Egar Putra: Bos Sepatu Chevalier yang Sukses “Jajah” 4 Benua

“Sukses itu ada 3 hal, pertama kerja keras, kedua smart, ketiga sedekah. Kerja keras itu bisa membuat kita sukses, smart mempermudahnya, dan sedekah mempercepatnya. Jadi kalau pengen sukses, banyak-banyaklah bersedekah. Jadikanlah bisnis itu semakin dekat dengan Tuhan, keluarga, dan sesama. Jangan jadikan bisnis menjauhkan dari segalanya,” ujar Egar Putra Bahtera.

Muda, sukses, dan punya jiwa sosial yang tinggi. Rasanya kata-kata itu cukup bisa mewakili sosok Egar Putra Bahtera. Pemuda berusia 25 tahun ini merupakan salah satu pengusaha sepatu kulit lokal yang menyasar kelas premium. Hingga kini, sepatu-sepatu buatannya sudah berhasil diekspor ke berbagai negara di Asia, Eropa, Australia, dan Amerika.

Lalu, bagaimana kisah Egar memulai bisnis sepatunya?

Baca juga: Hadi Santoso: Presdir BRI Syariah yang Pernah Jadi Penjaga Pintu Hotel

Layaknya anak muda penyuka sepatu lainnya, Egar pun  sangat hobi mengoleksi sepatu. Tak terhitung sudah berapa puluh pasang sepatu yang dibelinya sejak ia duduk di bangku SMA dulu. Karena keterbatasan uang yang dimilikinya saat itu, ia pun hanya mampu membeli sepatu berharga murah. Dalam hati, Egar bertekad untuk bisa memproduksi sepatu sendiri suatu hari nanti.

Foto: Egar Putra Bahtera, CEO Chevalier/ Dok: Indotrading.com
Foto: Egar Putra Bahtera, CEO Chevalier/ Dok: Indotrading.com

Dari SMA saya sangat suka sepatu. Saya mengoleksi sepatu yang murah karena uang yang terbatas. Nah, dari situ saya kepikiran kenapa tidak bikin sepatu someday,” ucap Egar kepada indotrading.com Senin, (3/11/2017).

Tekad itu terus dijaga hingga Egar berada di bangku kuliah. Saat itu, Egar merupakan mahasiswa di tingkat 2, Jurusan Teknik Pertambangan, Institut Teknologi Bandung (ITB). Pada tahun 2011, Egar pun meluncurkan produk sepatu buatannya yang diberi nama “Chevalier”.

Baca juga: Pertama Kali dalam Sejarah, Indonesia Jadi Tuan Rumah GMASA 2017

Start bisnis itu 2011 tapi saya risetnya dari tahun 2010 sekitar 9 bulan. Jadi, saya launching setelah riset,” kata Egar.

Nama Chevalier yang dipilih Egar ternyata memiliki filosofi tersendiri. Dalam bahasa Prancis, kata “Chevalier” memiliki makna ‘ksatria’. Seperti maknanya, ia berharap bahwa nama tersebut bisa membuat produk sepatunya menjadi tangguh dan bijaksana sehingga bisa memberikan dampak yang baik untuk lingkungannya.

Foto: Egar Putra Bahtera, CEO Chevalier/ Dok: Indotrading.com
Foto: Egar Putra Bahtera, CEO Chevalier/ Dok: Indotrading.com

“Chevalier itu terinspirasi dari bahasa Prancis yang artinya ‘ksatria’. Nah, filosofinya saya pengen brand Chevalier ini tangguh seperti ksatria dan bijaksana sehingga bisa menjadi teladan bagi sekitarnya,” terang Egar.

Sebelum meluncurkan produk sepatu buatannya, Egar melakukan riset mendalam selama  9 bulan. Tak hanya mencari material yang bagus, ia juga mencari pengrajin yang memiliki visi dan misi yang sama dengannya. Berkat tekadnya yang kuat, ia pun dapat menemukan material serta pengrajin yang pas.

Baca juga: Modal Satu Juta, Pringgondani Raup Omzet Puluhan Juta dari Bisnis Pomade

“Proses risetnya itu saya gonta-ganti pengrajin, nyari pengrajin yang pas, riset bagaimana nyari kulit yang bagus sampai nemu pengrajin yang cocok dari segi visi-misi. Akhirnya kita bisa maju bareng hingga sekarang,” jelas Egar.

Sepatu Chevalier buatan Egar memang menyasar kalangan atas. Kualitasnya pun bisa dibilang premium. Untuk itu, sepatu buatan Egar ini tidak dibanderol dengan harga yang murah. Ia mematok sepatu buatannya mulai harga Rp900 ribu hingga kisaran Rp3 juta per pasang.

Foto: Sepatu Chevalier/ Dok: Indotrading.com
Foto: Sepatu Chevalier/ Dok: Indotrading.com

“Kalau sepatu cowok itu dari Rp1,65 juta sampai Rp2,35 juta untuk pasar lokal. Untuk pasar luar itu dari Rp2 juta hingga Rp3 juta. Kalau untuk sepatu cewek dari harga Rp900 ribu sampai Rp1,2 juta. Yang paling mahal itu produk Chevalier untuk perempuan yaitu Chevalier X Dian Sastrowardoyo karena ada sebagian uangnya itu buat sosial,” papar Egar.

Selain terbuat dari bahan-bahan kulit yang berkualitas, sepatu Chevalier buatan Egar pun memiliki desain yang unik dan up to date. Karena mutunya inilah sepatu Chevalier sudah berhasil diekspor ke mancanegara, yaitu ke negara-negara di Asia, Eropa, Australia, dan Amerika.

“Sudah masuk pasar luar negeri. Hampir ke semua benua, kecuali Benua Antartika sama Afrika,” ucap Egar.

Baca juga: Ivan Bestari Sulap Limbah Kaca Jadi Barang Bernilai Jutaan Rupiah

Tawarkan Sepatu Kulit Lokal yang Eksklusif

Salah satu ciri pengusaha yang sukses ialah mereka yang pandai membaca peluang. Egar termasuk salah satu pengusaha yang memiliki kemampuan itu. Ia melihat bahwa minat orang Indonesia untuk memakai brand lokal cukup tinggi, namun mereka masih belum bisa membedakan mana brand yang bagus dan mana yang tidak

“Sebenarnya orang lokal itu pengen pakai brand lokal, cuma mereka nggak tahu brand mana sih yang bagus. Akhirnya saya masuk dalam celah itu,” kata Egar.

Foto: Sepatu Chevalier/ Dok: Indotrading.com
Foto: Sepatu Chevalier/ Dok: Chevalier

Alasan inilah yang mendorong Egar untuk membuat sepatu kulit berkualitas. Meski mematok dengan harga mahal, sepatu Chevalier buatannya tetap laris manis diserbu pembeli. Bahkan, sepatu yang dibanderol dengan harga paling mahal justru yang paling laris.

“Nah, justru ternyata harga yang Rp1 juta ke atas yang paling laris. Jadi, waktu saya launching itu ada harganya dari Rp700 ribu hingga Rp 1,2 juta. Ternyata malah yang harga Rp1,2 juta yang paling laris,” terang Egar.

Baca juga: Hotel Amaris Pasar Baru: “Respon Indotrading Sangat Cepat!”

Bagi Egar, harga sepatu yang mahal tidaklah menjadi halangan bagi bisnisnya. Justru hal ini menjadi sebuah keunggulan. Harga yang mahal malah membuat produk sepatunya terkesan eksklusif dan tidak pasaran.

“Ada sebuah eksklusivitas yang ditawarkan dari produk ini sehingga akan mengena ke owner-nya. Kalau produk kita eksklusif, ya sampai sampai kapanpun eksklusivitas itu yang akan tertanam dalam diri si pemiliknya,” jelas Egar.

Foto: Sepatu Chevalier/ Dok: Indotrading.com
Foto: Sepatu Chevalier/ Dok: Chevalier

Sisi eksklusif dari sepatu Chevalier ini justru bisa menarik perhatian banyak orang. Setiap bulan, ratusan pasang sepatu pun berhasil terjual dengan semakin banyaknya permintaan yang datang.

Perjalanan bisnis dalam membangun sepatu Chevalier ini pun terus mengasah insting bisnis Egar. Setelah bisnis sepatu miliknya berjalan selama 2 tahun, Edgar pun mencoba untuk melakukan ekspansi ke bidang lain.

Baca juga: Fourspeed Metalwerks: Bisnis Aksesoris Beromzet Ratusan Juta yang Laris di Eropa hingga Amerika

“Saya sekarang punya 4 brand, pertama itu Chevalier premium, Canes itu yang medium, Sosia itu jam tangan, dan keempat adalah appareal namanya Monoka buat baju-baju basic.  Akibatnya, customer Chevalier melihat brand Sosia dan yang lainnya. Akhirnya dia beli, tapi tetep saja trademark-nya itu Chevalier,” papar Egar.

Ekspansi bisnis memang penting. Namun Egar tak ingin terburu-buru dalam melakukannya. Ia harus menunggu selama 2 tahun terlebih dahulu untuk memastikan brand Chevalier sudah kuat. Setelah itu, Edgar baru mantap melebarkan sayap bisnisnya dengan melahirkan Canes, Sosia, dan Monoka.

Foto: Sepatu Chevalier/ Dok: Indotrading.com
Foto: Sepatu Chevalier/ Dok: Chevalier

“Kita nggak boleh terburu-buru. Saya mengambil porsi yang lain itu setelah brand Chevalier berdiri 2 tahun,” ucap Egar.

Baca juga: Ingin Majukan UKM  Indonesia, Bank BTPN Kolaborasi dengan Google dan Indotrading

Jalin Kolaborasi Sosial dengan Dian Sastro Wardoyo

Meski produknya sudah diminati banyak orang, Egar tak lantas berpuas diri. Ia pun terus melakukan inovasi dalam bisnisnya. Salah satunya ialah dengan melakukan kolaborasi bisnis dengan salah satu public figure Indonesia, Dian Sastro Wardoyo. Aktris kenamaan Indonesia itu pun tertarik untuk bekerja sama dengan Egar.

“Kita ngobrol dan dia suka dengan sepatu saya. Terus kemudian dia nawarin gimana kalau kita kerja sama bareng karena kita cocok dari segi visi dan misi dan secara kualitas juga cocok ke semuanya,” terang Egar.

Melalui kolaborasi ini, Egar membuat edisi khusus Chevalier X Dian Sastro. Keuntungan dari penjualan produk sepatu tersebut akan seluruhnya disumbangkan untuk program Beasiswa Dian yang dinisiasi oleh Dian Sastro sendiri.

Foto: Kolaborasi Chevalier dengan Dian Sastro Wardoyo/ Dok: Yard Photography & Design
Foto: Kolaborasi Chevalier dengan Dian Sastro Wardoyo/ Dok: Yard Photography & Design& Design

“Profitnya itu full disumbangakan untuk menjadi Beasiswa Dian. Dia punya yayasan namanya Beasiswa Dian (Dian Scholarship), itu membiayai perempuan-perempuan untuk berkuliah. Nah, dana yang sudah terkumpul dari Chevalier X Dian Sastro yang mau kita sumbangkan itu sekitar Rp 30 jutaan,” ujar Egar.

Baca juga: Rahasia Danu Sofwan Raup Omzet Milyaran dari Bisnis Cendol

Selama kurang lebih 9 bulan, Egar menjalin kolaborasi dengan Dian Sastro. Karena tujuannya untuk misi sosial, Dian Sastro pun tidak mematok harga seperti layaknya mekanisme endorse yang kini sedang menjadi sebuah tren dalam bisnis online.

“Saya kolaborasi dengan Dian Sastro ini sekitar 9 bulan. Kerja sama dengan Mbak Dian ini free karena ada misi sosial di dalamnya,” kata Egar.

Foto: Kolaborasi Chevalier dengan Dian Sastro Wardoyo/ Dok: Yard Photography & Design& Design
Foto: Kolaborasi Chevalier dengan Dian Sastro Wardoyo/ Dok: Yard Photography & Design& Design & Design

Egar tak memandang kolaborasinya dengan Dian Sastro ini hanya demi kepentingan bisnis semata. Lebih dari itu, ia menganggap bahwa ini merupakan rezeki dan kemudahan dari Tuhan.

“Cara untuk mendapatkan rezeki banyak itu sudah tertulis di kitab suci, kalau mau rezekinya lancar bersedekah, membantu orang lain. Tapi ingat, yang balik dari sedekah kita belum tentu uang,” terang Egar.

Baca juga: Indotrading dan Google Jalin Kerja Sama untuk Bantu Pengusaha Indonesia

Setelah menggandeng Dian Sastro sebagai mitra bisnis, Egar pun semakin kebanjiran order. Sepatu Chevalier buatannya yang laris manis pembeli. Tak hanya itu, para ibu-ibu muda dari kalangan atas yang tadinya lebih suka belanja barang branded pun kini mulai tertarik membeli produk sepatu lokal seperti Chevalier.

“Dulu saya sangat kesulitan menggaet market ibu-ibu atau mamah muda lah ya kalau bahasa sekarang, usia 30-40 tahun. Karena ibu-ibu yang high class belanjanya barang branded semua. Mereka tidak melihat brand lokal, yang melihat brand lokal itu 30 tahun ke bawah. Dengan kolaborasi dengan Dian Sastro sebagai public figure,kita dapet marketnya,” papar Egar.

banner-1-01

Pernah Bagikan 100 Pasang Sepatu Gratis

Misi sosial yang dilakukan oleh Egar tidak hanya saat berkolaborasi dengan Dian Sastro. Jauh sebelum itu, Egar pernah membuat program sosial dengan cara membagikan 100 pasang sepatu Chevalier gratis ke sebuah daerah paling miskin di Halmahera, Maluku Utara.

Movement pertama saya waktu itu adalah untuk Halmahera. Saya yakin di Jawa sudah banyak sekolah yang dibantu. Saya tes di Indonesia Timur, dapat salah satu distrik yang paling miskin di Halmahera. Saya dapetin datanya dari salah satu NGO. Nah, kemudian saya nyumbang 100 sepatu,” kenang Egar.

Baca juga: Pernah Jadi Kuli Pasir, Kini Danu Sofwan Sukses Jadi “Radja Cendol” Beromzet 1,5 Miliar

Sepatu kulit Chevalier buatan Egar memang dikenal memiliki kualitas premium dan dibanderol dengan harga mahal. Oleh karenany, biasanya sepatu-sepatu itu dipakai oleh kalangan atas. Namun, melalui program sosial ini Egar seakan ingin mendobrak itu semua. Ia ingin membuat orang-orang di daerah terpencil yang jauh dari hiruk-pikuk ibukota bisa merasakan bagaimana rasanya memakai sepatu yang bagus.

Foto: Sepatu Chevalier/ Dok: Chevalier
Foto: Sepatu Chevalier/ Dok: Chevalier

“Chevalier itu sepatu premium. Orang kota aja belum tentu bisa pake karena harganya. Saya ingin distrik termiskin di sana merasakan Chevalier dan saya kasih mereka secara gratis,” ujar Egar.

Rupanya niat Egar untuk memberikan sumbangan 100 pasang sepatu ini memang ingin dilakukan secara maksimal. Tak hanya memberikan sepatu-sepatu Chevalier terbaiknya, ia pun membuat packaging yang unik dari bahan antiair yang berbentuk goody bag.

Baca juga: Strategi Bisnis Damn! I Love Indonesia yang Wajib Dicontoh Pengusaha Muda

“Selain itu packaging-nya bukan box karena kalau box pasti kebuang. Jadi, packaging-nya itu tas goodybag dan saya sesuaikan dengan kebutuhan di sana dan bahan tasnya itu water resistant,” kata Egar.

Egar pun tak lupa menuliskan kata-kata pemantik semangat dalam tas goody bag itu. Tujuannya ialah agar anak-anak yang mendapatkan sepatu Chevalier darinya itu bisa semangat ke sekolah sehingga bisa meraih cita-citanya di masa depan. Bahkan Egar berharap suatu hari nanti ada salah satu anak yang bisa meneruskan apa yang dilakukan oleh Egar sekarang ini.

Foto: Sepatu Chevalier/ Dok: Indotrading.com
Foto: Sepatu Chevalier/ Dok: Indotrading.com

“Di tas itu saya tulisin quotes yaitu ‘Semangatku Secerah Sang Mentari, Cita-Citaku adalah Janjiku’. Jadi, setiap hari mereka berangkat sekolah dan baca quotes itu, dia yakin kalau hal yang dilakukannya benar. Yang saya harapkan paling nggak ada satu anak dari 100 anak yang saya kasih sepatu, nanti bisa nerusin apa yang saya lakukan,” terang Egar.

Baca juga: Damn! I Love Indonesia: Bisnis Kaos Ala Daniel Mananta yang Sudah Merambah Korea hingga Amerika

Laris Manis di Asia, Eropa, Australia, dan Amerika

Semakin hari, bisnis sepatu Chevalier besutan Egar pun semakin berkembang. Bahkan, kini ia juga mulai melahirkan brand lainnya seperti Canes, Sosia, dan Manoka.

Meski bisnisnya telah berjalan lancar, tak banyak yang tahu kalau Egar tidak memiliki karyawan tetap. Sebanyak 25 karyawan yang membantunya merupakan karyawan outsource, yaitu 20 orang pengrajin dan 5 orang untuk bagian operasional.

“Semua outsource. Kalau pengrajin sekitar ada 20 orang itu tersebar ada di Jawa, Bandung, dan Jakarta. Nggak satu tempat karena brand saya kan ada sepatu, jam tangan, kaos, dan lain sebagainya.  Kalau untuk karayawan outsource seperti kurir, admin, atau fotografer itu sekitar 5 orang,” kata Egar.

Foto: Sepatu Chevalier/ Dok: Indotrading.com
Foto: Sepatu Chevalier/ Dok: Indotrading.com

Di samping itu, sepatu Chevalier buatan Egar tak hanya diminati oleh pasar dalam negeri. Sepatu kulit yang menyasar kalangan atas ini pun laris manis di luar negeri. Tak hanya negara-negara di kawasan Asia, negara-negara di belahan dunia lain seperi Australia, Amerika, dan Eropa pun sudah kerap kali membeli sepatu Chevalier buatannya.

Baca juga: 3 Pengusaha Ini Behasil Raup Omzet Ratusan Juta/Bulan Hanya dengan Modal Bambu

“Kita sudah memasarkan ke Eropa, Norwegia, dan Jerman. Mereka belinya customer perorangan. Inggris sudah, Amerika juga sudah, bahkan kita punya salah satu partner di sana. Kita pernah rekor menjadi brand paling laris di website dia. ASEAN juga sudah. Thailand, Malaysia, Singapura, Australia juga sudah,” papar Egar.

Siapa sangka, sepatu buatan pemuda kelahiran Semarang, 5 November 1991 ini diawali dengan modal sekitar Rp10 juta saja. Uang modal ini didapatkan Egar dari hasilnya berbisnis baju dan jaket Pre Order.

Foto: Egar Putra Bahtera, CEO Chevalier/ Dok: Indotrading.com
Foto: Egar Putra Bahtera, CEO Chevalier/ Dok: Indotrading.com

“Sebelum Chevalier, saya sebenarnya punya bisnis Pre Order baju dan jaket. Terus saya kumpulin uang dari bisnis itu dan modal untuk Chevalier tidak sampai Rp 10 juta,” kata Egar.

Di pasar dalam negeri, persaingan industri sepatu lokal cukup ketat. Namun berkat kerja keras serta komitmennya untuk terus menjaga kualitas produk, akhirnya sepatu Chevalier buatan Egar bisa diekspor ke berbagai penjuru negara.

Baca juga: Meski Masih Muda, 4 Pengusaha Sepatu Ini Berhasil Ekspor Sepatu hingga ke Eropa

Selain itu, Egar pun rajin mengikuti berbagai pameran di luar negeri. Semakin banyak pameran yang diikutinya, produknya pun semakin dikenal masyarakat luas. Bulan ini, Egar bahkan akan mewakili Indonesia di ajang Capsules New York di Amerika Serikat.

Foto: Sepatu Chevalier/ Dok: Chevalier
Foto: Sepatu Chevalier/ Dok: Chevalier

“Januari 2017 ini saya mengikuti Capsules New York. Saya mewakili Indonesia dan didukung oleh Kementerian Perdagangan,” ungkapnya bangga.

Bagi Egar, hal yang membuatnya bahagia bukan hanya sekadar deretan angka omzet yang berhasil didapat. Namun seberapa banyak ia bisa memberikan dampak positif bagi orang-orang sekitarnya. Untuk itu, ia lebih suka disebut seorang sociopreneur dibandingkan dengan seorang pengusaha.

Sociopreneur itu adalah bisnis bisa hebat kalau dia sudah memberikan dampak kepada orang banyak. Kalau nyari duit doang semua orang juga bisa. Nah, dari sociopreneur itulah saya belajar kalau bisnis yang baik itu adalah bisnis yang bermanfaat,” pungkas Egar.

 

Reporter: Kumi Laila      Penulis: Erlin Dyah Pratiwi

0 Comments Lihat semua →


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *