Pernah Bangkrut, Yuliana Lim Raup Untung Dari Tas Rotan Sintetis

“Jadilah seseorang yang selalu bisa menginspirasi orang lain. Ikuti perkembangan zaman, jangan ketinggalan dan terlalu idealis dalam arti tetap keukeuh dengan style yang sudah ada. Kita harus mengikuti trend yang ada. Buatlah inovasi,” tulis pemilik usaha Chameo Couture, Yuliana Lim.

Pernahkah Anda mendengar nama Chameo Couture? Nama tersebut mungkin terdengar asing bagi Anda yang belum tahu. Tetapi beberapa orang cukup familiar dengan nama ini.

Baca juga: Hadiah Bunga Sang Pacar Jadi Inspirasi Bisnis Florist Ala ‘Si Cantik’ Novia Bersaudara

Chameo Couture adalah sebuah brand tas anyaman berbahan dasar rotan sintetis. Berbalut motif batik dan terkesan klasik, tas Chameo Couture juga memiliki desain yang elegan.

Foto: Pemilik Chameo Couture, Yuliana Lim/Dok: indotrading.com
Foto: Pemilik Chameo Couture, Yuliana Lim/Dok: indotrading.com

Telah ada di Indonesia sejak tahun 2007, Chameo Couture menjelma menjadi brand tas yang digemari khususnya bagi kalangan menengah ke atas. Apalagi Chameo Couture sudah lama dijuluki sebagai the first Indonesia fashion label & bag maker selected by Pret A Porter Paris as global fashion trendsetter.

Salah satu tokoh yang berjasa membangun Chameo Couture hingga meraih sukses saat ini adalah Yuliana Lim (36). Yuliana mengungkapkan bisnis ini dibangun karena awalnya ia memiliki hobi sebagai pengoleksi tas. Namun ia tertantang untuk membuat sendiri tas dengan desain unik yang berbeda dari jenis tas lainnya. Latar belakang pendidikan sebagai marketing juga ikut membantu dalam pengembangan bisnisnya ini.

“Sebenarnya background pendidikan saya itu marketing, tapi saya sangat suka fashion. Anyamanlah yang saya pilih karena ingin mengenalkan Indonesia ke kancah dunia karena Indonesia memiliki banyak ragam bahan dasar untuk anyaman, ya kenapa tidak saya menekuni ini,” kata Yuliana kepada indotrading.com, Rabu (24/8/2016).

Foto: Pemilik Chameo Couture, Yuliana Lim/Dok: indotrading.com
Foto: Pemilik Chameo Couture, Yuliana Lim/Dok: indotrading.com

Yuliana lalu membuat satu konsep perencanaan bisnis untuk tas yang bakal dia produksi. Ia memiliki ide bisa membuat satu jenis tas anyaman yang memiliki tekstur halus, unik dengan desain yang modern. Idenya tersebut lantas didukung oleh sang suami, Lim Marsulin yang kebetulan berprofesi sebagai pengusaha anyaman berkelas.

“Akhirnya ya sudah saya coba mau bikin tapi waktu itu saya mikir kita bisa mengunakan bahannya tidak dengan rotan asli, tapi sintetis. Karena kalau rotan asli itu terlalu etnik makanya saya mikirin material lain,” sebutnya.

Baca juga: Dari Bambu, Harry Raup Omzet Ratusan Juta dan Bikin Orang Jepang Kaget

Akhirnya ide bisnis tersebut benar-benar direalisasikan. Langkah selanjutnya adalah mencari para pengrajin tas anyaman yang banyak berada di Yogyakarta. Yuliana mengajak kerjasama agar para pengrajin bisa memasok tas sesuai pesanan.

“Saya belum punya pabrik sendiri. Saya coba outsource keluar kota tepatnya Yogyakarta. Karena kota Yogja kan dikenal dengan anyamannya juga,” sebutnya.

Ganti Strategi Bisnis Karena Pernah Bangkrut

Selama satu tahun (atau dari tahun 2007 hingga 2008), Yuliana mendapatkan pasokan tas anyaman rotan dari para pengrajin di Yogyakarta. Tas-tas tersebut kemudian dijual kembali di Jakarta. Awalnya kerjasama ini berjalan mulus, tetapi lama-lama Yuliana mengaku ada yang tidak beres.

Foto: Pemilik Chameo Couture, Yuliana Lim/Dok: indotrading.com
Foto: Pemilik Chameo Couture, Yuliana Lim/Dok: indotrading.com

Jarak yang jauh antara Jakarta dan Yogyakarta kerap menimbulkan mis komunikasi yang menyebabkan lemahnya kontrol produksi. Hasilnya, kualitas tas anyaman rotan yang dihasilkan tidak sesuai dengan keinginan Yuliana.

“Karena jarak yang jauh saya harus bolak balik Jakarta-Yogyakarta. Jadi sering terjadi mis komunikasi hingga menghasilkan produk yang kualitasnya tidak sesuai dengan harapan saya,” kata Yuliana

Sejak kejadian tersebut, usaha yang dijalani wanita kelahiran Sukabumi 27 Juli 1980 bangkrut, barang tidak terjual dan ia merugi hingga ratusan juta rupiah.

“Itu hampir satu tahun berjalan seperti itu terus, hingga saya mengalami kerugian ratusan juta. Pada waktu itu saya nangis banget ya, soalnya itu kan uang modal awal saya,” tambahnya.

Foto: Model sedang mempragakan tas Chameo Couture/Dok: indotrading.com
Foto: Model sedang memperagakan tas Chameo Couture/Dok: indotrading.com

Karena kerugian yang cukup besar itu, pernah terpikir dalam diri Yuliana untuk tidak lagi melanjutkan bisnis Chameo Couture. Namun akhirnya ia bertahan karena satu alasan, kecintaannya pada dunia fashion.

“Saya terus bangkit dan tidak mau menyerah begitu saja. Masa baru sekali gagal sudah langsung menyerah. Yang penting kita harus tekun jangan pantang menyerah, intinya dalam memulai satu bisnis ya jangan setengah-setengah, harus konsisten,” tegasnya.

Baca juga: Rajin Ikut Pameran, Pengusaha Perhiasan Ini Bisa Hasilkan Omzet Rp 150 Juta

Akhirnya Yuliana mulai berani merubah pola bisnisnya. Ia tidak lagi bekerjasama dengan para pengrajin di Yogyakarta. Ia kemudian memindahkan kegiatan produksi tas Chameo Couture ke Jakarta. Kemudian setelah itu, ia mencari penjahit serta pengrajin yang mau bekerja langsung dengan dirinya. Satu unit mesin jahit dibeli dan dengan modal seadanya Yuliana bertekad membangun kembali bisnisnya itu.

“Hingga akhirnya ya sudah deh saya kerjain sendiri di Jakarta saja. Saya kembali dari nol lagi dan saya mulai cari penjahit dan pengrajin, waktu itu mesin jahit baru punya satu. Selain itu memulai dan menciptakan produk ini juga sulit ya tidak hanya pada human error nya saja, karena kan pada waktu itu belum ada yang memproduksi tas dari material yang seperti brand saya ini,” tuturnya.

Foto: Model sedang memperagakan tas Chameo Couture/Dok: indotrading.com
Foto: Model sedang memperagakan tas Chameo Couture/Dok: indotrading.com

Menjalankan strategi baru bukanlah hal yang mudah dilakukan. Yuliana banyak menghabiskan waktunya untuk mengontrol kegiatan produksi hingga memberikan pendidikan kepada para karyawan barunya.

“Kesulitannya yang pasti dari karyawan karena handcraft ya. Jadi orang yang ngerjainnya harus benar-benar dari hati. Jadi harus fokus banget, butuh ketelitian. Jadi lumayan susah saat mendidik tenaga kerjanya,” keluhnya.

Cermat Melihat Pasar dan Hasilkan Tas Berkualitas

Bisnis Chameo Couture kembali berjalan di tahun 2008. Dibantu 3 pengrajin, Yuliana membuat berbagai desain unik pada tas. Bahan bakunya berasal dari rotan sintetis yang dikombinasikan dengan balutan kulit sapi asli. Rotan sintetis dipilih karena dinilai ramah lingkungan dan teksturnya lebih halus dibandingkan rotan asli.

“Pertama kita mudah mendapatkan bahannya, terus lebih gampang digunakan. Kalau rotan asli kan selain bahannya sulit juga mudah patah,” sebutnya.

Foto: Model sedang memperagakan tas Chameo Couture/Dok: indotrading.com
Foto: Model sedang memperagakan tas Chameo Couture/Dok: indotrading.com

Berbagai jenis tas anyaman rotan sintetis sudah dihasilkan oleh Yuliana seperti jenis handbag, backpacks, clutches, shoulder bags, dan sling bags. Modelnya juga cukup banyak misalnya Alona S Prismatic Yellow, Daicy Quilt Blue, Ella in Brown Oak, hingga Emma in Espresso. Harga yang ditawarkan cukup beragam dari ratusan ribu rupiah hingga jutaan rupiah.

Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Anne Avantie: Pengusaha Sukses yang Hanya Lulusan SMP

“Modelnya masih banyak lagi karena setiap season kita mengeluarkan desain yang baru. Harganya mulai dari Rp 920 ribu sampai Rp 2.640 ribu yang dijual di lokal. Yang membedakan harga itu model dan material dan tingkat kesulitan pembuatannya,” jelasnya.

Yuliana mengklaim model tas Chameo Couture yang dibuatnya memang terkesan klasik tetapi modern. Oleh karena itu, meski memiliki harga yang cukup tinggi, tas Chameo Couture diburu oleh berbagai kalangan mulai dari masyarakat umum hingga para istri pejabat.

Foto: Model sedang memperagakan tas Chameo Couture/Dok: indotrading.com
Foto: Model sedang memperagakan tas Chameo Couture/Dok: indotrading.com

“Target market kita sih sebenarnya wanita usia start 21-60 tahun. Kalau customer datang dari berbagai kalangan yang pasti customer saya mencintai barang Indonesia. Yang sudah menggunakan brand saya ini dari kalangan pejabat diantaranya istri Gubernur Pak Ahok bahkan dia meminta untuk dibuatkan costum design. Ada Ibu Jusuf Kalla, Ibu Ani Yudhoyono, Ibunya pak Jokowi pun pakai tas ini,” ujarnya.

Diekspor ke Jepang Hingga Amerika

Selain dipasarkan di dalam negeri, tas Chameo Couture buatan Yuliana Lim telah diekspor ke berbagai negara. Sejak tahun 2009, tas Chameo Couture sudah diekspor dan dipasarkan ke New Jersey, Amerika Serikat (AS).

“Ya awalnya kita jual untuk ekspor, untuk pasar Amerika dulu,” ungkapnya.

Selain di AS, tas Chameo Couture juga dipasarkan di pasar Eropa seperti Paris dan Milan. Sedangkan di kawasan Asia, tas Chameo Couture juga bisa ditemui di negara Jepang. Yuliana mengaku trend penjualan tas Chameo Couture keluar negeri meningkat setiap tahunnya.

“Jepang dan Eropa. Kalau di Eropa saya ada agen di Milan,” sebutnya.

Foto: Model sedang memperagakan tas Chameo Couture/Dok: indotrading.com
Foto: Model sedang memperagakan tas Chameo Couture/Dok: indotrading.com

Selain dipasarkan ke negara-negara tersebut, Yuliana memiliki keinginan melebarkan pasar penjualan ke negara lain baik di kawasan Asia, Amerika maupun di Australia. Oleh karena itu, untuk merealisasikan keinginannya tersebut, Yuliana mengaku bakal meningkatkan sisi kualitas dan aktif mengikuti pameran di luar negeri.

“Pertama kita harus punya produk yang bagus, harus menyesuaikan market di luar negeri. Karena setiap market di berbagai negara kan beda. Jadi kita harus tahu dan bisa mengikuti keinginan mereka. Kalau saya sendiri bisa ekspor kan karena berawal ikut pameran di luar negeri,” tuturnya.

Baca juga: Berbagi Resep Tips Sukses Ala Anne Avantie

Penjualan tas Chameo Couture keluar negeri ikut menaikan omzet penjualan. Apalagi di dalam negeri sendiri, Chameo Couture telah memiliki 20 toko yang sebagian besar tersebar di berbagai mal besar di Jakarta. Misalnya di Mal Pondok indah, Pacifik Place, Taman Anggrek, Plaza Senayan, Gandaria City, Plaza Indonesia, dan Lotte. Selain
di Jakarta, tas Chameo Couture juga dapat ditemukan di Bali.

“Saya tidak bisa menyebutkan angkanya, yang pasti bisa membiayai karyawan saya yang berjumlah 20 orang,” sebutnya.

Inovasi dan peningkatan kualitas tetap dikedepankan Yuliana Lim bagi pengembangan tas Chameo Couture. Dengan cara tersebut, Yuliana mengaku tidak takut bersaing dengan para kompetitor tas di dalam negeri.

“Ya inovasi saja sih, itu paling utama. Intinya kita jangan lengah dan diam begitu saja,” tutupnya.

Reporter: Kumi Laila     Penulis: Wiji Nurhayat

0 Comments Lihat semua →


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *