Pendiri Wardah: Membangun Bisnis Tidak Dengan Cara Instan

Membangun usaha atau bisnis memerlukan kerja keras dan tidak gampang menyerah. Hal ini juga berlaku bagi Nurhayati Subakat, pendiri merek kosmetik lokal, Wardah.

Dikutip dari Harian Kompas, Senin (20/6/2016), Nurhayati menceritakan bagaimana ia harus bersusah payah mendirikan produk kosmetik bermerek Wardah. Wardah kini adalah salah satu pemain besar di industri produk kosmetik di dalam negeri berlabel halal.

Wanita kelahiran Padang Panjang, Sumatera Barat, 27 Juli 1950 itu mengatakan kesuksesan yang diraih Wardah bukan sekedar didorong momentum ketika tren berhijab tumbuh pesat di Indonesia. Label ini terus dikembangkan sejak pertama diluncurkan tahun 1995. Nurhayati sendiri mulai merintis bisnis produk kecantikan sejak 1985.

Baca juga: Modal Rp 3 Juta, Kini Afrizal Raup Rp 100 Juta/Bulan Jual Casing HP

“Tahun 1985 saya mulai membuat produk perawatan rambut. Ketika itu, saya bisa bikin barang berkualitas, tetapi belum bisa jualan jadi saya cari tenaga-tenaga penjual. Alhamdulillah tak sampai satu tahun hampir semua salon di Tangerang, sekitar tempat produksi saya sudah pakai produk itu,” Tutur Nurhayati.

Setelah sukses memasarkan produknya di salon dekat tempat produksi, 5 tahun kemudian atau tepatnya di tahun 1990, Nurhayati membangun sebuah pabrik produk perawatan rambut. Kemudian ia memberikan merek produk itu dengan nama Putri.

“Pasar untuk produk perawatan rambut salon waktu itu saya produksi sebenarnya terbatas. Produk salon ini dijual secara business to business, bukan di pasar ritel,” tambahnya.

Meluncurkan Produk Wardah

Berlanjut di tahun 1995, Nurhayati kemudian memberanikan diri untuk terjun lebih dalam di industri kosmetik di dalam negeri. Akhirnya ia meluncurkan produk kosmetik dengan merek Wardah sebagai produk kosmetik halal. Kenapa memilih terjun di industri kosmetik berlabel halal? Nurhayati punya alasannya.

Foto: (kanan) Nurhayati Subakat/Dok: Wikipedia
Foto: (kanan) Nurhayati Subakat/Dok: Wikipedia

“Pasar yang lebih luas itu tentu produk perawatan kulit dan dekoratif (riasan). Tetapi tidak mudah buat saya keluar dengan produk baru dan langsung bersaing dengan merek-merek kosmetik lokal yang sudah besar waktu itu. Selain itu saya juga belum punya pengalaman di ritel. Ketika itu, saya melihat produk kosmetik untuk Muslim sebagai pasar yang belum digarap, nice market. Jadi, pertama diluncurkan, Wardah pakai tagline produk halal. Tentu ada tanggung jawab di situ. Ada proses seleksi bahan kosmetik yang halal dari awal,” paparnya.

Namun ternyata, Nurhayati mengakui, memasarkan produk kosmetik Wardah tidaklah mudah, bahkan bisa dibilang saat itu gagal total. Untungnya, penjualan produk perawatan rambut dengan merek Putri tetap berjalan. Sehingga estimasi kerugian yang diderita Nurhayati bisa ditekan dan produksi Wardah tetap berjalan.

“Baru pada tahun 1997 Wardah bisa jalan sendiri, tidak jadi parasit lagi buat perusahaan,” katanya.

Diceritakan Nurhayati, penjualan Wardah ketika itu ditangani dua distributor yang menjual secara langsung atau direct selling dan multilevel marketing. Sayangnya performa penjualan Wardah masih turun naik. Di tahun 2003, penjualan Wardah turun. Akhirnya sejak saat itu, Nurhayati memilih agar keluarganya yang menghandle seluruh kegiatan operasional penjualan. Dua anaknya mulai bergabung di perusahaan, sedangkan sang suami, Subakat Hadi membantu di bagian manajemen.

“Alhamdulillah, setelah kami pegang sendiri, rata-rata tiap tahun tumbuh di atas 50%, bahkan pernah sampai 100%. Sekarang penguasaan pasar Wardah sduah bisa menguungguli produk-produk industri lokal yang terbilang besar di Indonesia. Pertumbuhan 100% terjadi pada 2012-2013. Pada 2014 masih tubuh 50%, tahun lalu juga masih tumbuh pesat,” jelasnya.

Sekarang produksi komestik Wardah dilakukan di dua pabrik yang berada di Kawasan Industri Jatake, Tangerang. Luas total pabrik dan gudang mencapai 6,7 hektar dan perusahaan ini memiliki karyawan sekitar 7.000 orang.

Membangun Bisnis Tidak Dengan Cara Instan

Nurhayati mengakui kesuksesan yang diraihnya dalam membangun bisnis kosmetik bermerek Wardah tidaklah mudah. Diperlukan waktu yang cukup lama hingga Wardah bisa dikenal oleh masyarakat Indonesia. Di tahun 2009 Nurhayati mengubah kemasan, tagline, bentuk logo. Hal itu dilakukan agar Wardah terkesan lebih modern dan lebih dikenal lagi oleh masyarakat.

Kemudian perubahan lain juga dilakukan seperti menggunakan iklan dengan melibatkan model berhijab dan tidak berhijab. Cara ini dilakukan agar produk Wardah bisa digunakan siapa saja. Karena memiliki label halal, Nurhayati menghindari pembuatan produk kosmetik Wardah dari kandungan hewani dan alkohol. Kandungan hewani dan alkohol juga kerap menimbulkan alergi pada kulit manusia.

Nurhayati lalu menceritakan, dalam perkembangannya, penjualan Wardah terus mengalami peningkatan terutama dipicu pesatnya tren hijab. Booming Hijabers ditambah tumbuhnya kelas menengah membuat produk Wardah laris manis di pasar ritel.

“Akan tetapi tren itu tidak dimanfaatkan Wardah secara instan. Label ini kami sudah dibangun jauh-jauh hari. Sejak 2009, kami juga sudah menggarap pemasaran secara masif di seluruh lini. Saya rasa tidak ada jalan instan untuk memanfaatkan momentum,” tekannya.

Baca juga: Kisah Sukses ‘Bos Kerupuk’ Harry Susilo Bangun Usaha Sekar Group

Kini Wardah telah benar-benar menjadi pemain besar di industri kosmetik di dalam negeri. Sebagai ucapan rasa terima kasihnya dengan pencapaian Wardah saat ini, Nurhayati mengalokasikan 10% dari keuntungan penjualan untuk kepentingan sosial seperti beasiswa. Kemudian Nurhayati juga aktif membekali tenaga penjual di toko agar memiliki kemampuan berwirausaha. “Tiap bulan saya keliling kedua kota, khusus untuk kegiatan pembekalan tersebut,” ucapnya.

Nurhayati tetap berharap, perusahaan yang ia dirikan bermanfaat bagi orang banyak. Oleh karena itu, ia akan terus meningkatkan terutama dari sisi kualitas produk yang dihasilkan. Ia juga tidak segan memberikan pelajaran berharga bagaimana susahnya ia membangun Wardah hingga meraih sukses saat ini.

“Kalau hanya memikirkan diri sendiri ketika ada perusahaan multinasional menawarkan perusahaan ini, ya sudah dijual saja. Tetapi bagi saya, itu akan mebuat hidup tidak ada artinya. Kami menolak. Kita bisa kok bersaing dengan perusahaan multinasional di pasa domestik. Itu visi lain Wardah,” pungkasnya.

 

Sumber   : Kompas

Editor      : Wiji Nurhayat

0 Comments Lihat semua →


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *