuat konsep dan produk yang sesuai. Hal itu kemudian dituangkan ke dalam foto, lookbook, atau materi untuk promosi lewat online.

“Jadi kita mau mengarahkan semuanya ke situ dari segi marketing, konsep, sampai ke produk. Misalnya dengan kita lakukan ada lookbook, foto, segala macem, itu strategiyang kita lakukan sih. Sekarang kayaknya lebih banyak spend untuk budget promosi. Misalnya kayak 17 agustus kemarin kita masih tetep ada kegiatan. Sekarang kita terus melakukan photoshoot. Kita melakukan semuanya sesuai tren sih, biar semua orang tau, customer juga engage,” ujar Daniel.

Baca juga: Sukses Buat Pesawat Tanpa Awak, IPCD Jadi Langganan Mabes TNI hingga Kemenhan RI

Daniel mengatakan bahwa cara promosi lewat online seperti endorse di media sosial cukup efektif. Sesekali, ia pun meminta teman-temannya dari kalangan artis untuk memakai produk Damn! I Love Indonesia miliknya dan mempostingnya lewat media sosial.

“Kebetulan temn-temen gue artis. Jadi untuk mereka tweet di Twitter mereka, Instagram, itu lebih mudah. Cara seperti itu efektif banget,” kata Daniel.

Kuatkan Strategi Partnership agar Lebih Solid

Bisnis dengan sistem partnership memang tidak gampang dilakukan. Hal ini tak hanya diakui oleh Daniel, namun juga Win dan Martina.

Foto: Win Satrya, President Director Damn! I Love Indonesia/ Dok: indotrading.com
Foto: Win Satrya, President Director Damn! I Love Indonesia/ Dok: indotrading.com

Di awal-awal membangun bisnis ini, mereka bertiga sering mengalami perbedaan pendapat. Namun, mereka selalu ingat untuk terus memagang teguh prinsip bisnis Damn! I Love Indonesia. Hal inilah yang akhirnya yang bisa menyatukan perbedaan antara mereka.

“Kalau kita mengacu pada visi dan misi kita. Visinya menjadi brand dan perusahaan paling sukses dan berpengaruh sebagai brand dan media dalam memperkenalkan Indonesian culture dengan cara yang revolusioner. Misinya mempromosikan modern patriotism Indonesia sehingga mendapatkan impact global dengan cara revolusioner,” terang Win.

Baca juga: Bisnis Karoseri PT Karya Tugas Anda: Jadi Langganan Pemerintah hingga Ekspansi ke Asia Tenggara

Baik Daniel, Win, maupun Martina juga belajar banyak dari pengalaman. Tak bisa dipungkiri bahwa sesekali ego pribadi kadang muncul begitu saja. Namun seiring berjalannya waktu, mereka bisa saling mengerti dan memahami satu sama lain sehingga tidak mementingkan ego mereka sendiri.

“Kita bertumbuh sih, dari yang awalnya masing-masing egois maunya beda-beda, lama-lama belajar jadi ngertiin satu sama lain jadi kita mulai ngikuti mana yang terbaik untuk perusahaan,” ujar Win.

Foto: Salah Satu Produk Damn! I Love Indonesia/ Dok: Damn! I Love Indonesia
Foto: Salah Satu Produk Damn! I Love Indonesia/ Dok: Damn! I Love Indonesia

Agar bisa mengelola bisnis dengan baik, diperlukan niat dan komitmen yang tinggi. Tak hanya itu, fokus juga diperlukan. Semua akan sempurna jika didukung oleh tim yang solid.

“Kalau bisnis itu ya harus punya dasarnya. Seperti yang tadi itu kan big picture banget yang kita jalani. Kalau untuk companny biasa mungkin rata-rata harus fokus, niat, dan komitmen. Yang kedua punya konsep. Mau bangun bisnis apapun, kalau dasarnya sudah ada, pasti harus punya tim, dan lain sebagainya,” timpal Martina.

Baca juga: Meski Masih Muda, 4 Pengusaha Sepatu Ini Berhasil Ekspor Sepatu hingga ke Eropa

Memilih partner bisnis memang sulit. Untuk itu, Daniel memberikan tips mudah untuk mencari seorang partner bisnis yang tepat. Semua itu tergantung dari kebaikan hatinya atau karakternya.

“Banyak orang yang melihat parteran itu kapabilitasnya, tapi begitu partner-an ternyata nih orang ngga deliver dan hatinya juga nggak baik,” terang Daniel.

Foto: Salah Satu Produk Damn! I Love Indonesia/ Dok: indotrading.com
Foto: Salah Satu Produk Damn! I Love Indonesia/ Dok: Damn! I Love Indonesia

Sependapat dengan Daniel, Win juga setuju bahwa karakter sangat penting untuk memilih partner dalam berbisnis. Sementara kapabilitas atau skill bisa dilatih sedikit demi sedikit.

“Lebih penting karakter dulu soalnya kalau skill nanti lama-lama bisa beajar, yang lebih penting karakter sih,” kata Win.

Terakhir, Daniel berpesan bahwa sebelum membuat bisnis, pikirkan dampaknya bagi kehidupan orang lain. Karena menurutnya, bisnis yang baik ialah yang bis amemberikan manfaat positif bagi orang-orang di sekitarnya.

“Usahakan setiap kali kita membuat bisnis, impact-nya itu positif dan bisa didukung oleh orang-orang sekitar,” pungkas Daniel.

Baca juga: Pernah Dijual dari Rumah ke Rumah, Kini Susu UHT PT Ultrajaya Berhasil Diekspor hingga Amerika

 

Reporter: Kumi Laila      Penulis: Erlin Dyah Pratiwi

0 Comments Lihat semua →


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *