Agustinus: Berawal dari Office Boy kini Sukses Menjadi Pengusaha Fire Safety

“Sukses hanya milik orang-orang yang kerja keras, tahan banting dan tidak pernah takut untuk gagal.”

Ya, sukses milik siapapaun yang menginginkannya, kesuksesan tidak dapat diukur dari latar belakang seseorang apakah dia lahir dari keluarga yang berkecukupan, ataukah dia memiliki IPK tinggi saat lulus dari bangku kuliah. Kesuksesan tidak hanya melulu ditentukan latar belakang darimana ia lahir, melainkan sukses dapat ditentukan dari seberapa keras ia berjuang, seberapa besar ia memiliki tekad yang kuat, kemauan yang tinggi dan seberapa tangguh ia bangkit dari kegagalan.

Hal inipulalah yang mendorong sosok Agustinus. Ia memiliki tekad kuat untuk merubah nasib rela meninggalkan kampung halamannya di Flores, lalu kemudian menembus gemerlapnya Ibu Kota dan kini sukses menjadi pengusaha fire safety yang beromzet ratusan juta. Tekad yang kuat, menjadikan Agustinus tangguh dari kegagalan yang berulang kali menempanya.

Pada Indorading.com Agustinus pun bercerita bagaimana lika-liku kihudapnnya menuai sukses. Lalu seperti apa perjalanan sukses Agustinus menjadi seorang pengusaha Fire Safety?

Mengawali Karir Sebagai Office Boy

Kisah perjalanan hidup Agustinus (41) boleh dibilang mirip cerita dalam sinetron. Belasan tahun yang lalu, pria kelahiran Flores ini mengadu nasib ke Jakarta. Sesampainya di Jakarta Agustinus sempat terombang-ambing kerasnya Ibu Kota, iya yang berharap mendapatkan pekerjaan dengan bermodalkan ijazah Sekolah Menengah Atas (SMA) pun sempat berkali-kali ditolak oleh peusahaan yang ia lamar. Hingga akhirnya Agus panggilan akrab pria ini, diterima menjadi office boy di sebuah perusahaan swasta yang bergerak dalam penjualan fire safety.

Agus sadar betul, mencari pekerjaan di Jakarta sangat tidak mudah, apalagi hanya dengan modalkan ijazah SMA. Tetapi tekad kuat untuk merubah nasib pun mengukuhkan mentalnya untuk menjalani profesi sebagai office boy.

Baca juga: Anton Rasito Adi: Berawal Dari Penjual Telur di Pasar Kini Sukses Menjadi Bos Wallpaper

“Sebelum berada di titik seperti ini, saya bekerja sebagai OB (office boy) dulu, karena saya waktu itu ijazahnya cuma sampai SMA. Saya paham betul waktu itu nyari kerja di jakarta susah banget. Apalagi saya kan pendatang dari ujung timur (Flores), jadi ada kesempatan di depan mata saya ambil meskipun menjadi office boy, daripada nganggur,” cerita Agus.

Meskipun ia berprofesi sebagai office boy, lantas tidak membuat Agus menyerah dengan keadaan. Ia tidak sedikitpun menyerahkan masa depannya begitu saja. Dengan sangat rajin ia menjalankan profesinya secara totalitas, ia juga tidak pernah malu untuk belajar mengenai hal yang baru. Seiring berjalannya waktu karena ketekunannya dalam bekerja, Agus pun diganjar dengan dinaikan jabatannya. Yang semula hanya seorang office boy kemudian diangkat menjadi tukang pengirim barang.

“Akhirnya bos mempercayai kerja saya, jabatan saya naik dari office boy (OB) menjadi tukang pengiriman barang,” Agus mengenang.

Tantangan dalam pekerjaan baru pun menghampiri Agus. Ia yang terbiasa dengan sapu lantai dan lap pel, mula harus terbiasa dengan komputer.

Baca juga: Fakta Menarik Anne Avantie: Sang Maestro Desainer Kebaya Indonesia

“Ketika jabatan saya mulai berubah, saya dituntut harus bisa komputer, tapi apalah daya, saya yang hanya orang dari kampung tidak tahu cara menggunakan komputer. Tapi dengan sabar Ibu dewi, atasan saya di kantor yang mengajarkan saya. Saya punya semangat kuat untuk merubah nasib, makanya segala sesuatu yang baru saya pelajari dan bahkan saya catat,” Kenang Agus seraya mengulum senyum.

Merubah Nasib melalui Marketing

Agustinus sebelumnya tidak pernah memiliki cita-cita ingin menjadi seorang manager atau pemimpin dalam sebuah perusahaan. Pada waktu itu ia berfikir hal itu seakan tidak mungkin untuk dicapai oleh seseorang yang datang dari desa dan hanya lulusan Sekolah Menengah Atas. Hanya satu yang selalu menjadi pegangan hidupnya, ia ingin merubah nasibnya agar lebih baik lagi, dan untuk mencapai itu ia berfikir harus pandai dalam segala hal dan jeli melihat peluang.

Pada saat ia bertanggung jawab sebagai pengirim barang, Agus ternyata tertarik dengan marketing, secara diam-diam ia mempelajari bagaimana cara menjadi seorang marketing. Ia banyak bertanya pada rekannya yang menjadi marketing. Ternyata tidak butuh lama, Agus pun akhirnya tahu bagaimana menjadi seorang marketing, bahkan ia sempat mempraktekannya dan hal itu menyenangkan. Kemampuan Agus dalam pemasaran pun akhirnya dikethaui oleh atasannya, dan tepat pada tahun 2003 Agus kemudian dipindahkan ke bagian staf marketing.

“Saya sangat bersyukur, ternyata apa yang saya pelajarai membawa saya ke dalam situasi yang lebih baik, dari office boy, menjadi pengantar barang, kemudian saya diangkat sebagai staf marketing,”

Menjadi seorang marketing ternyata tidak seperti bayangannyanya. Agus benar-benar belajar dari nol dan banyak kesulitan yang harus dihadapi. Upah gaji yang sangat minim, mengharuskannya untuk berhemat selama ia menjalankan tugas. Agus pun harus keliling mendatangi kantor kantor dan perusahaan besar yang ada di Jakarta, dengan berjalan kaki. Tidak jarang kakinya pun menjadi lecet dan luka.

“Saya keliling ke setiap perusahaan yang ada di jakarta, hanya untuk memberikan kartu nama saya. Saya melakukan semuanya dengan jalan kaki, tidak pake kendaraan karena waktu itu penghasilan saya amsih sangat minim, hingga kaki saya luka-luka,” tuturnya.

Perjuangan Agus ternyata tidak sia-sia, rasa sakit dari luka kakinya karena berjalan jauh untuk menjajakan jasanya, berbuah hasil. Perlahan banyak customer dari perusahaan besar yang meliriknya.

“Perjuangan saya akhirnya nggak sia-sia, kartu nama saya mulai dilirik, dan banyak perusahaan-perusahaan akhirnya beli barang ke kita,” tamabahnya diiringi senyum senang.

Selama tujuh tahun Agus memberikan kontribusi yang begitu besar untuk perusahaan, banyak client dari perusahaan ternama membeli produk-produknya. Seiring berjalan waktu, karena puas dengan kinerja yang diberikan oleh Agus, pada tahun 2006 ia kemudian diangkat sebagai manager marketing oleh perusahaannya. Namun sayang, baru saja satu hari ia menjabat sebagai manager marketing, Agus diberhentikan dari pekerjaannya karena ada beberapa masalah yang menyandung perusahaannya.

“Baru satu hari saya menjabat sebagai manager marketing, saya dipecat. Karena ada beberapa masalah perusahaan menyangkut dengan departemen ketenagaerjaan,” ujarnya mengingat.

Baca juga: Worcas Kopi: Tawarkan Kopi Nusantara Berkelas Duni

Ternyata bukan dirinya saja yang harus menelan pil pahit tersebut, dua rekannya yang lain yakni Dewi dan Tati pun merasakan hal yang sama. Pada waktu itu, Agus merasa sangat bingung karena kehilangan pekerjaan, sementara masih ada anak dan istrinya yang juga membutuhkan biaya hidup.

“Gimana saya biayain anak istri saya, sementara gaji saya selama 7 tahun bekerja di sana kan setiap bulannya cuma Rp.900.000 itu pas-pasan banget untuk kebutuhan hidup saya dan anak istri. Jadi saya ngga punya tabungan untuk bertahan hidup,” imbuhnya.

Melihat kebinguangan yang dirasakan oleh Agus, Dewi dan Tati akhirnya mengajak Agus untuk kembali bangkit, mereka bertiga kemudian nekat mendirikan usaha sendiri yang bergerak di bidang yang sama (fire safety).

Ketika Agus memutusakn untuk mendirikan usaha sediri, banyak pihak yang meragukanya, apalagi melihat background pendidikan Agus yang hanya lulusan SMA. Namun ia tidak gentar ia justru semakin termotivasai.

“Kita banyak dicibir dan diremehkan. Tapi kita tidak takut, kita tetap pede mendirikan usaha sendiri,” ujar Agus.

Karena tidak memiliki modal untuk menjual produk sendiri, mereka pun mengawali usahanya sebagai trader untuk sebuah pabrik fire safety.

“Kita awalnya jadi trader dulu untuk sebuah pabrik fire safety,” tuturnya.

Doc: Google

Berkat pengalaman marketing yang dimiliki, tidak butuh lama bagi mereka untuk mencari customer. Ditambah ada beberapa customer yang dulu sempat menggunakan jasa Agus.

Namun, malang tak dapat ditolak, baru saja Agus dan kedua rekannya bernafas lega karena sudah memiliki pekerjaan, mereka justru dihianati oleh mitra kerjanya di pabrik tersebut, satu persatu customer Agus diambil alih oleh pihak pabrik dan melarang mereka menghubungi Agus untuk pembelian. Setelah terungkap, Agus kemudian memutuskan untuk menarik diri dari kerjasama tersebut.

“Kita dihianati, customer-customer kita dicut untuk jangan menggunakan jasa kita, nah akhirnya kami menarik diri untuk tidak kerjasama dengan mereka,” cerita Agus.

Setelah dikhianati oleh mitra bisnisnya, Agus yang kembali berjuang membangun usahanya secara independent bersama kedua rekannya pun lagi dan lagi dihadapkan oleh kemalangan, ia harus menelan pil pahit, ketika perushaannya yang sudah mulai berjalan sendiri dan memilki customer setia, kembali dirugikan oleh rekan kerja yang sudah dipercayainya. Akan tetapi sepertinya tidak ada kata “Kapok” dalam kamus kehidupan Agus. Ia semakin termotivasi untuk terus membangun usahanya. Bahkan ia merelakan beberapa aset kantornya berpindah tangan pada rekan kerja yang sudah menghianatinya.

“Saya dan bu Dewi merelakan itu, anggap saja saya nyumbang buat mereka yang menghianati kami, karena kami yakin, kerja bener, jujur, rizky pun akan semakin melimpah, rizky sudah ada yang mengatur,” pungkasnya optimis.

Raih Omzet 600 juta perbulan setelah dikhianati bertubi-tubi

“Formula For success? It’s quite simple, double your rate of failure!”

Rasanya kalimat itu sangat tepat disematkan pada sosok Agus dan kedua rekannya. Betapa tidak, ia terus bangkit dari hamabtan-hamabtan yang bertubi-tubi menghalangi perjuangannya mendirikan usaha.  Hasil memang tidak pernah menghianati proses. Pada tahun 2009 Agus dan kedua rekannya akhirnya berhasil membangun CV Wita Kharisma Jaya.

“Pada tahun 2009 akhirnya kita nyewa kantor yang sekarang kita tempati,” ucapnya riang.

CV Wita Kharisma Jaya ini tidak hanya menyediakan barang kebutuhan fire safety saja namun juga menyediakan apapaun yang berhubungan dengan proteksi kebakaran, seperti alat pemadam api dan hydrant box.

“Kita memang menyediakan barang yang berhubungan untuk proteksi kebakaran juga. Tapi trade market kita sendiri adalah fire safety. Selain itu yang berhubungan dengan pengelasan dengan plat juga bisa kita kerjakan, seperti box hydrant dan loker karyawan,”

Produk yang ditawarkan Agus memang berbeda dengan yang lain, ia menjual barang berkualiats premium. Untuk urusan kualitas Agus memang sangat selektif, dia ingin memberikan yang terbaik bagi customernya, bukan hanya memberikan pelayanan yang memuaskan saja, tapi Agus sadar betul kalau produk yang ia jual untuk menyangkut keselamatan nyawa sesorang.

“Ini kan fire safety jadi saya menjualnya harus benar-benar standar untuk kesalamatan, jadi tidak asal-asal menjual barang. Selain menyagkut nyawa orang, juga saya ingin memberikan kepercayaan pada pelanggan,” ungkapnya.

Untuk memenuhi standar internasional, tidak tanggung-tanggung Agus pun mendatangkan langsung produk yang akan dijualnya dari luar negeri, seperti Amerika, Jerman, Hongkong, Perancis dan Korea. Tida heran harga yang ditawarkanpun sesuai dengan kulaitas produknya.

“Kalau harga ya sesuai dengan kuliatas, tapi saya jamin produk saya tidak akan mengecewakan dan standart internasional,” imbuhnya.

Selain beberapa produk yang didatangkan langsung dari luar negeri, ada juga beberapa produk yang diproduksi sendiri oleh perusahaannya.

“Cuma sebagain sih brang-barang yang kita impor, tapi kalau unuk box hydrant, panel, itu kita bikin sendiri di sini,” tandasnya.

Memasang satndar internsional dengan kelas premium adalah salah satu komitmen Agus yang diterapkan dalam usahanya. Hal inipula lah yang membuat agus dipercaya oleh perusahaan besar untuk membeli produknya. Tidak tanggung-tanggung pengembang-pengembang terbesar di Indonesia adalah client setia Agus, sebut saja Podomoro Group dan Agung Sedayu.

“Yang sudah menggunakan produk kita sekala besar itu adalah, Podomoro, Agung Sedayu, groupnya Paramount, Sumarecon Group, Alam Sutra, Sinarmas, dan masih banyak lagi. Nah syukurnya nih mereka sudah percaya sama kita dan tinggal dijaga saja,” ujarnya Agus.

Bukan tanpa alasan kenapa pengembang-pengembang besar begitu setia menggunakan produknya. Karena kejujuran dan kualitas adalah modal Agus untuk menggaet hati mereka yang kini jadi pelanggannya. Tidak heran jika kini usaha agus berhasil mengantongi omzet ratusan juta rupiah perbulannya.

“Kalau kotor setiapbulannya bisa sampai 600 jutaan,” pungkas Agus mengkahiri.

Penulis: Kumi Laila

0 Comments Lihat semua →


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *