Diam-Diam Ekspor Sepatu Indonesia Menyumbang Devisa 4 Miliar USD

Untuk ketiga kalinya, Pameran World of Digital Print kembali digelar di JI Expo Kemayoran pada Kamis (12/5). Berbeda dengan tahun sebelumnya, kali ini pelaksanaan pameran World of Digital Print diselenggarakan bersamaan dengan Pameran INDO Leather & Footwear 2016 yang sudah sebelas kali diselenggarakan di Indonesia.

Krista Exhibitions selaku panitia acara mengumumkan bahwa pameran yang digelar mulai 12 s.d. 14 Mei 2016 ini terbuka untuk umum dari pukul 10.00 hingga 19.00 WIB. Kedua acara ini juga turut mengundang beberapa negara seperti Brazil, China, India, Italia, Malaysia, Taiwan, Thailand, dan Vietnam.

Menurut penuturan Eddy Wijanarko selaku Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional Asosiasi Persepatuan Indonesia, bisnis sepatu di Indonesia mengalami kenaikan yang begitu pesat sejak tahun lalu, meskipun Indonesia masih terbilang di bawah Vietnam. Posisi Indonesia yang masih aklah dengan Vietnam ini disebabkan karena keikutsertaan Vietnam sebagai anggota Trans-Pacific Partnership.

Pangsa pasar ekspor sepatu Indonesia yang paling utama ialah Amerika Serikat. Persentase ekspor sepatu ke Negeri Paman Sam ini selalu naik dari tahun ke tahun. Pada 2011, Indonesia bisa memberikan persentase ekspor sepatu ke Amerika Serikat sebesar 18% sedangkan pada tahun 2015 yang lalu persentasenya sudah mencapai 28,2%.

ekspor sepatu dalam negeri memiliki masa depan cerah

Eddy mengakui bahwa sumber devisa Indonesia yang dihasilkan oleh ekspor sepatu ke mancanegara bisa bernilai hingga 4 Miliar USD. Sejak 5 tahun yang lalu, Indonesia telah mampu mengembangkan sektor ekspor sepatunya, terutama ke Amerika Serikat, Belgia, dan China sebagai 3 negara penerima ekspor sepatu Indonesia terbesar secara berurutan. “Kami tidak pernah menyangka bahwa akhirnya Indonesia bisa mengekspor sepatu ke China, padahal industri mereka sangat besar,” ujar Eddy Wijanarko.

Keadaannya justru agak  berbalik bagi industri grafika atau percetakan Indonesia. Dalam kata sambutannya, Jimmy Juneanto selaku Ketua Umum DPP Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI) menyatakan bahwa pangsa pasar ekspor hasil cetak Indonesia masih sangat minim. Meski jika ditinjau dari bahan baku cetaknya yakni kertas pulp dari bubur kayu, Indonesia memiliki kesempatan yang sangat besar menjadi negara produsen hasil cetak terbesar di dunia.

 

pameran world digital printing

“Kami iri dengan apa yang dituturkan oleh Bapak Eddy Wijanarko dimana industri sepatu Indonesia sudah mendapatkan pasar yang sangat besar di dunia internasional. Ekspor hasil cetak Indonesia pada tahun lalu hanya mencapai angka 200 juta dollar saja,” kata Jimmy Juneanto.

Beberapa kalangan menilai bahwa industri percetakan di Indonesia memang sudah banyak yang terkikis di era digital saat ini. Oleh karenanya, usaha percetakan yang maju di Indonesia saat ini justru di bidang digital printing. Menurut Jimmy, lesunya industri percetakan di dalam negeri ini harus menjadi perhatian pemerintah agar daya saing produk-produk hasil cetak Indonesia bisa mendapatkan tempat yang layak di dunia internasional. Industri percetakan hanya mampu bertahan jika industri media cetak dan industri kemasan barang bisa bertahan dari gempuran era digital. (leo/editor: erlin)

0 Comments Lihat semua →


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *