Pernah Jadi Kuli Pasir, Kini Danu Sofwan Sukses Jadi “Radja Cendol” Beromzet 1,5 Miliar

“Setiap pengusaha pasti ada masa-masa sulitnya. Bukan seberapa banyak kita jatuh, tapi seberapa kuat kita bangkit dari jatuh itu,” kata Syahputra Kamandanu Sofwan, CEO Radja Cendol.

Menjadi pengusaha yang sukses memang tidak mudah. Butuh perjuangan panjang serta semangat untuk pantang menyerah. Salah satu pengusaha yang patut kita contoh daya juangnya adalah Syahputra Kamandanu Sofwan atau yang akrab disapa Danu Sofwan.

Danu terlahir dari keluarga yang berkecukupan karena ayahnya adalah seorang pengusaha sukses. Sejak kecil, apapun yang ia inginkan selalu dituruti oleh orangtuanya. Layaknya anak orang kaya lainnya, ia pun diberi berbagai fasilitas mewah seperti mobil.

Baca juga: Strategi Bisnis Damn! I Love Indonesia yang Wajib Dicontoh Pengusaha Muda

Namun semua itu berubah sejak usaha ayahnya mengalami kebangkrutan pada tahun 2006. Kondisi keuangan keluarga Danu pun langsung terguncang. Tak hanya Danu, ibu dan saudara-saudaranya pun merasa tidak siap hidup dengan kondisi yang serba kekurangan saat itu. Apalagi, dua tahun kemudian ayahnya meninggal.

Foto: Syahputra Kamandanu Sofwan, CEO Radja Cendol/ Dok: indotrading.com
Foto: Syahputra Kamandanu Sofwan, CEO Radja Cendol/ Dok: indotrading.com

“Tahun 2006 pas ayah bangkrut, kita semua shock dan kaget. Merasa belum siap aja gitu dengan keadaan yang terjadi. Saya kan anak ke 3 dari 4 bersaudara dan laki-laki satu-satunya,” ujar Danu Sofwan, CEO Radja Cendol saat ditemui indotrading.com Selasa (30/11/2016).

Sebagai anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga, Danu merasa harus bertanggung jawab untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Apalagi saat itu kondisi keuangan keluarganya benar-benar kacau. Tak hanya butik milik ibunya yang dijual, alat-alat elektronik dan perlengkapan rumah tangga pun nekad dijual demi bisa makan. Bahkan, Danu mengatakan bahwa keluarganya saat itu pernah makan hanya dengan lauk kecap.

Baca juga: Damn! I Love Indonesia: Bisnis Kaos Ala Daniel Mananta yang Sudah Merambah Korea hingga Amerika

“Kita bingung dengan keadaan saat itu. Ibu punya butik dijual juga untuk nutupin biaya. Mau makan aja jual TV, jual kasur, makan pake nasi kecap,” kenang Danu.

Alih-alih menyerah dengan keadaan, Danu justru semangat untuk mengubah nasibnya dan keluarganya. Ia pun mencoba berbagai jenis usaha, mulai dari menjadi reseller sepatu hingga rokok elektrik.

Foto: Salah Satu Produk Radja Cendol/ Dok: indotrading.com
Foto: Salah Satu Produk Radja Cendol/ Dok: radjacendol.com

“Terus akhirnya berbagai macam fase saya lewati. Dari tahun 2008 mungkin udah 10 usaha yang pernah saya coba. Awalnya cuma jadi reseller seperti sepatu, baju, gelang, rokok elektrik, pokoknya banyak banget yang lainnya,” kata Danu.

Lalu, bagaimana perjuangan Danu membangun Radja Cendol hingga memiliki 780 outlet hingga sekarang?

Baca juga: 3 Pengusaha Ini Berhasil Raup Omzet Ratusan Juta/Bulan Hanya dengan Modal Bambu

Angkat Kuliner Khas Indonesia Lewat “Randol”

Suatu hari, Danu merasa gelisah karena ada begitu banyak produk luar yang menguasai pasar Indonesia. Padahal, masih banyak produk tradisional asli Indonesia yang memiliki cita rasa yang lezat. Akhirnya ia pun mencari inspirasi bisnis kuliner asli Indonesia lewat internet hingga menemukan cendol sebagai jawabannya.

“Saya ngeliat pasar Indonesia ini terintimidasi oleh produk luar. Jadi jarang banget pelaku usaha, khususnya UMKM gitu menjual produk lokal dan tradisional, justru malah sebaliknya. Indonesia punya apa ya? Katanya kuliner Indonesia itu kaya. Terus saya observasi. Saya cari-cari di internet yang mencuat itu adalah cendol,” terang Danu.

Dari hasil pencarian di internet, Danu menemukan bahwa cendol masuk ke dalam daftar 50 minuman terlezat di dunia lewat CNN. Dari sinilah ide untuk berbisnis cendol itu muncul. Selain itu, Danu juga ingin mengangkat kuliner Indonesia agar tidak kalah dengan produk-produk luar.

Foto: Salah Satu Produk Radja Cendol/ Dok: radjacendol.com
Foto: Salah Satu Produk Radja Cendol/ Dok: radjacendol.com

“Ternyata cendol mewakili Indonesia masuk dalam daftar 50 minuman terlezat di dunia via CNN yang mempoling bahwa rendang makanan terlezat di dunia. Jadi Indonesia mewakili dua minuman, es kelapa muda sama cendol. Kok sebegini hebatnya cendol, tapi orang kok malah berbondong-bondong menjual produk luar,” ucap Danu.

Keprihatinan Danu akan banyaknya kuliner dari luar negeri yang menguasai pasar Indonesia ini bukan tanpa alasan. Danu merasa bahwa cendol sebagai representasi salah satu kuliner asli Indonesia ini harus diangkat. Karena nyatanya, belum banyak yang tahu bahwa cendol termasuk salah satu minuman terenak di dunia.

Baca juga: Bisnis Kemasan PT Starindo Jaya Packaging: Lolos Uji ISO hingga Berhasil Ekspor ke Singapura

“Harus ada suatu gerakan dari anak muda lah seenggaknya untuk mengangkat si cendol ini supaya bisa lebih dikenal dan mengangkat makanan tradisional Indonesia juga. Karena ternyata cendol ini adalah minuman tradisional indonesia yang rasanya lezat dan sudah diakui oleh dunia,” terang Danu.

Selama ini, cendol sering dianggap sebagai kuliner pinggiran yang kurang bergengsi. Untuk itu, Danu ingin mengangkat cendol sebagai minuman yang enak, sehat, dan juga berkualitas. Akhirnya, Danu membuat usaha minuman cendol yang diberi nama “Radja Cendol” atau biasa disingkat Randol pada tahun 2013.

Foto: Syahputra Kamandanu Sofwan, CEO Radja Cendol/ Dok: indotrading.com
Foto: Syahputra Kamandanu Sofwan, CEO Radja Cendol/ Dok: indotrading.com

“Kenapa Radja Cendol harapan kita ingin merajai pasar tradisional Indonesia. Karena msih sangat jarang kuliner tradisinonal yag diangkat sama pelaku usaha Indonesia. Kita adalah pelopor cendol susu dan varian topingnya dan itu pertama di Indonesia,” jelas Danu.

Namun, cendol racikan Danu bukanlah cendol biasa. Ia melakukan beberapa inovasi ke dalam produk cendolnya. Ini dilakukan untuk meningkatkan nilai jual cendol tersebut serta menarik minat masyarakat.

Baca juga: Balon Angkasa: Pelopor Industri Balon Udara Promosi yang Laris Manis Hingga Singapura

“Gimana caranya si cendol ini lebih punya value. Terus saya pikir produk cendol ini harus dimodifikasi harus saya sentuh dengan beberapa inovasi,” tegas Danu.

Salah satu inovasi yang dilakukan ialah dengan cara mengganti santan dengan susu. Hal ini bukan tanpa alasan. Dari riset yang dilakukan, ternyata konsumsi susu masyarakat Indonesia masih sangat rendah dibandingkan dengan negara-negara di kawasan ASEAN.

Foto: Salah Satu Produk Radja Cendol/ Dok: radjacendol.com
Foto: Salah Satu Produk Radja Cendol/ Dok: radjacendol.com

“Akhirnya kita mengganti santan dengan susu. Itu pun ada tujuannya. Saya riset lagi ternyata Indonesia adalah negara yang tingkat konsumsi susunya paling rendah, bahkan di ASEAN hanya 12 liter per kapita per tahun. Jauh dari Malaysia dan Singapura yang sudah 50 liter per kapita per tahun. Apalagi yang di luar negeri lainnya itu sudah ratusan liter. Jadi setiap rinci atau setiap detailnya itu saya ada visi misi tertentu,” jelas Danu.

Danu mengatakan bahwa Unique Selling Point (USP) sangatlah penting. Jika ingin terus berkembang, sebuah produk wajib memiliki keunikan. Begitu juga yang dilakukan Danu. Selain melakukan inovasi produk, Danu juga menggunakan nama-nama menu yang unik.

Baca juga: Sukses Buat Pesawat Tanpa Awak, IPCD Jadi Langganan Mabes TNI hingga Kemenhan RI

“Ada Kejendol (keju and cendol), ada SUNDEL BOLONG (tiramisu pake cendol boleh dong), ada di GONDOL SATPOL dimana (greentea dan cendol bersatu itu nampol). Jadi penamaan menu itu yang unik. Pertama kali orang liat gambarnya doang atau menunya doang mereka pasti sudah tertarik, ketawa-ketawa lucu, dan segala macam. Seidanya orang melirik produk kita dulu,” papar Danu.

Keunikan sangat penting karena itulah yang akan menarik orang untuk melihat produk kita. Setelah melihat keunikan, biasanya orang akan tertarik untuk mencicipi produk itu. Jika mereka merasa puas, pasti hal ini akan cepat menyebar ke orang lainnya.

Foto: Salah Satu Produk Radja Cendol/ Dok: radjacendol.com
Foto: Salah Satu Produk Radja Cendol/ Dok: radjacendol.com

“Nah kalau udah begitu mereka pasti pengen nyobain, terus mereka pun nyari. Setelah mereka nyari terus merasakan, rasanya sesuai dengan ekspektasi mereka, dari situ timbul WOM (Word of Mouth) dari mulut ke mulut alias getok tular,” ujar Danu.

Sejak pertama kali diluncurkan sekitar 2,5 tahun yang lalu, Randol mendapatkan sambutan yang positif. Selain kelezatan dan keunikannya, Randol juga banyak diminati karena sehat untuk dikonsumsi. Hal ini dikarenakan Randol tidak menggunakan bahan pewarna dan pengawet makanan dalam proses pembuatannya. Tak hanya itu, cendol Randol pun dikenal memiliki tekstur yang sangat kenyal.

Baca juga: Bisnis Karoseri PT Karya Tugas Anda: Jadi Langganan Pemerintah Hingga Ekspansi ke Asia Tenggara

“Kita kan pakai tepung terus dicampur sari daun suji karena kita nggk  menggunakan pewarna makanan. Prosesnya itu diaduk berjam-jam agar menghasilkan cendol yang kenyal,” tegas Danu.

Resep Randol yang enak dan kenyal itu ternyata tidak didapatkan dengan mudah. Danu mengaku harus keliling ke beberapa kota untuk mencari pembuat cendol terbaik. Ia pun mengajak pembuat cendol yang terbaik tersebut untuk bekerja sama.

Foto: Salah Satu Produk Radja Cendol/ Dok: radjacendol.com
Foto: Salah Satu Produk Radja Cendol/ Dok: radjacendol.com

“Jadi saya bacpakeran mencari para pembuat cendol di berbagai daerah. Ada kali 5 kota yang saya singgahi. Akhirnya di Pekalongan ketemulah sama satu orang yang sekarang akhirnya kita kerja sama. Nah dia itu saudaranya pembuat dedengkot cendol Indonesia. Meskipun saya kerjasama dengan ahli pembuat cendol, tapi untuk resep itu dari saya sendiri,” papar Danu.

Tak Malu Jadi Kuli Pasir, Pengamen, dan Supir Demi Kumpulkan Modal

 Menjadi satu-satunya anak laku-laki dalam keluarga membuat Danu mau tak mau jadi tulang punggung keluarga. Danu pun terus memutar otak bagaimana caranya mengumpulkan uang dalam waktu yang cepat untuk modal usaha cendol. Apapun pekerjaannya, asal halal pun akan dilakukan oleh Danu. Semua itu dilakukan demi mewujudkan Randol.

Baca juga: Meski Masih Muda, 4 Pengusaha Sepatu Ini Berhasil Ekspor Sepatu hingga ke Eropa

“Saya kan dulu sempet jadi kuli pasir untuk mengumpulkn modal membuka usaha cendol,” kata Danu.

Tak hanya menjadi kuli pengangkut pasir, pria kelahiran Tasikmalaya, 20 Agustus 1987 ini pun rela menjadi pengamen. Pekerjaan itu ia lakukan selama 8 bulan.

“Nah selain jadi kuli pasir, saya ngamen cukup lama juga selama 8 bulan. Itu karena ngumpulin modal.  Bayak yang bingung kan modal gimana sih nyarinya. Kalau kita bergerak modal pasti ada asal kita terus cari. Yaudah akhirnya nyicil-nyicil tuh pas mau bikin tempat jualannya,” kata Danu.

Foto: Syahputra Kamandanu Sofwan, CEO Radja Cendol/ Dok: indotrading.com
Foto: Syahputra Kamandanu Sofwan, CEO Radja Cendol/ Dok: indotrading.com

Danu juga tak malu menjadi supir panggilan. Selama ada kesempatan untuk mendapatkan uang dengan jalan halal, hal itu tidak disia-siakannya.

“Saya juga kerja sebagai supir. Nyupirin temen pokonya apapun pekerjaan selagi menghasilkan dan halal saya kerjakan,” ucap Danu.

Baca juga: Pernah Dijual dari Rumah ke Rumah, Kini Susu UHT PT Ultrajaya Berhasil Diekspor Hingga Amerika

Selain menjalani berbagai pekerjaan demi mengumpulkan modal, Danu juga belajar membuat website Radja Cendol seorang diri. Meski bukan anak IT, ia memiliki semangat yang tinggi agar bisa membuat website untuk usahanya ini. Ia sering meluangkan waktunya untuk membaca buku di toko buku, meski pernah sampai diusir oleh satpam.

“Saya belajar tuh di toko buku sampai diusir-usir sama satpam. Saya orangnya seneng belajar dan seneng sama sesuatu yang baru. Saya nggak ngerti IT, tapi website Randol saya yang buat sendiri. Terus membuat coding sendiri, waktu itu ngga ada yang membantu karena memang nggak ada biaya,” papar Danu.

Miliki 780 Outlet yang Beromzet Milyaran

Hasil memang tak pernah mengkhianati usaha. Setelah berjuang mengembangkan bisnis Radja Cendolnya, kini Danu akhirnya bisa menikmati hasil usahanya. Dengan sistem franchise, kini Radja Cendol telah memiliki 780 outlet di seluruh Indonesia. Bahkan, tahun depan Danu berencana untuk membuka cabang di Malaysia dan Singapura.

Foto: Syahputra Kamandanu Sofwan, CEO Radja Cendol/ Dok: indotrading.com
Foto: Syahputra Kamandanu Sofwan, CEO Radja Cendol/ Dok: indotrading.com

“Sudah ada 780 outlet itu tesebar di seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Kita juga harapannya pengen ekspor. Insya Allah awal tahun depan kita mau buka di Malaysia dan Singapore. Di sana kita ada mitra untuk franchise-nya. Kalau outlet milik pribadi ada 10 itu tersebar di Jabodetabek,” ucap Danu.

Danu mematok harga cendolnya ini dengan harga yang relatif terjangkau. Ia membanderol harga cendolnya dari range Rp7.500 hingga Rp17.000 setiap cup-nya. Perbedaan harga ini tergantung dari jenis toping yang digunakan. Semakin banyak toping yang digunakan, semakin mahal harga cendol tersebut.

Baca juga: Mencicipi Lezatnya Peluang Bisnis Bumbu Instan Rempah Nusantara

“Kalau harga cendol original itu dimulai dari harga Rp7.500 sampai Rp8.000. Kalau menu yang ada toping-topingnya itu dibanderol dari Rp9.000 sampai Rp10.000. Kalau untuk toping-toping yang heboh itu bisa sampai 15.000 hingga 17.000, tapi itu standardisasi harga. Sedangkan kalau untuk di luar kota itu mengikuti daya beli di sana. Harga yang dijual di mall-mall juga beda, nggak sama,” ujar Danu.

Setiap harinya, tak kurang dari 10.000 cup Radja Cendol diproduksi. Kesepuluh ribu cup ini didistribusikan ke outlet-outlet Radja Cendol yang ada di seluruh Indonesia. Tak heran, dari ratusan outletnya tersebut Danu dapat mengantongi omzet lebih dari 1,5 miliar per bulan.

Foto: Salah Satu Produk Radja Cendol/ Dok: radjacendol.com
Foto: Salah Satu Produk Radja Cendol/ Dok: radjacendol.com

“Kita produksi sehari minimal 10.000 cup. Itu kita distribusikan ke seluruh Indonesia dengan angka satu cupnya itu Rp5.000 rupiah. Rp5.000 tuh sudah dapat cendol, gula, susu, sedotan dan cup. Jadi dia udah tinggal jualin aja dan dijual oleh mitra randol itu Rp8.000 ribu. Nah, per hari 10.000 cup. Jadi ya tinggal dikali aja. Itu di luar biaya franchise, 780 outlet dikali sekitar Rp9 jutaan. Lain lagi hasil dari outlet pribadi. Kita biasa menjual 60 cup perhari untuk per satu outlet,” papar Danu .

Kesuksesan Danu dalam mengembangkan Radja Cendol ini tentu tak bisa diraih dengan mudah. Untuk mengembangkan bisnisnya ini, Danu rutin melakukan inovasi dalam ebrbagai hal. Salah satunya ialah inovasi dalam membuat menu-menu baru.

Baca juga: M. Affandi: Bos Kapal Andalan TNI AL yang Dulunya Teknisi Kapal

“Setiap lima bulanan gitu bikin 1 sampai 2 menu yang baru. Nah, kita sudah punya 9 menu utama tapi kalau menu-menu yang lain tuh ngikutin musim, kaya sekarang musim hujan kita bikin raining season dimana minuman cendolnya adalah hot series. Dengan penamaan menu juga unik. Sekarang sudah ada 18 varian,” ujar Danu.

Dalam berbisnis, Danu memegang prinsip yang hingga kini diyakininya. Ia percaya bahwa tujuan bisnis bukanlah untuk jadi kaya. Dengan memiliki usaha, ia hanya ingin keluarganya bisa tenang saat lapar atau saat sakit.

Foto: Syahputra Kamandanu Sofwan, CEO Radja Cendol/ Dok: indotrading.com
Foto: Syahputra Kamandanu Sofwan, CEO Radja Cendol/ Dok: indotrading.com

“Gini, saya usaha bukan untuk kaya atau besar, justru saya sebaliknya. Tujuan saya pengan buka usaha itu sangat sederhana. Pertama saya pengen keluarga saya nggak khawatir besok makan apa kalau sakit berobatnya gimana? Karena saya sering ngalamain di kondisi seperti itu. Nah karena hal itulah yang membuat aku membuka usaha ini,” terang Danu.

Baca juga: 8 Pekerjaan yang Menempa Orang Biasa Jadi Kaya Raya

Kepada anak muda yang ingin memulai usaha pun Danu memiliki sebuah pesan. Jangan sampai memiliki harapan yang muluk-muluk saat ingin memulai bisnis. Hal yang penting ialah jangan pernah menyerah dan jalani semuanya dengan ikhlas. Jika kedua hal tersebut bisa dilakukan, justru hasil yang didapatkan akan lebih dari yang diharapkan.

“Jadi buat temen-temen yang lagi membangun usaha, jangan terlalu berharap besar banget karena disaat itu jauh dari apa yang kita mau, terus akhirya nyerah, putus asa. Jadi tujuannya itu disederhanain aja yang penting jalanin dengan ikhlas, dengan baik, dengan tepat. Nah yang saya lakukan seperti itu pun Allah memberikan seperti apa yang saya harapin, bahkan yang tidak saya banyangkan,” papar Danu.

 

Reporter: Kumi Laila       Penulis: Erlin Dyah Pratiwi

0 Comments Lihat semua →


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *