Ivan Bestari Sulap Limbah Kaca Jadi Barang Bernilai Jutaan Rupiah

“Berkembang itu dari kecil menjadi besar, langkah kecil namun konsisten akan membawa kemajuan,” Ivan Bestari Minar Pradipta, CEO Otakatik Creative Workshop.

Banyak orang yang menganggap limbah kaca dan botol bekas sebagai sampah. Namun di tangan Ivan Bestari, limbah itu justru dapat dijadikan barang unik yang bernilai ratusan ribu, bahkan jutaan rupiah.

Bagaimana bisa?

Ivan mulai menggeluti bisnis daur ulang limbah kaca dan botol bekas ini sejak tahun 2011. Saat itu, di sekitar rumahnya ada banyak sekali limbah kaca dan botol bekas yang sudah tidak terpakai. Karena hobi mengotak-atik barang, Ivan pun tertarik untuk mendaur ulang limbah kaca itu menjadi barang-barang kerajinan tangan.

Baca juga: Hotel Amaris Pasar Baru: “Respon Indotrading Sangat Cepat!

Meski awalnya hanya coba-coba, ternyata produk kerajinan tangan buatan Ivan banyak mencuri perhatian masyarakat. Barang-barang buatan Ivan juga dikenal memiliki desain unik serta nilai artistik yang tinggi.

Foto: Contoh Produk Otakatik Creative Workshop/ Dok: Otakatik Creative Workshop
Foto: Contoh Produk Otakatik Creative Workshop/ Dok: Otakatik Creative Workshop

Akhirnya, tahun 2011 Ivan mendirikan Otakatik Creative Workshop. Tempat itu didirikan bersama teman-teman kuliahnya dulu di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Jurusan Desain Produk yang ada di Kota Yogyakarta.

“Otakatik Creative Workshop terbentuk dengan berkumpulnya beberapa anak muda dari Jurusan Desain Produk UKDW yang sering berkumpul untuk membahas tugas ataupun ide-ide iseng,”ucap Ivan Bestari, CEO Otakatik Creative Workshop kepada indotrading.com  Jumat, (16/12/2016).

Ivan mengatakan bahwa sebenarnya tempat ini terbuka untuk siapa saja yang ingin  berkreasi. Apalagi, untuk orang-orang yang suka mengotak-atik barang seperti Ivan dan teman-temannya. Ivan pun membuka peluang seluas-luasnya jika ada pihak yang ingin mengajak Otakatik Creative Workshop untuk berkolaborasi.

Baca juga: Fourspeed Metalwerks: Bisnis Aksesoris Beromzet Ratusan Juta yang Lariz di Eropa hingga Amerika

“Otakatik merupakan ‘bengkel’ terbuka, laboratorium terbuka, dan ruang kreatif terbuka bagi siapapun yang ingin menggunakan fasilitas yang kami miliki. Di sana, kita bisa berkreasi ataupun berkolaborasi bersama melalui eksplorasi metode pengolahan bahan limbah maupun bahan lokal,” papar Ivan.

Foto: Ivan Bestari Minar Pradipta, CEO Otakatik Creative Workshop/ Dok: Otakatik Creative Workshop
Foto: Ivan Bestari Minar Pradipta, CEO Otakatik Creative Workshop/ Dok: Otakatik Creative Workshop

Ada berbagai jenis barang yang dihasilkan oleh Otakatik Creative Workshop. Sebagian besar barang-barang tersebut digunakan untuk hiasan dan aksesoris. Pengerjaan barang tersebut dilakukan dengan detail dengan menggunakan teknik tertentu. Tak heran, barang kerajinan tangan buatannya yang dipatok hingga jutaan rupiah.

“Karya seni, hiasan dinding, perhiasan, liontin, anting, gelas, vas cadle shade, dan lain-lain,” kata Ivan.

Baca juga: Ingin Majukan UKM Indonesia, Bank BTPN Kolaborasi dengan Google dan Indotrading

Dibuat Secara Handmade dengan Teknik Khusus

Bisnis daur ulang limbah kaca karya Ivan ini memang unik. Dengan kreativitasnya, Ivan mampu mengubah barang yang tidak berguna menjadi karya seni bernilai tinggi seperti hiasan dinding, liontin, anting, gelas, dan hiasan lainnya.

Seluruh produk Otakatik Creative Workshop ini terbuat dari berbagai limbah kaca. Sebelum didaur ulang, benda-benda tersebut dibersihkan terlebih dahulu. Setelah itu, Ivan menyortir benda-benda tersebut sesuai jenis dan ukurannya.

Foto: Contoh Produk Otakatik Creative Workshop/ Dok: Otakatik Creative Workshop
Foto: Contoh Produk Otakatik Creative Workshop/ Dok: Otakatik Creative Workshop

“Bagian utama produk terbuat dari 100% limbah kaca, baik itu kaca yang dilelehkan lalu dibentuk ulang, ataupun limbah botol kaca yang kami potong lalu kami beri sentuhan artistik dan desain,” kata Ivan.

Limbah kaca yang sudah dibersihkan dan disortir kemudian akan didaur ulang sesuai dengan model yang diinginkan. Ada limbah kaca yang bisa langsung dibentuk ulang atau dilelehkan terlebih dahulu.

Baca juga: Rahasia Danu Sofwan Raup Omzet Milyaran dari Bisnis Cendol

Namun, secara umum ada dua metode daur ulang limbah plastik ini, yaitu metode flameworking dan cold working. Metode flameworking dilakukan dengan cara memanaskan atau melelehkan limbah kaca terlebih dahulu sebelum dibentuk menjadi barang kerajinan tangan.

Flameworking itu nantinya pecahan kaca dipanaskan dengan alat bakar dengan suhu sampai 1000 derajat celcius lalu dibentuk ulang dengan tangan,” tutur Ivan.

Foto: Contoh Produk Otakatik Creative Workshop/ Dok: Otakatik Creative Workshop
Foto: Contoh Produk Otakatik Creative Workshop/ Dok: Otakatik Creative Workshop

Sementara itu, metode cold working dilakukan dengan cara langsung memotong limbah kaca tanpa melalui proses pemanasan. Setelah itu, limbah kaca tersebut dapat diukir dengan motif-motif tertentu.

“Kalau cold working biasa kami mengolah limbah botol kaca dengan kami potong lalu bagian yang dipotong kami poles hingga tidak tajam lalu kami beri sentuhan artistik dengan sand blasting maupun grafir,” lanjut Ivan.

Secara sekilas, barang-barang kerajinan tangan buatan Ivan memang tampak rapuh rentan rusak. Meski begitu, barang-barang tersebut memiliki desain yang indah dan kental dengan nuansa artistik.

banner-1-01

Ivan menjual barang-barang hasil daur ulang limbah sampahnya ini dengan harga yang cukup variatif, yaitu kisaran Rp30 ribu hingga jutaan rupiah. Semakin sulit dibuat, barang tersebut biasanya akan dibanderol dengan harga yang semakin mahal.

“Produk yang kami buat berharga kisaran Rp30 ribuan hingga jutaan rupiah. Tergantung tingkat kesulitan dan nilai artistiknya,” ucap Ivan.

Baca juga: Indotrading dan Google Jalin Kerja Sama untuk Bantu Pengusaha Indonesia

Sempat Kesulitan Pasarkan Produk Baru

Berkat konsistensi serta kerja keras Ivan, kini barang kerajinan tangan buatannya semakin dikenal banyak orang. Meski begitu, bukan berarti perjalanan bisnis yang digelutinya ini bebas kendala. Ivan mengaku hasil kerajinan tangan Otakatik Creative Workshop awalnya tidak mudah diterima oleh masyarakat.

Produk daur ulang dari limbah kaca belum begitu populer di pasar dalam negeri. Apalagi, masyarakat Indonesia diakui Ivan tidak semuanya paham akan barang-barang yang artistik.

“Memperkenalkan produk ke pasar tidaklah mudah karena produk olahan dari limbah kaca belum terlalu populer di Indonesia,” ucap Ivan.

Foto: Contoh Produk Otakatik Creative Workshop/ Dok: Otakatik Creative Workshop
Foto: Contoh Produk Otakatik Creative Workshop/ Dok: Otakatik Creative Workshop

Tak hanya itu, Ivan pun sempat kebingungan menentukan harga jual. Pasalnya, produk daur ulang limbah kaca semacam ini masih tergolong jarang ditemukan di Indonesia.

“Produknya sama sekali baru maka untuk acuan harga kami cukup kesuliatan. Berapa harga yang harus kami tentukan dan apakah akan diserap oleh pasar?” ungkap Ivan.

Baca juga: Pernah Jadi Kuli Pasir, Kini Danu Sofwan Sukses Jadi “Radja Cendol” Beromzet 1,5 Mliliar

Namun hal itu tidak lantas membuat Ivan stagnan dalam berbisnis. Ia pun terus menciptakan karya-karya baru dengan berbagai model. Lama-kelamaan, Ivan pun akhirnya bisa menentukan harga yang sepadan untuk setiap produk daur ulang limbah kacanya ini.

“Namun masalah itu teratasi setelah beriringnya waktu, dimana kami mulai mengenal pasar dari pengalaman berinteraksi dengan pasar secara langsung,” kata Ivan.

Andalkan Promosi Lewat Media Sosial

Untuk membangun bisnisnya ini, Ivan menggelontorkan modal sebanyak Rp 5 juta. Uang itu berasal dari tabungannya. Modal ini akhirnya digunakan untuk membeli beberapa alat dan perlengkapan lainnya.

Foto: Contoh Produk Otakatik Creative Workshop/ Dok: Otakatik Creative Workshop
Foto: Contoh Produk Otakatik Creative Workshop/ Dok: Otakatik Creative Workshop

“Modal awal hanya kisaran Rp 5 juta karena kami lebih mengutamakan keterampilan untuk mengolah bahan, jadi tidak terlalu bergantung pada alat yang harus mahal,” ucap Ivan.

Sementara itu, bahan utama yang digunakan seperti limbah kaca dan botol bekas didapatkan Ivan secara cuma-cuma. Material itu dapat diperoleh dengan mudah di lingkungan sekitar rumah Ivan.

Baca juga: Strategi Bisnis Damn! I Love Indonesia yang Wajib Dicontoh Pengusaha Muda

“Bahan baku bisa dibilang hampir tidak perlu mengeluarkan biaya untuk mendapatkannya,” ujar Ivan.

Di awal merintis bisnis, barang-barang kerajinan tangan buatan Ivan hanya dikenal oleh beberapa orang. Penawarannya pun masih sebatas dari mulut ke mulut. Namun seiring perkembangan waktu, semakin banyak orang yang mengenal barang-barang kerajinan tangan buatannya.

Foto: Contoh Produk Otakatik Creative Workshop/ Dok: Otakatik Creative Workshop
Foto: Contoh Produk Otakatik Creative Workshop/ Dok: Otakatik Creative Workshop

Tak hanya itu, Ivan pun memanfaatkan kemajuan teknologi untuk memasarkan produk-produk buatannya. Beberapa tahun terakhir, Ivan pun mulai memanfaatkan media sosial untuk memasarkan barang-barang buatannya seperti aksesoris dan hiasan.

“Strategi bisnis masih kami kembangkan, dan kini kami lebih banyak berfokus pada publikasi via social media,” kata Ivan.

Sejak dibangun sekitar 5 tahun yang lalu, kini Otakatik Creative Workshop pun semakin banyak dikenal orang. Selain peranan pemasaran lewat media sosial, liputan dari berbagai media pun turut berpengaruh pada bisnisnya.

“Produk Otakatik sudah mulai lebih dikenal dengan adanya liputan dari berbagai media cetak, elektronik, maupun online,” ucap Ivan.

Foto: Contoh Produk Otakatik Creative Workshop/ Dok: Otakatik Creative Workshop
Foto: Contoh Produk Otakatik Creative Workshop/ Dok: Otakatik Creative Workshop

Hingga kini, sudah ribuan produk buatan Ivan yang terjual. Pembeli yang datang tidak hanya berasal dari penduduk lokal, namun juga pembeli mancanegara. Ivan mengatakan bahwa produk buatannya sudah berkali-kali dibeli oleh turis yang berkunjung ke Yogyakarta. Produknya pun tak hanya dijual di outlet-nya, namun juga ke beberapa toko di sekitar Yogyakarta.

“Belum memiliki outlet di luar lokasi Otakatik sendiri, kami ada konsinyasi ke beberapa toko di sekitar Jogja,” ungkap Ivan.

Baca juga: Damn! I Love Indonesia: Bisnis Kaos Ala Daniel Mananta yang Sudah Merambah Korea hingga Amerika

Kesuksesan yang diraih oleh Ivan ini tentunya tidak datang secara tiba-tiba. Untuk bisa menciptakan produk berkualitas dan unik, Ivan harus melakukan eksperimen berkali-kali. Apalagi, mengolah produk berbahan kaca tidaklah mudah. Ivan harus ekstra hati-hati agar material kaca tersebut tidak membahayakan dirinya.

“Pengalaman dan pengetahuan bagaimana untuk mengolah kaca tidaklah mudah didapatkan di Indonesia, kami bisa mencapai yang sekarang ini setelah melewati tahunan eksperimen,” tutur Ivan.

Foto: Contoh Produk Otakatik Creative Workshop/ Dok: Otakatik Creative Workshop
Foto: Contoh Produk Otakatik Creative Workshop/ Dok: Otakatik Creative Workshop

Ivan pun memandang peluang bisnis pengolahan limbah kaca ini masih memiliki prospek yang bagus di masa depan. Terlebih lagi, produk-produk yang dibuat dengan tangan atau handmade biasanya memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan produk yang dibuat dengan mesin.

“Peluang masih cukup luas, namun tidak bisa kita sandingkan dengan produk yang dibuat secara massal dengan mesin ataupun cetakan. Value produk kaca akan selalu lebih tinggi ketika dikerjakan dengan tangan,” ucap Ivan.

Baca juga: 3 Pengusaha Ini Berhasil Raup Omzet Ratusan Juta/Bulan Hanya dengan Modal Bambu

Di Indonesia, penggunaan metode flameworking ini masih sangat jarang digunakan. Bahkan, bisa dibilang bahwa Otakatik Creative Workshop merupakan salah satu pelopor metode pengolahan kaca dengan teknik flameworking.

Foto: Contoh Produk Otakatik Creative Workshop/ Dok: Otakatik Creative Workshop
Foto: Contoh Produk Otakatik Creative Workshop/ Dok: Otakatik Creative Workshop

“Otakatik merupakan pelopor metode olah pecahan kaca dengan teknik flameworking di Indonesia dan metode ini kami sebut dengan Recycled Glass Flameworking mendapat apresiasi cukup luar baik di dalam negri maupun luar negeri,” kata Ivan.

Untuk menjadi pengusaha yang sukses dalam industri kreatif, memang diperlukan keuletan serta kreativitas yang tinggi. Proses jatuh bangun adalah hal yang biasa. Hal yang paling penting adalah tidak menyerah pada hambatan serta terus berkarya.

“Terus berkarya dan tidak menyerah pada hambatan,” pungkas Ivan.

 

Penulis: Erlin Dyah Pratiwi    Editor: Erlin Dyah Pratiwi

0 Comments Lihat semua →


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *